Kamis, 30 April 2020

[Book Review] LAUT BIRU KLARA




LAUT BIRU KLARA. Demikian judul novel ini. Sebuah judul yang terdiri atas tiga kata dan masing-masing kata, sesungguhnya merupakan nama dari tokoh ceritanya. 

Iya. Tokoh utama dari novel ini adalah Sea (sebuah kata dalam bahasa Inggris yang artinya ‘laut’), Biru, dan Klara. Merekalah yang sebenarnya menggerakkan cerita. Sea dan Klara muncul sejak awal cerita, sementara Biru baru muncul di tengah cerita. 

Selain dapat dimaknai sebagai gabungan nama para tokoh utamanya, Laut Biru Klara dapat dimaknai sebagai ‘Laut biru milik Klara’. Sesuai bangeeet dengan ceritanya. Sebab di laut dan pada laut itulah, kehidupan Klara berputar. Bersama dengan Sea, sang sahabat, Klara memang lahir dan mulai bertumbuh di Kampung Pesisir. Yang berada tepat di tepian laut biru tersebut. 

Lalu, siapakah Biru? Biru adalah salah seorang korban kapal tenggelam; yang berhasil diselamatkan penduduk Kampung Pesisir. Selama menunggu dijemput kapal penyelamat, ia dan adiknya ditampung di rumah Sea. 

Saat kapal penyelamat datang, Biru pun mengajak serta Sea dan Klara ke kota asalnya. Biru memang memiliki sebuah rencana besar. Setelah beberapa hari mengamati kebiasaan berenang Klara, Biru merasa yakin bahwa bocah istimewa itu bisa dipoles menjadi perenang profesional. 

Siapakah Biru sebenarnya? Apakah rencana besarnya tersebut berjalan mulus? Sementara Klara merupakan seorang penyandang autis? Apakah Sea dan Klara betah tinggal di kota, mengingat mereka sebelumnya tak pernah meninggalkan Kampung Pesisir sebentar pun? 

Kiranya untuk memperoleh jawabannya, kalian mesti membaca sendiri Laut Biru Klara ini. Maaf, ya. Di sini tak hendak kuberitahukan jawabannya. Tujuannya jelas supaya kalian membeli novel ini, dong. Hehehe .... 

Namun, begini. Perlu kusampaikan kepada kalian bahwa novel ini menarik. Temanya menyentuh. Yakni ajakan untuk memperlakukan para penyandang autis secara proporsional. Tidak menghina dan meremehkan, tetapi tidak pula sekadar mengasihani. 

Menurutku, pemilihan kampung nelayan sebagai latar tempat juga istimewa. Rasanya belum banyak novel yang mengeksplorasi latar tempat tersebut. 

Hanya saja bagiku, ada sedikit hal yang mengganjal. Rasanya nama Sea dan Klara kok kurang pas, jika disematkan pada tokoh-tokoh yang asli situ. Dalam kehidupan nyata, sulit membayangkan bisa terjadi. Andai kata nama Sea dan Klara diganti dengan nama-nama yang lebih “pribumi” (khas kampung Pesisir situ), tentu lebih membumi. 

Akhirul kata, bagaimanapun Laut Biru Klara merupakan bacaan yang menghibur dan bernutrisi. Menghibur sebab bisa mengajak pembacanya melakukan piknik virtual ke laut dan ke kampung nelayan terpencil. 

Bernutrisi sebab bisa menginspirasi dan menepuk bahu kita; mengingatkan bahwa di antara sesama manusia, kita mestinya saling menghargai. 

SPESIFIKASI BUKU 

Judul Buku: 
Laut Biru Klara 

Penulis: 
Auni Fa 

Penerbit: 
Metamind 

Tahun Terbit: 
2019  (Februari) 

Ukuran Buku: 
14 x 20 cm 

Tebal: 
vi + 330 hlm 

ISBN: 
978-602-9251-77-7



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah sudi meninggalkan jejak komentar di sini.