Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Desember 2021

Antologi Puisi NENG NING NUNG NANG

APA kabar? Kali ini kita berbincang tentang puisi, yuk. Tepatnya tentang puisi-puisi yang terhimpun dalam Antologi Puisi NENG NING NUNG NANG Menuju Satu Abad Tamansiswa 1922-2022. Yang penampakan buku fisiknya begini, nih.

 

Dokpri


Sebagaimana terjelaskan dalam judul, buku ini terbit untuk menyambut ultah ke-100 Tamansiswa. Sebagai salah satu bagian dari seluruh rangkaian acara Satu Abad Tamansiswa. Yang menginisiasi Institute Kahade, Buletin Neng Ning Nung Nang, dan Perkumpulan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS).

Tujuan penerbitannya untuk membangun kembali spirit kebangkitan Perguruan Tamansiswa, yang tersebar di seluruh Nusantara. Plus sebagai sarana komunikasi antargenerasi untuk mengenang dan mengenalkan kembali sosok Ki Hadjar Dewantara. Adapun bahasa sastra, terkhusus sastra berbentuk puisi, yang dipilih sebagai jembatan komunikasinya. 

Sungguh kebetulan yang tidak kebetulan bahwa saya bisa ikut menyumbang satu puisi untuk antologi ini. LOA. Law of Attraction. Mestakung. Semesta mendukung. Tepat pada saat rindu berpuisi, kok ya saya melihat informasi (undangan) untuk mengirimkan puisi dalam rangka satu abad Tamansiswa. Sungguh pucuk dicinta ulam tiba. 

Sebelum tenggat waktu habis (Maret 2020), saya bergegas mengirimkan tiga puisi kepada panitia. Eh, ternyata yang lolos kurasi hanya satu. Yup! Itulah sebuah puisi panjang berjudul "Nota Pengaduan" yang menempati halaman 22-23.

 

Dokpri

Dokpri

 

Perlu diketahui, dahulu sekali tatkala masih berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa, saya sering mencari cuan melalui puisi. Jadi, bolehlah saya disebut agak penyair. Hehehehe .... 

Mengapa agak penyair? Tidak bekas penyair saja supaya gamblang? Enggak, dooong. Saya 'kan belum pensiun dari menulis puisi. Hanya saja, sekarang lebih sering menulis nonfiksi dan sedang jarang banget berpuisi tersebab kondisi.  

Mari balik ke Antologi Puisi NENG NING NUNG NANG Menuju Satu Abad Tamansiswa 1922-2022. Hmm. Tentu saya amat senang dapat berkontribusi di dalamnya. Selain berkesempatan menyampaikan unek-unek terkait dunia pendidikan kita belakangan ini, berkesempatan pula menambah rekam jejak karya.

Alhamdulillah. Paling tidak motivasi hidup saya yang sedikit mengkeret jadi kembali mengembang. Andai kata tak satu pun puisi saya lolos kurasi, tentu saya patah hati. 

Benar sih, patah hati itu nama tengah saya. Akan tetapi, hambokyao kalau bisa tak usah patah hati lagi Ya Allah .... #malahcurhat 

O, ya. Puisi-puisi dalam buku ini ditulis oleh para penyair dari berbagai wilayah di Indonesia. Dari berbagai macam kalangan dan usia. Jumlah puisi dan penyair yang terlibat pun ratusan. Alhasil kalau dibaca-baca bagian biodata penyair, kita akan menjumpai eyang, pakdhe, budhe, om, tante, mas-mas, mbak-mbak, dan adik-adik. 

Saya terhenyak ketika melihat profil Adelina Saragih. Dua puisinya lolos kurasi. Keren 'kan? Terlebih ia masih duduk di bangku kelas VII. Waduh! Betapa jauuuh jarak usia saya dengannya. Hahaha!

 

Dokpri


Secara keseluruhan buku kumpulan puisi ini bagus dan inspiratif. Akan tetapi, patut disayangkan beberapa bagian di dalamnya mengalami salah ketik. Bukan satu dua melainkan satu dua tiga empat lima enam. 

Ada pula halaman yang kualitas cetakannya bikin sedih. Huruf-huruf tidak terlihat dengan sempurna. Setengahnya terlihat, setengahnya tidak. Untung masih bisa dieja-eja kalimatnya. 

Nah! Adakah di antara pembaca sekalian yang juga berkontribusi dalam antologi ini? Kenalan, yuk.

 

IDENTITAS BUKU

Judul:

Antologi Puisi NENG NING NUNG NANG Menuju Satu Abad Tamansiswa 1922-2022. 

Kurator:

Nyi Umi Kulsum

Ki Sigit Sugito

Ki Marwanto 


Penyunting:

Ki Pamuji Raharjo

Penerbit:

Kahade Institute Bekerja Sama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi DIY

 

Tahun Terbit:

2021 (Cetakan pertama)

 Ukuran Buku:

14,5 x 20,5

Tebal Buku:

xiv +238 hlm

ISBN:

9-786239-632946



Kamis, 14 Oktober 2021

[Book Review] Ketika Sekuntum Sumanasa ...

 

Penampakan bukunya

Ketebalan buku ini sedang-sedang saja. Tak begitu tipis, juga tak begitu tebal. Kalau ukurannya sih, sedikit lebih besar daripada buku pada umumnya.

Warna sampulnya kuning mencolok dengan desain yang bernuansa serius. Kesan serius kian kuat tatkala kita membaca judulnya. Terlebih ada label "saduran" segala.

Aha! Otak pun bersiap aktif mereka-reka, gerangan apa isi buku ini? Fiksikah? Nonfiksikah? Mengapa judulnya terasa tak kekinian?

Setelah membaca halaman "Sambutan" dan "Kata Pengantar", barulah saya paham sepenuhnya. Rupanya buku ini merupakan saduran dari sebuah kakawin yang berjudul Sumanasantaka (terjemahannya: Mati Karena Bunga Sumanasa) karya Mpu Monaguna.

Siapa Mpu Monaguna? Ia adalah seorang pujangga yang hidup pada masa Kerajaan Kediri (abad XIII). 

O, ya. Kakawin adalah puisi-tembang berbahasa Jawa kuno. Jadi, bahasa asli yang dipergunakan Sumanasantaka pastilah bahasa Jawa kuno. Namun, sumber untuk keperluan penyaduran ini adalah terjemahan dan kajian atas Sumanasantaka yang dilakukan oleh P. Worsley, S. Supomo, dan M. Fletcher yang bekerja sama dengan T. H. Hunter.

Tentu saya tak akan membahas detil siapa nama-nama tersebut. Kali ini kita sebut sepintas lalu saja. Sekadar untuk menjelaskan asal muasal buku yang sedang kita ulas.

***

Jadi, dada siapa yang kejatuhan sekuntum sumanasa? Sesuai dengan judul bukunya, sudah pasti dada Dyah Harini.  Melalui peristiwa itulah, ia kemudian terbebas dari kutukan sebagai manusia.

Iya. Sesungguhnya Dyah Harini memang bukan manusia biasa. Ia merupakan jelmaan bidadari. Bagaimana kronologinya hingga ia bisa dikutuk jadi manusia?

Begini ...

Suatu ketika Dewa Indra merasa cemas sebab perbawa batin Begawan Trna Windu yang sedang melakukan tapabrata mengganggu stabilitas kahyangan. Sang Raja Dewa itu over thinking. Ketakutan kalau Sang Begawan bermaksud merebut kekuasaannya.

Dewa Indra pun memutar otak untuk bisa menghentikan tapabrata Sang Begawan. Alhasil, diutuslah bidadari terjelita (Dyah Harini) untuk menggoda. Tentu tujuannya mengganggu agar tapabrata Begawan Trna Windu terhenti.

Akan tetapi, rencana licik Dewa Indra gagal total. Identitas asli dan "misi" Dyah Harini ketahuan. Sang Begawan murka dan mengutuk Dyah Harini agar tak bisa kembali ke kahyangan. Bidadari jelita itu pun memohon-mohon ampun.

Sang Begawan pada akhirnya bersedia mengampuni. Ia memberi jaminan bahwa Dyah Harini bakalan terbebas dari kutukan sebagai manusia kalau tertimpa bunga sumanasa. Dalam arti, ia bakalan meninggal dunia kalau kejatuhan bunga tersebut. Adapun meninggal dunia baginya = terbebas dari kutukan menjadi manusia.

Singkat cerita, kutukan berjalan sebagaimana adanya. Dyah Harini terlahir ke bumi sebagai putri Raja Widarbha. Namanya Putri Indumati. Ia menjadi kesayangan semua orang, terutama kesayangan kedua orang tua dan kakak lelakinya. Kecantikan yang berpadu dengan kepintaran plus minat besar pada puisi, valid menyebabkannya bisa memesona semua insan.

Ketika memilih jodohnya melalui sayembara pun, Putri Indumati memilih Pangeran Aja yang selain mahir berperang, ternyata mahir pula menggubah syair-syair indah bermakna.

Perlu diketahui, Pangeran Aja sebenarnya pasangan Dyah Harini (Putri Indumati) saat di kahyangan. Kelak pada akhir cerita dikisahkan bahwa sepeninggal sang istri yang wafat sebab tertimpa bunga sumanasa, Pangeran Aja baru mendapatkan informasi ini dari seorang maharesi utusan Begawan Wasistha.

Informasi tersebut lumayan meredam kedukaan Pangeran Aja. Mengapa? Sebab ia menjadi tahu kalau nanti bakalan bersatu lagi dengan sang istri di kahyangan. Ia hanya perlu menunggu. Tentu dalam rindu yang membelenggu.

Pada bab terakhir buku ini dikisahkan bahwa Pangeran Aja memutuskan menyusul sang istri 8 tahun kemudian. Iya. Memutuskan "menyusul" dengan cara menenggelamkan diri di sungai besar.

Bunuh diri? Begitulah dalam bahasa vulgarnya. Cara serupa juga ditempuh oleh ibunya dan ibu mertuanya, ketika suami masing-masing meninggal dunia.

Hmm. Tolong tak usah menghakimi para tokoh cerita ini sebagai manusia kurang beriman dan berkomentar bahwa mereka otomatis masuk neraka, ya. Ingatlah bahwa ini sebuah cerita yang dikisahkan dalam kakawin. Bukan berita terkini dari sebuah media massa.

Lagi pula, tak bijak rasanya kalau kita berkomentar nyinyir bin julid terhadap sebuah berita terkini untuk kasus serupa. Buat apa melakukan lambe turah begitu? Toh kita sama-sama manusia yang tak luput dari dosa.

Yup! Demikianlah adanya buku saduran ini. Memang dipenuhi adu syair di antara para tokoh ceritanya. Seolah-olah mengingatkan pembaca bahwa di era 4.0 jelang 5.0 ini puisi/syair masih punya eksistensi dan fungsi. Terkhusus yang berisi gagasan tentang kebijaksanaan dan pengetahuan. Terkhusus lagi jika kebijaksanaan dan pengetahuan itu masih relevan untuk zaman sekarang.

Sesungguhnya isi cerita buku ini relatif biasa saja. Tidak penuh kejutan. Demikian pula cara pengisahannya. Konvensional. Penuh semangat didaktis. Aroma kezadoelannya amat terasa. Terlebih happy ending dan happy ending-nya sudah dapat diduga pembaca.

Akan tetapi, buku saduran dari kakawin ini memiliki keistimewaan tersendiri. Tak lain dan tak bukan, keistimewaan yang dimaksudkan terletak pada "pemujaan"-nya terhadap puisi dan penyair.

Dalam "Kata Pengantar", Rh. Widada pun mengakui bahwa baginya buku ini istimewa. Apa alasannya? Karena menempatkan kepenyairan atau perpuisian sebagai sesuatu yang berharga. Sungguh menarik!

Namun selain menarik, saya dibuat heran bin gemas gara-gara banyak sekali salah ketik dalam buku ini. Sampai-sampai saya curiga bahwa sebelum naik cetak, draf naskah tidak disunting sama sekali.

Editornya ke mana? Tim pracetaknya ke mana? Apakah sebelum naik cetak tidak ada konfirmasi untuk cek ricek naskah dengan penyadurnya (penulisnya)?

Eman-eman alias sayang sekali. Naskah saduran yang berharga begini kok terkesan sekadar diterbitkan demi memenuhi syarat administrasi. Sementara penulisnya (penyadurnya) telah bekerja serius sekian lama. Mana berlindung di balik jargon keren "demi kemajuan literasi bangsa" pula. Hehehe ....

Yang parah, nama penulis tidak tercantum di halaman identitas buku. Yang tercantum di situ adalah nama "Nurhata". Siapakah dia? Entahlah.

O, ya. Buku ini tidak untuk diperjualbelikan. Jadi kalau ingin membacanya, kita bisa meminjamnya di perpustakaan. Tak usah khawatir, meminjamnya pun bisa pilih secara daring.

SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku:
KETIKA SEKUNTUM SUMANASA JATUH DI DADANYA Kisah Pembebasan Dyah Harini (Saduran)

Penulis:
Rh. Widada

Penerbit:
Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas Press) Bekerja Sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Tahun Terbit:
2019

Tebal Buku:
viii + 106 hlm

Ukuran Buku:
16 x 23 cm

ISBN:
978-623-200-147-3

Kamis, 20 Agustus 2020

FASISME Antologi Puisi Jelek Yogyakarta




:::Sebuah Kenangan:::

ENTAH bagaimana kronologi tepatnya, tiba-tiba saja aku kembali dipertemukan dengan buku ini. Yakni sebuah buku kumpulan puisi terbitan sekian tahun silam. Saat aku masih sangat muda. Kalau sekarang 'kan masih lumayan sedikit muda. Maksa banget, deh. Hehehe ....

Tentu saja memegang kembali buku ini berarti memutar kembali ingatanku pada masa lalu. Pada masa ketika aku demikian ingin disebut penyair. Hadeeeh. Silakan tertawa lho, yaaa. 

Maklumlah. Namanya juga manusia muda belia yang masih punya banyak kehaluan dan obsesi. Kuliah di sastra pula. Rajin menulis puisi pula. 

Eh? Entah puisi entah sekadar curahan kata hati. Pokoknya ya begitulah bentuknya. Cukup layak disebut puisi. Buktinya beberapa curahan hatiku sukses nongol di majalah atau koran. Halah. Lha kok jadinya malah romantisme masa lalu? Hahaha! 

Masa lalu, oh, masa lalu. Kapankah ituuu? 

Namun kapan pun itu, sekarang aku sungguh merasa bersyukur dan beruntung sebab menjadi salah seorang kontributor FASISME Antologi Puisi Jelek Yogyakarta. Terima kasih banyak ya, Mas Penyair Amien Wangsitalaja. Terima kasih sudah diajak ikutan antologi fenomenal ini. 

Betapa tidak fenomenal, kalau saat ini saja masih ada yang menjualnya di toko daring alias online bookstore? Warbyasaaak 'kan?  

Mungkin kalian kepo berat dengan judulnya. Kok disebut "antologi puisi jelek"? Kalau jelek, mengapa diterbitkan? 

Aih! Kalian ini bagaimana, sih? Judulnya sengaja dibuat begitu sebab menunjukkan upaya protes. 

Protes? Iya. Protes atas hegemoni puisi-puisi milik para penyair yang itu-itu melulu; yang dimuat media massa karya dia lagi dia lagi. Kami yang bukan hegemoni 'jadinya 'kan kzl. Hihihi .... Sudah, ah. Stop di sini penjelasanku. Takut dituduh gibah. *Apa malah sudah?* 

Baiklah. Kalau begitu, stop sajalah stop. Jikalau ingin tahu lebih detil, kalian bisa googling sendiri. Oke? 






Kamis, 04 Oktober 2018

[Book Review] seperti malam-malam februari




SEPERTI malam-malam februari merupakan buku kumpulan puisi karya Agus Manaji. Yakni seorang penyair yang Sarjana Fisika lulusan UGM. Eladalaaah. Yang Sarjana Sastra UGM mana niiih, buku kumpulan puisinya? Haha!  #tepok jidat sendiri  

Meskipun suntuk belajar ilmu eksakta, Agus Manaji pun terhitung rajin berkarya. Puisi-puisinya telah dimuat berbagai majalah dan koran. Antara lain di Horison, Kuntum, Annida, Sabili, Kedaulatan Rakyat, dan Suara Merdeka. 

Selain itu, telah banyak pula puisinya yang terangkum dalam berbagai antologi. Di antaranya dalam antologi Lirik Lereng Merapi (Dewan Kesenian Sleman & Aksara Indonesia, 2001) dan Antologi Apresiasi Sastra Indonesia Modern (Penyunting Korrie Layun Rampan, Penerbit Narasi, 2013). 

Menilik sekian banyak jejak berpuisinya, seorang Agus Manaji tentu tak perlu diragukan lagi kadar kepenyairannya. Buku kumpulan puisinya ini bahkan (boleh dibilang) merangkum masa 20 tahun kepenyairannya. Iya. Puisi-puisi yang terangkum dalam buku ini ditulisnya dalam kurun waktu 1997-2017. 

Lalu, apa tema utama puisi-puisi tersebut? Sejauh penangkapanku yang mungkin tak jauh-jauh amat, puisi-puisi Agus Manaji banyak mengemukakan perkara cinta. Baik cinta dengan "c" kecil maupun "C" besar. Baik cinta kepada sang kekasih hati, teman, sahabat, maupun Tuhan Yang Maha Cinta. 

Lalu, bagaimana cara atau gaya berpuisinya? Sejauh penangkapanku, seluruh puisi yang terhidang di buku ini bernada kalem. Sama sekali tidak meledak-ledak meskipun menyampaikan hasrat yang membuncah. 

Aku membayangkan. Jikalau puisi-puisi tersebut dipentaskan (dideklamasikan), pendeklamasiannya tentu dengan intonasi yang tenang dan terjaga. Sesekali berteriak pun tak perlu. Pokoknya kaleeem saja. Serupa orang yang merapalkan doa-doa. 

Sudah, ah. Demikian itulah hasil pemahamanku terhadap seperti malam-malam februari. Semoga berfaedah untuk kalian. 

SPESIFIKASI BUKU 
Judul Buku : seperti malam-malam februari  
Penyair         : Agus  Manaji
Penerbit        : Interlude 
Tahun Terbit: Februari 2018 
Ukuran Buku : 14 x 21 cm 
Tebal Buku    : xii + 128 halaman