Kamis, 23 April 2020

[Book Review] NOIR Tale of Black and White


Sampul depan

Sampul belakang




SEJUJURNYA buku ini bukanlah tipe bacaan idamanku. Penampakan sampul depan dan belakangnya saja lumayan mengintimidasiku. Bukan seleraku banget. Seleraku adalah yang cerah ceria, sedangkan si sampul bernuansa suram cenderung seram. Ditambah lagi judulnya: NOIR Tale of Black and White (2).

Weleh, weleh. Bikin hatiku menciut saja. Lamat-lamat kuingat, noir itu kata dalam bahasa Perancis yang artinya “hitam”. Sementara hitam bagiku, identik dengan sebuah kemisteriusan. Lekat pula dengan kegelapan dan dunia hitam. Pokoknya bikin takut. Maka wajar ‘kan kalau hatiku menciut? 

Ketahuilah. Demi melihat buku ini, imajinasiku seketika meliar ke arah yang seram-seram. Rentetan tanyaku dalam hati, “Noir? Apa yang hitam? Penyihir? Setan dan hantu?” 

Ternyata memang benar. Novel ini sudah mengguncang keberanianku sejak bagian “Prolog” alinea pertama. Ya ampun! Baru juga mulai membaca. Eh! Sudah langsung berjumpa dengan kalimat “ ... rela rumahnya menjadi tempat migrasi sementara para makhluk dunia astral ...” 

Sungguh sebuah kalimat yang mengintimidasi kaum penakut sepertiku. Namun, rasa kepo yang kuat membuatku bertahan. Alhasil, aku sukses menuntaskannya meskipun hanya berani membaca saat siang hari. Haha! 

Novel yang bermula dari wattpad ini berkisah tentang dinamika dan romantika kehidupan makhluk-makhluk di tiga dunia. Yakni dunia manusia (makhluk mortal), dunia makhluk bayangan (makhluk immortal), dan dunia gaib (iblis-malaikat-hantu). 

See! Horor juga ‘kan? Untunglah saja adegan dan dialog jenaka bertebaran di banyak bagian. Misalnya saat Noir/Nael, si iblis yang tampan dan baik hati, ditraktir makan di kedai makanan Korea. Ia terheran-heran dengan bingsu (es serut kacang merah ala Korea). 

Namun yang paling menarik, justru gosipannya tentang kawan-kawannya sesama iblis. Noir/Nael bercerita kepada Suri (manusia yang mengajaknya makan bingsu) tentang mereka yang ternyata mupeng juga pada HP, baju batik, dan mi instan rebus yang dijual di warmindo. Gokil “kan? Hehehe .... 

Sudah pasti kegokilan semacam itu bisa mereduksi rasa takutku. Bisa menetralkan kembali ketegangan yang kurasakan saat membaca bagian-bagian cerita yang menyeramkan. Apalagi kalimat-kalimat bijak terkait kehidupan, juga bertebaran di sana-sini. Dua di antaranya berikut ini. 

Suatu saat nanti, kamu harus rela melepaskan sesuatu karena memang masanya sudah habis. (hlm 68) 

Hidup tidak akan bertambah baik dengan diratapi. (hlm 140)  

Tidak ada perang yang abadi: tapi juga tak ada perdamaian yang selamanya. (hlm 236) 

Alhasil, penilaianku terhadap novel ini berubah. Dari yang semula kuanggap receh banget, menjadi kuanggap receh namun bermakna. 

O, ya. Buku ini merupakan bagian 2. Sayang sekali yang bagian 1 belum pernah kubaca. Jadinya agak kurang nyambung, ketika ada adegan dan dialog yang merujuk pada bagian 1. Akan tetapi selebihnya, it’s fine. Jalan cerita di bagian 2 ini mampu kupahami dengan baik. 

Sekali lagi, percayalah. NOIR Tale of Black and White 2 bukan sekadar Teen Fiction yang menghibur. Kalau cermat dalam membaca dan memahami ceritanya, kalian pasti akan menemukan pula ajaran nilai-nilai/pinsip-prinsip hidup yang disampaikan di situ. 

Namun ngomong-ngomong, salah ketiknya lumayan banyak. Ada yang kurang huruf, dobel huruf, kurang kata, maupun kelebihan kata. Semoga kalau ada cetakan ketiga, kesalahan-kesalahan tersebut diperbaiki.  

SPESIFIKASI BUKU 

Judul Buku: NOIR Tale of Black and White 2 
Penulis  : Renita Nozaria 
Penerbit: Loveable 
Tahun Terbit : 2018 (Cetakan Kedua) 
Ukuran Buku: 14 x 20,5 cm 
Tebal: 288 hlm 
ISBN: 978-602-5406-42-3





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah sudi meninggalkan jejak komentar di sini.