Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Februari 2022

[Book Review] Berburu Buaya di Hindia Timur


Buku dan kopi (Dokpri www.tinbejogja.com )

Berburu Buaya di Hindia Timur adalah kumcer. Kumpulan enam cerita. Tepatnya cerita pendek, cerpen, tetapi cerpennya cerpen yang lumayan panjang.

Berarti fiksi. Namun, fiksi yang  faktual. Cerita-cerita yang disampaikan fiksi, tetapi fakta-fakta sejarah yang dipergunakan sebagai latar tempat dan waktu sungguhan terjadi.

Katakanlah, cerita-cerita dalam buku ini mengisahkan sisi lain dari kisah sejarah, yang biasanya kita baca di buku-buku rujukan sejarah.

Perkara sisi lain itu sekadar fiksi hasil rekaan penulis, tak jadi soal. Toh Berburu Buaya di Hindia Timur tidak mengklaim diri sebagai buku sejarah.

Justru sebaliknya, buku ini menahbiskan diri sebagai buku cerita. Sebagaimana kalimat pemberitahuan yang tercantum di sampul belakangnya: Keenam cerita dalam buku ini menempati celah-celah yang ditinggalkan sejarah tulis.

Nah. Perhatikan baik-baik: ... menempati celah-celah yang ditinggalkan sejarah tulis.

Berarti bukan peristiwa sejarah sebab sifatnya personal, tidak berpengaruh terhadap kondisi masyarakat. Namun, bukan pula sepenuhnya fiksi.

Demikianlah adanya. Buku kumcer ini diracik dari fiksi dan fakta dalam takaran yang proporsional. Jadi, pembaca  bisa terhibur sekaligus tersadarkan bahwa di balik peristiwa bersejarah suatu bangsa, ada cerita-cerita "kecil" yang tak tercatat.

Bagi saya, buku ini mengandung emosi yang komplet. Cerita-cerita di dalamnya ada yang bikin marah, bergidik ngeri, merinding sebab takut pada hantu, tertawa-tawa geli, geleng-geleng kepala tak habis pikir, dan takjub kepada keberanian para pahlawan bangsa.

Selain itu, sang penulis sesekali melemparkan kritikan pedas kepada bangsanya. Hanya saja, kritikan tersebut tersamarkan sehingga pembaca yang tidak jeli  tidak bakalan sadar.

Salah satunya kritikan yang bikin senyum-senyum miris di halaman 147. Yang disisipkan dalam dialog antara dua tentara kolonial Belanda, ketika puyeng menghadapi perlawanan Thomas Matulessy (Pahlawan Maluku).

Digambarkan Mouris Mayer sedang menghadap komandannya, Middelkoop, dan menyampaikan pendapat sebagai berikut.

"Maaf, Tuan, saya tidak bermaksud menyinggung. Tapi kita tahu, bukan? Walau orang-orang di negeri ini pemberani, mereka tak punya otak. Mereka tetaplah kaum barbar yang tak pernah menyentuh pendidikan modern Eropa. Mereka tidak pernah belajar matematika dan sastra. Mereka hanya sekumpulan hewan bodoh."

Muehehe .... Sebagai bangsa Indonesia, saya kok tersindir membaca perkataan Mouris Mayer dalam cerpen "Thomas Matulessy Dalam Kenangan Benteng Victoria" itu. 

O, ya. Satu lagi. Buku ini membuat saya kian memahami makna kalimat pelaut hebat tidak lahir di lautan tenang. Yoiii. Benar sekali. Saya kian paham setelah membaca cerpen "Nasib Seorang Pelaut".

Perlu diketahui, ada 6 cerita yang dihimpun dalam buku ini. Berturut-turut keenamnya adalah "Para Bandit dan Hantu Ophaalbrug", "Berburu Buaya di Hindia Timur", "Nasib Seorang Pelaut", "Babad Goa Jlamprong", "1913", dan "Thomas Matulessy Dalam Kenangan Benteng Victoria". 

 

Sampul belakang ( Dokpri www.tinbejogja.com )

Menurut saya, keenamnya keren. Isi cerita dan cara penceritaannya sama-sama menarik. Yang paling serius "1913". Yang paling kocak dan menjadi favorit saya "Nasib Seorang Pelaut".

Kekurangan buku ini apa, dong? Hmm. Dengan sedih saya akui bahwa satu-satunya kekurangan buku ini adalah bikin saya insecure. Iya, saya insecure karena tak kunjung mampu menulis fiksi yang keren. Hahaha!

Sebagai penutup, saya tegaskan kepada Anda sekalian untuk membaca buku ini. 

Sana gih, segera membeli atau meminjam. Insyaallah darinya akan didapatkan kebahagiaan serta pencerahan hidup berbangsa dan bernegara. Percayalah.

 

SPESIFIKASI BUKU

Judul:
Berburu Buaya di Hindia Timur

Penulis:
Risda Nur Widia

Penerbit:
Penerbit Pocer

Tahun Terbit:
Februari 2020

Tebal Buku:
vi +150

Ukuran Buku:
12 cm x 19 cm

ISBN:
978-623-90624-7-7

 

 


Kamis, 14 Oktober 2021

[Book Review] Ketika Sekuntum Sumanasa ...

 

Penampakan bukunya

Ketebalan buku ini sedang-sedang saja. Tak begitu tipis, juga tak begitu tebal. Kalau ukurannya sih, sedikit lebih besar daripada buku pada umumnya.

Warna sampulnya kuning mencolok dengan desain yang bernuansa serius. Kesan serius kian kuat tatkala kita membaca judulnya. Terlebih ada label "saduran" segala.

Aha! Otak pun bersiap aktif mereka-reka, gerangan apa isi buku ini? Fiksikah? Nonfiksikah? Mengapa judulnya terasa tak kekinian?

Setelah membaca halaman "Sambutan" dan "Kata Pengantar", barulah saya paham sepenuhnya. Rupanya buku ini merupakan saduran dari sebuah kakawin yang berjudul Sumanasantaka (terjemahannya: Mati Karena Bunga Sumanasa) karya Mpu Monaguna.

Siapa Mpu Monaguna? Ia adalah seorang pujangga yang hidup pada masa Kerajaan Kediri (abad XIII). 

O, ya. Kakawin adalah puisi-tembang berbahasa Jawa kuno. Jadi, bahasa asli yang dipergunakan Sumanasantaka pastilah bahasa Jawa kuno. Namun, sumber untuk keperluan penyaduran ini adalah terjemahan dan kajian atas Sumanasantaka yang dilakukan oleh P. Worsley, S. Supomo, dan M. Fletcher yang bekerja sama dengan T. H. Hunter.

Tentu saya tak akan membahas detil siapa nama-nama tersebut. Kali ini kita sebut sepintas lalu saja. Sekadar untuk menjelaskan asal muasal buku yang sedang kita ulas.

***

Jadi, dada siapa yang kejatuhan sekuntum sumanasa? Sesuai dengan judul bukunya, sudah pasti dada Dyah Harini.  Melalui peristiwa itulah, ia kemudian terbebas dari kutukan sebagai manusia.

Iya. Sesungguhnya Dyah Harini memang bukan manusia biasa. Ia merupakan jelmaan bidadari. Bagaimana kronologinya hingga ia bisa dikutuk jadi manusia?

Begini ...

Suatu ketika Dewa Indra merasa cemas sebab perbawa batin Begawan Trna Windu yang sedang melakukan tapabrata mengganggu stabilitas kahyangan. Sang Raja Dewa itu over thinking. Ketakutan kalau Sang Begawan bermaksud merebut kekuasaannya.

Dewa Indra pun memutar otak untuk bisa menghentikan tapabrata Sang Begawan. Alhasil, diutuslah bidadari terjelita (Dyah Harini) untuk menggoda. Tentu tujuannya mengganggu agar tapabrata Begawan Trna Windu terhenti.

Akan tetapi, rencana licik Dewa Indra gagal total. Identitas asli dan "misi" Dyah Harini ketahuan. Sang Begawan murka dan mengutuk Dyah Harini agar tak bisa kembali ke kahyangan. Bidadari jelita itu pun memohon-mohon ampun.

Sang Begawan pada akhirnya bersedia mengampuni. Ia memberi jaminan bahwa Dyah Harini bakalan terbebas dari kutukan sebagai manusia kalau tertimpa bunga sumanasa. Dalam arti, ia bakalan meninggal dunia kalau kejatuhan bunga tersebut. Adapun meninggal dunia baginya = terbebas dari kutukan menjadi manusia.

Singkat cerita, kutukan berjalan sebagaimana adanya. Dyah Harini terlahir ke bumi sebagai putri Raja Widarbha. Namanya Putri Indumati. Ia menjadi kesayangan semua orang, terutama kesayangan kedua orang tua dan kakak lelakinya. Kecantikan yang berpadu dengan kepintaran plus minat besar pada puisi, valid menyebabkannya bisa memesona semua insan.

Ketika memilih jodohnya melalui sayembara pun, Putri Indumati memilih Pangeran Aja yang selain mahir berperang, ternyata mahir pula menggubah syair-syair indah bermakna.

Perlu diketahui, Pangeran Aja sebenarnya pasangan Dyah Harini (Putri Indumati) saat di kahyangan. Kelak pada akhir cerita dikisahkan bahwa sepeninggal sang istri yang wafat sebab tertimpa bunga sumanasa, Pangeran Aja baru mendapatkan informasi ini dari seorang maharesi utusan Begawan Wasistha.

Informasi tersebut lumayan meredam kedukaan Pangeran Aja. Mengapa? Sebab ia menjadi tahu kalau nanti bakalan bersatu lagi dengan sang istri di kahyangan. Ia hanya perlu menunggu. Tentu dalam rindu yang membelenggu.

Pada bab terakhir buku ini dikisahkan bahwa Pangeran Aja memutuskan menyusul sang istri 8 tahun kemudian. Iya. Memutuskan "menyusul" dengan cara menenggelamkan diri di sungai besar.

Bunuh diri? Begitulah dalam bahasa vulgarnya. Cara serupa juga ditempuh oleh ibunya dan ibu mertuanya, ketika suami masing-masing meninggal dunia.

Hmm. Tolong tak usah menghakimi para tokoh cerita ini sebagai manusia kurang beriman dan berkomentar bahwa mereka otomatis masuk neraka, ya. Ingatlah bahwa ini sebuah cerita yang dikisahkan dalam kakawin. Bukan berita terkini dari sebuah media massa.

Lagi pula, tak bijak rasanya kalau kita berkomentar nyinyir bin julid terhadap sebuah berita terkini untuk kasus serupa. Buat apa melakukan lambe turah begitu? Toh kita sama-sama manusia yang tak luput dari dosa.

Yup! Demikianlah adanya buku saduran ini. Memang dipenuhi adu syair di antara para tokoh ceritanya. Seolah-olah mengingatkan pembaca bahwa di era 4.0 jelang 5.0 ini puisi/syair masih punya eksistensi dan fungsi. Terkhusus yang berisi gagasan tentang kebijaksanaan dan pengetahuan. Terkhusus lagi jika kebijaksanaan dan pengetahuan itu masih relevan untuk zaman sekarang.

Sesungguhnya isi cerita buku ini relatif biasa saja. Tidak penuh kejutan. Demikian pula cara pengisahannya. Konvensional. Penuh semangat didaktis. Aroma kezadoelannya amat terasa. Terlebih happy ending dan happy ending-nya sudah dapat diduga pembaca.

Akan tetapi, buku saduran dari kakawin ini memiliki keistimewaan tersendiri. Tak lain dan tak bukan, keistimewaan yang dimaksudkan terletak pada "pemujaan"-nya terhadap puisi dan penyair.

Dalam "Kata Pengantar", Rh. Widada pun mengakui bahwa baginya buku ini istimewa. Apa alasannya? Karena menempatkan kepenyairan atau perpuisian sebagai sesuatu yang berharga. Sungguh menarik!

Namun selain menarik, saya dibuat heran bin gemas gara-gara banyak sekali salah ketik dalam buku ini. Sampai-sampai saya curiga bahwa sebelum naik cetak, draf naskah tidak disunting sama sekali.

Editornya ke mana? Tim pracetaknya ke mana? Apakah sebelum naik cetak tidak ada konfirmasi untuk cek ricek naskah dengan penyadurnya (penulisnya)?

Eman-eman alias sayang sekali. Naskah saduran yang berharga begini kok terkesan sekadar diterbitkan demi memenuhi syarat administrasi. Sementara penulisnya (penyadurnya) telah bekerja serius sekian lama. Mana berlindung di balik jargon keren "demi kemajuan literasi bangsa" pula. Hehehe ....

Yang parah, nama penulis tidak tercantum di halaman identitas buku. Yang tercantum di situ adalah nama "Nurhata". Siapakah dia? Entahlah.

O, ya. Buku ini tidak untuk diperjualbelikan. Jadi kalau ingin membacanya, kita bisa meminjamnya di perpustakaan. Tak usah khawatir, meminjamnya pun bisa pilih secara daring.

SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku:
KETIKA SEKUNTUM SUMANASA JATUH DI DADANYA Kisah Pembebasan Dyah Harini (Saduran)

Penulis:
Rh. Widada

Penerbit:
Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas Press) Bekerja Sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Tahun Terbit:
2019

Tebal Buku:
viii + 106 hlm

Ukuran Buku:
16 x 23 cm

ISBN:
978-623-200-147-3

Kamis, 29 Juli 2021

[Book Review] Jangan Kautulis Obituari Cinta!

Gara-gara novel karya Ashadi Siregar yang berjudul Cintaku di Kampus Biru, yang kemudian difilmkan, UGM pun tenar dengan sebutan kampus biru. Berdasarkan sebutan itu, lalu banyak yang mengira gedung-gedung di UGM dominan dicat biru.

Duileee. Mengapa banyak yang berpikiran terlalu polos, ya? Biru yang dimaksudkan Ashadi Siregar tuh bukan merujuk pada warna cat gedung, melainkan pada birunya cinta.

Lalu, apa hubungannya dengan Jangan Kautulis Obituari Cinta! karya Rh. Widada ini?

Begini. Jangan Kautulis Obituari Cinta!, yang terbit puluhan tahun kemudian, seakan-akan menjadi antitesis dari Cintaku di Kampus Biru. Novel Jangan Kautulis Obituari Cinta! justru berkisah tentang "tak ada cinta di kampus biru". Tepatnya ketiadaan cinta di kampus biru bagi Kang Sujat (Gathot Sujati) dan Mei (Tyas Sumunar).

Siapakah mereka? Kang Sujat adalah mahasiswa abadi di jurusan Sastra Indonesia UGM. Ia tidak lulus-lulus sebab terlampau sibuk dengan kariernya sebagai wartawan/penulis dan aktivis mahasiswa pengkritik pamerintah.

Sementara Mei adalah yuniornya. Perkenalannya dengan Kang Sujat terjadi saat opspek. Kang Sujat menjadi panitia,  Mei sebagai mahasiswa baru. Keduanya saling tertarik. Namun, semesta ternyata tak memberikan takdir bersatu selamanya kepada mereka.

Sesuai dengan keputusan keluarga besar, baru beberapa semester kuliah Mei sudah dinikahkan dengan seorang tentara bernama Herjoko. Herjoko adalah tetangga yang sekaligus saudara sepupunya.

Walaupun keputusan tersebut diambil berdasarkan kebejatan Herjoko terhadap Mei di masa silam, ketika Mei masih berusia ABG, sesungguhnya Mei tidak mau menikah dengan Herjoko. Pelecehan seksual yang dilakukan Herjoko masih membuatnya trauma meskipun telah berlalu bertahun-tahun.

Akan tetapi, apa boleh buat? Mei hanya bisa menurut. Ia terpaksa mengorbankan cintanya kepada Kang Sujat. Ketidakbahagiaan pun menjadi konsekuensinya. Terlebih di kemudian hari terbukti bahwa Herjoko bukanlah suami yang baik. Ia punya WIL.

Pada akhirnya Kang Sujat dianiaya Herjoko hingga terluka parah di bagian kepala. Sehari di rumah sakit, ia pun meninggal dunia.

Herjoko bukan mata gelap akibat terbakar cemburu gara-gara sang istri berselingkuh dengan Kang Sujat. Herjoko sebenarnya hanya menjalankan tugas dari sang atasan. Adapun sang atasan mendapatkan mandat untuk "menyelesaikan" wartawan vokal itu dari sang penguasa kabupaten.

Apes nian nasib Herjoko. Ketika tugas berat itu sukses, ia justru terhantui rasa bersalah sekian lama. Selalu mimpi buruk dikejar-kejar Mei yang menggendong mayat Kang Sujat.

Sudah begitu, orang-orang yang menjadi otak pembunuhan pun ramai-ramai cuci tangan. Herjoko ditumbalkan! Seorang diri ia menerima hukuman. Ia pun diskenariokan membunuh sebab terbakar api cemburu.

Jangan berpikiran bahwa novel ini semata-mata tentang kisah cinta tragis belaka. Justru kisah cinta tersebut sekadar alat untuk menyampaikan "amanat" yang lebih berat. Iya, sesungguhnya novel ini hendak mengingatkan pembaca mengenai masa-masa kelam sebelum terjadinya gerakan reformasi.

Kang Sujat adalah representasi kaum aktivis pengkritik pemerintahan orde baru. Ia sekaligus mewakili dua kelompok, yaitu kelompok mahasiswa dan jurnalis. Yang keduanya sama-sama berpotensi memperoleh ancaman untuk "diselesaikan".

Sejarah mencatat, banyak aktivis mahasiswa Yogyakarta yang ditangkap. Ada pula Udin, wartawan Bernas, yang dihabisi sebab tulisan-tulisan vokalnya yang menyenggol sang penguasa sebuah kabupaten. Tepatnya kabupaten tempat domisili Kang Sujat.

O, ya. Saya yakin sang novelis merujuk pada Udin untuk penokohan Kang Sujat. Demikian pula, seorang kakak tingkat jauh di Sastra Indonesia UGM bikin saya menyimpulkan bahwa sang novelis merujuk pula kepadanya untuk penggambaran fisik Kang Sujat.

Alhasil, baca Jangan Kautulis Obituari Cinta! membuat saya bernostalgia dengan kampus biru di Bulaksumur sana. Yeah, bernostalgia sembari cekikikan sebab nyaris susah membedakan Kang Sujat dengan kakak tingkat yang menjadi rujukannya. Hehehe ....

Seperti biasa, tulisan Rh. Widada memang seru dan keren. Meskipun secara global ceritanya serius, nuansa humornya tetap terasa. Jadi, kamu dan kamu wajib membaca novel ini.

O, ya. Satu hal yang tak kalah penting. Novel Jangan Kautulis Obituari Cinta! pun mengkritisi solusi salah kaprah yang kerap dilakukan terhadap persoalan pelecehan seksual.

Selama ini khalayak pada umumnya beropini bahwa urusan kelar jika korban pelecehan seksual dinikahkan dengan orang yang melecehkannya. Sementara faktanya, penyintas pelecehan sosial akan makin depresi kalau dinikahkan dengan pelaku pelecehan. Inilah yang terjadi pada Mei. Sungguh kasihan. Ibarat sudah jatuh malah tertimpa tangga.

 

Penampakan Sampul Depan

 

Judul Buku: Jangan Kautulis Obituari Cinta! 

Penulis: Rh. Widada 

Penerbit: Penerbit Gading 

Tahun Terbit: Maret 2021 

Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm 

Tebal Buku: ix + 232 hlm 

ISBN: 978-623-7177-71-5

 

 

Kamis, 03 September 2020

[Book Review] AYAH Sebuah Novel



APA kabar? Sudah kangen dengan ulasan baruku? Semoga. Semoga pula kekangenan itu tidak berujung dengan kekecewaan. Maksudku, kalian jadi kecewa sebab buku yang kuulas ternyata telah kalian baca. Etaaapiiii. Sesungguhnya kalaupun kalian telah membacanya, tak jadi soal benar. Bukankah malah bisa dijadikan pembanding? Hasil kalian membaca apa? Hasilku membaca apa? Alhasil, bisa memperkaya wawasan kita. Muehehehe .... 

Baiklah. Mari segera kumulai mengulasnya. *Hmm. Jadi degdegan akutuuu. Takut ulasanku terlampau buruk.* 

..... 

Sesuai dengan judulnya, inti dari novel ini adalah kisah tentang ayah. Tepatnya tentang kasih sayang seorang ayah kepada anaknya dan sebaliknya. Tentang betapa cara mengasuh dan mendidik seorang ayah sangat berpengaruh terhadap karakter anak yang diasuh dan dididiknya. Tentang betapa kasih sayang seorang ayah bisa sedemikian besar terhadap anaknya. Meskipun anak tersebut, bukanlah anak kandungnya. 

Bahkan karena saking besarnya, seorang ayah bisa beranjak gila tatkala si anak dipisahkan darinya. Iya. Gila dalam arti yang harafiah. Yang sampai tak kuasa mengurusi dirinya sendiri. Seperti halnya yang terjadi pada Sabari. 

Siapa Sabari? Tak lain dan tak bukan, dialah sang tokoh utama novel ini. Yang hidupnya penuh penderitaan akibat cinta yang bertepuk sebelah tangan. 

Alkisah, Sabari jatuh cinta secara gila-gilaan kepada Marlena. Sejak perjumpaan pertama mereka, tatkala sama-sama mengikuti ujian seleksi masuk SMA negeri. Meskipun sejak awal Marlena terang-terangan menolaknya, Sabari tak surut sedikit pun. Bahkan, Sabari bela-belain bekerja jadi tukang cetak batako di pabrik ayah Marlena. 

Upaya Sabari sekeras apa pun, rupanya tak bikin Marlena menengok sedikit pun. Akan tetapi, suatu peristiwa diturunkan-Nya sehingga menjadi penyebab berlangsungnya pernikahan Sabari dengan Marlena. Sebuah akhiran yang tampak manis 'kan? 

Sayang sekali pernikahan itu bukan penanda dimulainya babak kebahagiaan Sabari. Justru sebaliknya, itulah babak baru dari kegilaannya. Ketulusan cinta dan kesabaran Sabari tak berarti sama sekali bagi Marlena. 

Apa boleh buat? Hidup ini memang dipenuhi orang-orang yang kita inginkan, tetapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya. .... (hlm.162)

Pasca melahirkan bayi lelaki tampannya, Marlena tetap tak menganggap Sabari. Tatkala Sabari telaten sekali merawat dan mengasihi si bayi tampan, Marlena tetap tak peduli. Makin kerap pergi tanpa pamit selama berhari-hari. Malah akhirnya benar-benar tak pernah kembali. Yang menyambangi Sabari justru surat gugatan cerai darinya. 

Sabari masih lumayan stabil. Marlena memang meninggalkannya, tetapi si bayi tampan yang dipanggil Zorro itu telah menggantikan eksistensi sang ibunda. 

Lalu si bayi lelaki tampan direnggut dari kehidupan Sabari, saat beranjak batita. Mulai di titik kehidupan yang inilah Sabari limbung. Makin lama makin limbung. Rumah, warung kelontong, dan kambing-kambing peliharaannya tak terurus. Hingga akhirnya ia bangkrut, kehilangan semua harta benda, bahkan harapan. 

Kawan-kawannya prihatin. Semua orang yang mengenalnya pun prihatin. Kehidupan Sabari yang piawai berpuisi itu memburuk. Hanya rasa cintanya kepada Marlena dan Zorro yang lestari bagusnya. 

Iya. Sabari mulanya seorang pria malang yang ditolak cinta. Kemudian bebannya bertambah menjadi ayah yang malang. Malang sebab rasa kasih sayangnya yang besar kepada sang anak dihempaskan keras-keras oleh sang waktu, seiring dengan perampasan Zorro darinya oleh Marlena. 

Bagaimanakah ujung dari kisah tragis Sabari? Tenanglah, wahai para pembaca. Sabari pada akhirnya kembali mampu menemukan kewarasannya, kok. Apakah Marlena kemudian mencintainya dan mau kembali menjadi istrinya? Oh, tentu tidak sesinetron itu jalan ceritanya. 

Jangan lupa. Andrea Hirata, si penulis novel ini, selalu piawai merangkai jalinan cerita. Maka pembaca mesti piawai pula memahami cerita yang disajikannya. Diajak berpikir, menduga-duga, dan menarik kesimpulan sendiri demi mendapatkan cerita utuhnya. 

Dengan kata lain, untuk memahami novel ini tanpa bingung, kita sebagai pembaca mesti membacanya dengan cerdas. Mesti mampu menghubungkan peristiwa-peristiwa yang tampaknya tak saling berkaitan. Hmm. Penjelasanku ini bikin puyengkah? 

Aih, aih. Ketimbang malah bingung sebab membaca penjelasanku, lebih baik silakan langsung mencari novelnya saja deeeh. Namun, jangan lupa. Kalau sudah menemukannya ya dibaca. Mana bisa paham kalau tidak dibaca? Mana bisa tertawa-tawa dan mendapatkan inspirasi darinya kalau tidak dibaca? 

O, ya. Yang paling kusuka dari novel ini (dan dari karya Andrea Hirata lainnya) adalah caranya menuturkan penderitaan dan kesialan. Bagaimana caranya? Yakni dengan cara kocak. Bukan secara mendayu-dayu. Sungguh menarik 'kan?  Alhasil, diriku pun bisa ngakak so hard  menertawakan penderitaan dan kesialanku sendiri. Hahaha! 

SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku: 
AYAH Sebuah Novel

Penulis:
Andrea Hirata

Penerbit:
Bentang 

Tahun Terbit: 
Maret 2018 (cetakan ke-21)

Ukuran Buku:
14 x 20,5 cm

Tebal Buku:
xx + 412 hlm

ISBN:
978-602-291-102-9






Kamis, 20 Agustus 2020

FASISME Antologi Puisi Jelek Yogyakarta




:::Sebuah Kenangan:::

ENTAH bagaimana kronologi tepatnya, tiba-tiba saja aku kembali dipertemukan dengan buku ini. Yakni sebuah buku kumpulan puisi terbitan sekian tahun silam. Saat aku masih sangat muda. Kalau sekarang 'kan masih lumayan sedikit muda. Maksa banget, deh. Hehehe ....

Tentu saja memegang kembali buku ini berarti memutar kembali ingatanku pada masa lalu. Pada masa ketika aku demikian ingin disebut penyair. Hadeeeh. Silakan tertawa lho, yaaa. 

Maklumlah. Namanya juga manusia muda belia yang masih punya banyak kehaluan dan obsesi. Kuliah di sastra pula. Rajin menulis puisi pula. 

Eh? Entah puisi entah sekadar curahan kata hati. Pokoknya ya begitulah bentuknya. Cukup layak disebut puisi. Buktinya beberapa curahan hatiku sukses nongol di majalah atau koran. Halah. Lha kok jadinya malah romantisme masa lalu? Hahaha! 

Masa lalu, oh, masa lalu. Kapankah ituuu? 

Namun kapan pun itu, sekarang aku sungguh merasa bersyukur dan beruntung sebab menjadi salah seorang kontributor FASISME Antologi Puisi Jelek Yogyakarta. Terima kasih banyak ya, Mas Penyair Amien Wangsitalaja. Terima kasih sudah diajak ikutan antologi fenomenal ini. 

Betapa tidak fenomenal, kalau saat ini saja masih ada yang menjualnya di toko daring alias online bookstore? Warbyasaaak 'kan?  

Mungkin kalian kepo berat dengan judulnya. Kok disebut "antologi puisi jelek"? Kalau jelek, mengapa diterbitkan? 

Aih! Kalian ini bagaimana, sih? Judulnya sengaja dibuat begitu sebab menunjukkan upaya protes. 

Protes? Iya. Protes atas hegemoni puisi-puisi milik para penyair yang itu-itu melulu; yang dimuat media massa karya dia lagi dia lagi. Kami yang bukan hegemoni 'jadinya 'kan kzl. Hihihi .... Sudah, ah. Stop di sini penjelasanku. Takut dituduh gibah. *Apa malah sudah?* 

Baiklah. Kalau begitu, stop sajalah stop. Jikalau ingin tahu lebih detil, kalian bisa googling sendiri. Oke? 






Kamis, 18 Juni 2020

[Book Review] MAKAN SIANG OKTA



AKU salah sangka. Semula kukira buku ini easy going sekali. Simpel. Sederhana. Lugas. Selugas judulnya: Makan Siang Okta. 

Ternyata. Oh, rupanya. Isinya tidaklah selugas yang kukira. Tidak mudah diraba jalan ceritanya. Susah diprediksi ending-nya. Hingga tuntas kubaca, barulah pemahaman atasnya tergenggam. 

Yup! Siapa pun yang membaca novel ini pastilah bakalan mengalami hal yang sama denganku. Begitu mulai membacanya, merasa enggan berhenti sebab penasaran. 

Bagaimana mungkin tidak penasaran? Cerita bergulir amat pelan dalam novel ini. Keingintahuan pembaca tentang Okta dan makan siangnya tak kunjung tertuntaskan. 

Sedikit pun tidak ada petunjuk yang bisa dipergunakan untuk menduga, ke arah mana cerita akan bergulir. Gelap. Jadi, sama sekali tak punya bayangan mengenai akhir ceritanya. 

O, ya. Kupikir justru di situlah letak tantangannya. Perguliran yang pelan tersebut cenderung membosankan. 

Maka kalian yang tidak sabaran, bisa jadi akan mundur alon-alon. Bosan. Merasa geram sebab terombang-ambing alur cerita. 

Yeah? Sudahlah terombang-ambing oleh cinta di dunia nyata. Masak ya harus terombang-ambing juga oleh cerita novel. Muehehehe .... 

Bayangkanlah saja. Sejak halaman 1- halaman 49, adegan intinya satu saja: aku menunggu Okta menghabiskan makan siangnya. 

Selama itu pula, kalimat-kalimat pembangun cerita berupa monolog dari tokoh aku. Tepatnya monolog tentang diri Okta dari sudut pandang aku. 

Berdasarkan narasi panjang yang acap kali terasa melelahkan dan bikin sesak napas, kuketahui bahwa tokoh aku adalah seorang anak lelaki. Ia bersekolah di SD yang sama dengan Okta. 

Mereka sekelas, tetapi tak pernah saling bertegur sapa. Selain faktor tempat duduk yang berjauhan, tampaknya dalam hal ini faktor rasa malu yang lebih berpengaruh. 

Biasa 'kan? Anak-anak SD cenderung masih saling malu dalam pergaulan cowok-cewek. Lalu, mengapa siang itu aku ke rumah Okta? 

Nah!  Itulah yang dengan cerdik dinarasikan panjang lebar oleh sang penulis. Tepatnya dinarasikan melalui sudut pandang anak laki-laki usia 10 tahunan. 

Keren 'kan? Sementara penulisnya berusia dewasa. Di mana letak kerennya? Hmm. Di mana lagi kalau bukan pada kekonsistenan si penulis, untuk bertahan dengan sudut pandang seorang bocah? 

Pokoknya rapi jali menulisnya. Tak pernah mendadak terpeleset dengan sudut pandang pribadi sebagai orang dewasa. Sulit lho, melakukan kekonsistenan serupa itu. 

Alhasil, pembaca di sepanjang halaman buku serasa berada di dalam pikiran si aku. Si bocah lelaki usia SD itu. Yang baru di halaman 133 kuketahui namanya, yaitu Tendy Wijaya. 

Yang akhirnya pula baru kuketahui di halaman 164, motifnya berkunjung ke rumah Okta adalah cinta.  Cinta monyet tentunya. Muehehe .... Ternyata, oh, rupanya. 

O, ya. Buku ini dilabeli U15+. Berarti target pembacanya adalah orang-orang berusia 15 tahun ke atas. 

SPESIFIKASI BUKU 

Judul Buku: 
Makan Siang Okta 

Penulis: 
Nurul Hanafi 

Penerbit: 
Shira Media 

Tahun Terbit: 
2019  (Cetakan ke-1) 

Ukuran Buku: 
13 x 19 cm 

Tebal: 
vi + 170 hlm 

ISBN: 
978-602-5868-51-1









Kamis, 14 Mei 2020

[Book Review] Hikayat The Da Peci Code

Sampul Depan 


BEGITU saja buku ini muncul, tatkala aku sedang beres-beres lemari. 
Entahlah bagaimana dulu, buku ini bisa sampai ke lemariku. 
Sungguh-sungguh lupa aku. 
Ini hasil beli atau hadiah kuis atau hadiah apalah-apalah? Hahaha! 

Namun, baiklah. Mari kita lupakan soal itu. 
Sekarang kita bahas saja isinya. Oke? Hmm. Ketahuilah. 
Membahas isi buku jauh lebih berfaedah daripada mempersoalkan 
dari mana datangnya buku tersebut. 


Sampul Belakang 


Baik. Mari kita mulai membahasnya dari judul dan sampul. Ada apa dengan judul dan sampul novel ini? Ternyata kedua elemen tersebut sama-sama mengabarkan tentang kejenakaan. Kenyataannya,  gaya bercerita novel ini memang lumayan jenaka. Bikin pembaca senyum-senyum simpul sendiri. Dari awal sampai akhir novel.

Padahal, tema yang dikemukakan lumayan berat. Berkaitan dengan agama (Islam). Terkhusus mengenai sejarah peci sehingga dianggap punya kaitan erat dengan agama. Bahkan, menjadi simbol identitas agama Islam. Sementara peci sebetulnya tidak termasuk ajaran agama. Tidak pula yang berpeci, pasti orang beragama Islam.

Faktanya, banyak orang dari berbagai agama yang punya tradisi berpeci. Tentu dengan pelbagai model, bahan, dan warna. Penutup kepala yang dikenakan Paus pun sebenarnya peci. Demikian juga penutup kepala yang dikenakan oleh orang-orang Yahudi.

Yup!  Perihal peci inilah yang menggerakkan cerita. Bermula dari keengganan Rosid bin Mansur al-Gibran, sang tokoh utama novel ini, memakai peci putih. Baik saat ke masjid maupun saat menghadiri acara-acara pengajian dan pertemuan klan al-Gibran. Padahal, memakai peci putih adalah sebuah keharusan bagi klan al-Gibran.

Itulah sebabnya ayah Rosid panik luar biasa ketika sang anak enggan berpeci putih. Ia merasa gagal sebagai orang tua. Penyebabnya, ia tidak sanggup mendidik Rosid untuk meneruskan tradisi klan. Sementara Rosid adalah satu-satunya anak lelaki di keluarga Mansur.

Sang ayah yang sangat serius dalam menanggapi keengganannya berpeci putih, bikin Rosid memberontak. Baginya, sikap sang ayah berlebihan. Apalagi sampai menganggap Rosid melanggar aturan agama, hanya gara-gara tak mau berpeci putih.

Lain halnya dengan Rosid yang cenderung easy going. Keengganannya berpeci putih pun  disebabkan oleh hal (alasan) praktis. Ia hanya tidak mau memotong rambut kribonya. Sementara peci putih kecil tidak mungkin bisa terpasang sempurna di rambut kribo Rosid yang mengembang dahsyat.

Iya. Sebenarnya Rosid hanya tidak mau memakai peci. Bukan tidak mau shalat berjamaah di masjid. Bukan pula tidak mau hadir ke pengajian dan acara klan al-Gibran. Akan tetapi, ayahnya kekeuh mewajibkan Rosid berpeci putih. Tanpa peci putih berarti pelanggaran.

Selain tentang peci putih, masih ada hal-hal sensitif lain yang disentil novel ini. Melalui dialog-dialog yang kocak,  hal-hal sensitif keagamaan itu diuraikan tanpa tedheng aling-aling. Misalnya yang tersurat pada dialog di halaman 88. Rosid yang muslim menjawab lugas pertanyaan Anto, sang dosen Sejarah yang gemar menenggak minuman beralkohol.

....

"Kamu nggak minum bir, Sid?" tanya Anto.

"Nggak, Mas," jawab Rosid tersenyum.

"Kenapa, haram, ya?" tanya Anto tertawa.

"Betul, Mas. Minuman beralkohol memabukkan."

"Kalau mabuk kenapa, dosa, ya?" tanya Anto lagi, sesaat sebelum tegukan yang kedua.

"Betul, Mas, dosa."

"Apa benar Tuhan sebegitu galaknya, Sid, menghukum hamba-Nya yang sekadar menikmati sensasi unik pengaruh alkohol? Bukankah yang penting kita nggak  berbuat jahat terhadap orang lain?" tanya Anto lagi.

....

Pendek kata, novel tak begitu tebal ini ternyata sungguh-sungguh bergizi. Tampilan sampulnya yang cenderung bergaya artifisial sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai "berat" yang dimuatnya. Kerennya, semua narasi dan dialog berat disampaikan secara natural. Lebur dalam obrolan renyah para tokoh. Tidak bernada orasi menggurui pembaca. Tidak pula menghakimi Rosid yang batal memutus hubungan asmaranya dengan Delia, pacarnya yang berbeda agama.

Sejujurnya saya sendiri tak menyangka, jika novel ini amat keren. Tampilan sampulnya 'kan santai sekali. Apalagi ada label "SEGERA DIFILMKAN" segala dalam sampulnya.

O, ya. Novel ini terbitan lama, ya. Dan akhirnya, memang sudah betul-betul difilmkan. Filmnya diberi judul 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Bintangnya antara lain Reza Rahardian, Laura Basuki, dan Arumi Bachsin. Mungkin di antara kalian ada yang dulu menontonnya?


SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku:
Hikayat The Da Peci Code

Penulis:
Ben Sohib

Penerbit:
Bentang

Tahun Terbit:
2010 (Mei)

Ukuran:
14 x 20,5 cm

Tebal:
vi + 186 hlm

ISBN:
978-602-8811-06-4