Tampilkan postingan dengan label memoar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memoar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 September 2021

[Book Review] Novel TERBANG

APA kabar? Semoga kalian senantiasa sehat, ya. Semoga pula selalu dalam lindungan dan keberkahan-Nya plus hepi eperitaim. Baiklah. Agar makin hepi, sekarang kupersembahkan ulasan sebuah novel inspiratif berjudul Terbang. 

Adakah di antara kalian yang pernah membacanya? Atau jangan-jangan, baru pernah menonton filmnya? Yoiii. Novel Terbang yang based on true story ini memang telah difilmkan dengan judul sama. Aku pun sesungguhnya telah lebih dulu menonton film Terbang daripada membaca novelnya.

Bahkan terusterang saja aku baru tahu kalau film tersebut ada novelnya, setelah menerima hadiah lomba menulis dari KOMiK Community (Komunitas Film Kompasiana). 

Silakan baca di sini untuk tahu lebih banyak tentang KOMiK Community.

Andai kata hadiah yang kuterima novel lain (bukan Terbang), kemungkinan besar sampai sekarang aku tak tahu  kalau di dunia ini ada novel tersebut. Hahaha!

Filmnya kutonton pada tahun 2018. Novelnya kubaca pada tahun 2021. Ada selisih tiga tahun, sebelum akhirnya kutahu bahwa Terbang dapat dinikmati dalam bentuk film dan novel.

Sebuah kebetulan yang indah. Sebuah perjodohan yang tak disangka-sangka. Seperti halnya perjodohan Onggy (tokoh utama novel Terbang) dan Candra.

Keduanya bertemu pertama kali ketika Onggy (yang juga dipanggil A Chun) mentraktir Ailing, keponakannya, untuk potong rambut di salon. Yup! Candra adalah karyawan salon yang mereka datangi.

Tanpa banyak drama dan kelokan seperti halnya kisah percintaan kalian (... hahahaha ...  kisah percintaanku juga siiih ...), menikahlah Onggy dan Candra. So sweet mereka. Saling mencintai sepenuh hati. Candra selalu mendukung apa pun yang dilakukan Onggy.

Akan tetapi, ada terlalu banyak ujian atas ketulusan Candra itu. Terkhusus ujian yang berupa jatuh bangunnya perekonomian rumah tangga mereka. Berbeda dengan kisah percintaannya yang mulus, kisah perjuangan Onggy untuk lepas dari jeratan kemiskinan amatlah dramatis. Penuh kelokan, tanjakan, dan turunan tajam.

Onggy yang lahir dan tumbuh remaja di Tarakan pada masa awal Orde Baru, di sebuah keluarga Tionghoa miskin, memang telah akrab dengan kesulitan ekonomi sejak kecil. Jadi, semua kepahitan akibat jatuh bangun usaha yang dirintis tak membuatnya menyerah. Mental perjuangannya telah tertempa dengan valid.

Jauh-jauh ia merantau ke Surabaya untuk kuliah sambil kerja apa saja. Dilanjut merantau ke Jakarta dan sempat pula berada dalam situasi huru-hara kerusuhan '98, yang mencekam bagi orang-orang keturunan Tionghoa. 

Apakah kemudian ia sukses menjadi orang kaya? Di film dan novelnya tidak digambarkan secara eksplisit. Akan tetapi, dalam dunia nyata Onggy memang sukses meraih kebebasan finansialnya. Silakan berselancar di internet dengan kata kunci "Onggy Hianata" untuk tahu lebih banyak.

Begitulah adanya. Kisah Onggy membuktikan bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Usaha yang serius pastilah akan membuahkan hasil yang serius.

 

Dokpri

 

Novel Terbang memang ditulis dengan tujuan untuk menginspirasi dan memotivasi. Pembacanya diharapkan meneladani semangat Onggy untuk sukses. Selain itu, pembaca disadarkan mengenai pentingnya pendidikan untuk meraih masa depan yang baik. 

Andai kata Onggy kecil tak bersekolah, tentulah ia tak bakalan terbuka wawasan dan pikirannya.  Tak bakalan berani bercita-cita tinggi menembus batas cakrawala Tarakan, apalagi berusaha mewujudkannya. 

Novel Terbang juga menyadarkan kita bahwa orang-orang dari etnis Tionghoa sama halnya dengan orang-orang dari etnis lain. Tak selalu kaya raya dari bisnis yang mereka jalankan. Ada pula yang hidupnya sederhana cenderung berkekurangan seperti keluarga Onggy.

Dikisahkan, ayah Onggy hanyalah karyawan sebuah toko kelontong. Ia jujur dan tipe karyawan yang berdedikasi. Akan tetapi, nasibnya kurang mujur sebab pemilik toko tak pernah menaikkan gajinya. 

Alhasil dari sekian banyak anak, hanya A Lie (kakak Onggy) yang disekolahkan. Pertimbangannya, A Lie yang berotak paling encer. Adapun Onggy bisa bersekolah gratis sebab jaminannya kecemerlangan prestasi sang kakak. Oleh sekolah, A Lie diberi beasiswa berupa nol biaya sekolah bagi adiknya. 

O, ya. A Lie dan A Chun bersekolah di sekolah negeri. Jadi, pergaulan di situ lintas suku dan agama, baik dari kalangan siswa maupun guru. Demikian pula halnya dengan pergaulan keseharian keluarga mereka. 

Sesungguhnyalah Terbang menyadarkan kita akan kemajemukan Indonesia, yang mesti disikapi dengan sikap saling bertoleransi. Bukan malah disikapi dengan antipati dan caci maki.

Menurutku, novel ini pun menegaskan bahwa seseorang bakalan sukses atau tidak, patut dihargai atau tidak, berdasarkan upaya-upaya yang dilakukan dan sikapnya. Sama sekali bukan berdasarkan SARA yang melekat padanya. 

Yup! Novel ini idealnya wajib dibaca oleh anak-anak muda agar berani "terbang" demi meraih cita-cita tertinggi mereka. Namun, orang-orang menuju tua dan yang sudah beneran tua pun tak haram untuk membacanya. Toh mencari inspirasi dan motivasi tak melulu milik anak-anak muda. 

Terlepas dari segala pujian dan sisi baik yang dimiliki, novel Terbang sukses menambah wawasan keindonesiaan pembaca. Salah satunya, melalui kisah Onggy beserta keluarga dan teman-temannya, pembaca menjadi tahu kondisi Tarakan semasa periode awal Orde Baru. Yang pastilah amat jauh perbedaannya dengan kondisi Tarakan sekarang. 

Secara umum novel ini kunilai bagus dalam hal ide dan cara berceritanya. Tujuan menginspirasi dan memotivasinya pun disampaikan dengan cerdik melalui adegan/dialog yang membuat pembaca tersenyum.-senyum simpul. Mengisyaratkan bahwa kepahitan hidup tak melulu harus diratapi, tetapi adakalanya butuh ditertawakan juga. 

Toh kenyataannya, ada sisi-sisi konyol yang berpotensi mengundang tawa dalam hidup ini. Iya. Bukankah hidup memang penuh warna?

 

SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku: TERBANG Menembus Langit

Penulis: Silvarani

Penerbit: Noura 

Tahun Terbit: 2018

Tebal Buku: xii + 276 hlm

Ukuran Buku: 14 x 22 cm

ISBN: 978-602-385-456-1




Kamis, 15 April 2021

[Book Review] Satu Kampung Tiga Maestro

 

Sampul Depan

 

APA jadinya jika sebuah kampung melahirkan tiga maestro? Wow! Jadinya ya keren. Punya satu maestro saja sudah keren, kok. Kalau sampai punya tiga berarti keren sekali. Yup! Demikianlah yang terjadi dengan Kampung Kemlayan.

Kampung yang dijejali lorong sempit itu berada di salah satu sudut Kota Solo. Menempati kawasan yang sesungguhnya tak begitu luas. Pada masa lalu merupakan domisili para abdi dalem seniman istana Kasunanan. 

Dengan komposisi penduduk yang seperti itu, sudah pasti Kemlayan punya keistimewaan tersendiri jika dibandingkan kampung lain pada umumnya. Iya. Kemlayan masa lalu memang menyimpan sederet kisah unik. 

Lebih dari itu, Kemlayan merupakan satu-satunya kampung yang dihuni rombongan seniman dalam rentang panjang Dinasti Mataram Islam. Dalam lintasan sejarah Yogyakarta pun tak ada kampung yang serupa dengan Kemlayan. 

Begitulah. Kemlayan itu tiada duanya. Akan tetapi, entah mengapa justru tersingkir dari panggung sejarah Jawa. Bahkan, ketika maestro tari Sardono W. Kesuma mendunia di era yang lebih modern, Kemlayan tetap kurang terekspose.*Menurut pengamatan saya.*  

Jangan-jangan pula penduduknya sekarang tak mengerti masa lalu Kemlayan. Atau, sebenarnya cukup tahu namun tak antusias sehingga tak pernah bercerita apa pun tentang kampungnya.*Saya curiga.* 

Kiranya kecurigaan saya beralasan. Buktinya kawan saya yang bertempat tinggal di Kemlayan (dan ia memang asli situ) tak pernah berkisah perihal keistimewaan kampungnya. Sementara pada saat yang bersamaan, saya tak asing dengan nama Sardono W. Kesuma.

Entahlah. Hal demikian terjadi di antara kami saja atau memang jamak terjadi pada warga Kemlayan kekinian. Kalau memang jamak terjadi, duuuh ... gawat! 

Untung saja terbit buku ini. Sebuah buku yang sarat informasi penting mengenai Kemlayan beserta para seniman tari-karawitan terkemuka yang dilahirkannya. Beneran. Isinya sungguh padat dan kerad. Mengungkap kisah-kisah spektakuler yang tersimpan di kampung tua tersebut. 

Buktinya selain membuat saya kian paham dengan sosok Sardono W. Kesuma, buku ini juga membuat saya tahu Mlayawidada dan S. Ngaliman, yang sebelumnya tak pernah saya ketahui sama sekali. 

Yang menakjubkan, saya pun menjadi tahu bahwa De Tjolomadoe, ternyata merupakan objek wisata keren yang salah kedaden .... *Kalau kepo bagaimana salah kedaden-nya, silakan baca langsung bukunya, ya.*

 

Kalau ingin tahu lebih detil mengenai De Tjolomadoe, silakan baca ulasan kompletnya di sini.

 

Yang lebih menakjubkan, saya bahkan mendapatkan informasi tentang ciu bekonang dari buku ini. Wow! Senang dong, saya. Serasa menemukan harta karun. Selama ini saya 'kan penasaran dengan minuman keras legendaris tersebut. Hahaha! 

Pendek kata, ada banyak pencerahan dan informasi terkait dunia seni tari dan karawitan dalam buku ini. Mulai dari yang berat hingga yang "remeh temeh". Yang bikin saya terkejut juga ada. Misalnya kisah tentang Sardono yang lolos dari upaya pembunuhan gara-gara kreasi dan inovasinya dianggap merusak pakem. Dianggap tidak nJawani.

Buku yang merupakan hasil penelitian sejarah selama 10 tahun ini sungguh keren. Darinya kita menjadi tahu banyak tentang Kemlayan. Saya, yang dahulu pernah berkunjung tanpa paham simpanan kisah sejarahnya, serasa diajak kembali menapaki lorong-lorong sempitnya. Tentu dengan sudut pandang dan imajinasi baru tentangnya. 

Buat kalian, wahai seniman muda dan calon seniman, bacalah buku ini. Demi memperluas cakrawala berpikir terkait seni tari dan karawitan plus kesenian pada umumnya. Kalau saya yang bukan seniman saja mau membacanya, berarti kalian mesti lebih intensif membacanya.  


Sampul Belakang
 

SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku: 

SATU KAMPUNG TIGA MAESTRO Biografi Sardono W Kusuma, Mlayawidada, dan S, Ngaliman

Penulis: 

Heri Priyatmoko

Penerbit: 

Bukukatta bekerja sama dengan Kemendikbud 

Tahun Terbit:

Desember 2020

Ukuran Buku:

13,5 x 20 cm

Tebal Buku:

x+254 hlm

ISBN:

9786237245483



Sabtu, 20 Maret 2021

[Book Review] 168 Jam dalam Sandera

 
 
SUDAH pernah melihat buku yang sampul depannya tampak pada foto di atas? Atau, malah sudah pernah membacanya? Kalau sudah pernah membacanya, baik dengan sungguh-sungguh maupun secara sambil lalu, mestinya tak asing lagi. Bahkan saat melihat foto di atas, bisa seketika menjadi teringat akan isinya. Jadi, ya sudah. Tak perlu lanjut baca tulisan ini. Muehehehe .... 
 
Namun kalau lupa, ayolah lebih baik lanjut membaca. Lagi pula, saya pasti sedih kalau sudah repot-repot menulis, eh, dicuekin saja. Hahaha!
 
O, ya. Sebenarnya buku ini terbitan lama. Saya pun membacanya jauh sebelum pandemi Corona terjadi. Ketika mudik ke kampung halaman (Pati), secara tak sengaja saya menemukannya nyelip di antara koleksi buku bapak saya.
 
Jadi sesungguhnya, rencana untuk mengulasnya pun sudah lama. Kalau faktanya baru sekarang rencana tersebut tertuntaskan, yeah .... Apa boleh buat? Hehehe .... 
 
Tentang apakah buku ini?  Sesuai dengan judulnya, buku ini mengisahkan pengalaman disandera selama 168 jam. 
 
Siapa yang disandera? Yang disandera Meutya Hafid (reporter Metro TV) dan Budiyanto (kamerawan Metro TV). Lihat foto sampul buku di atas. Keduanya tampak berdiri diapit kedua penculik mereka. 
 
Siapa yang menculik? Penculik mereka adalah pasukan Mujahidin Irak. Tatkala itu Meutya dan Budi sedang bertugas meliput pemilu di Irak. Ketika tugas tersebut kelar dan mereka sudah dalam perjalanan keluar dari Irak, datang tugas susulan dari Jakarta. 
 
Mereka diminta sekalian menunggu hasil pemilu dan melaporkan hasilnya. Sembari menunggu,  mereka juga diminta meliput kemeriahan Hari Raya Asyura di Karbala (jika ingin tahu tentang Hari Raya Asyura silakan berselancar sendiri, ya).
 
Nah! Dalam perjalanan putar balik ke Baghdad itulah "drama" dimulai. Ketika singgah di sebuah POM bensin, sekelompok orang yang di kemudian hari diketahui dari kelompok Mujahidin Irak, menculik Meutya dan Budi beserta pemandu mereka (yang merangkap sebagai sopir).
 
Perlu diketahui bahwa POM bensin tersebut berlokasi di wilayah kekuasaan kelompok Sunni. Sementara perayaan di Karbala dilakukan oleh kelompok Syiah. Mujur bagi Meutya dan Budi, ketika para penyandera menanyakan keperluan mereka datang ke Irak, Meutya tak kepleset lidah.  
 
Meutya menjawab bahwa mereka akan meliput pemilu. Itu saja. Tak sampai menambahkan kalau hendak meliput perayaan di Karbala juga. 
 
Tentu akan lain kejadiannya bila sampai kepleset lidah. Pasti perlakuan yang mereka terima selama disandera bakalan berbeda. Hal ini mengingat adanya friksi  antara kelompok penyandera dan kelompok penyelenggara perayaan yang hendak diliput tim jurnalis Metro TV tersebut. 
 
Tentu saja keberuntungan tak kepleset lidah itu adalah keberuntungan yang berdasar. Meutya memang telah mempelajari detil medan tempatnya bertugas. 
 
Seiring dengan upaya keras Metro TV dan pemerintah RI untuk membebaskan Meutya dan Budi, kisah penyanderaan keduanya pun menjadi buah bibir dunia. 
 
Singkat cerita atas segala daya upaya banyak pihak, mereka akhirnya dibebaskan tanpa syarat. Semua orang pastilah senang ketika pihak penyandera mengumumkan pembebasan tersebut. Namun sebenarnya, sebelum Meutya dan Budi keluar dari Irak, semuanya belum bisa merasa lega. 
 
Bisa saja usai dilepas kelompok Mujahidin, mereka disandera lagi oleh kelompok lainnya. Bisa pula terjebak ranjau darat atau tertembak atau terkena kemungkinan buruk lainnya. 
 
Situasinya serba rumit. Kondisi dan lokasi penyanderaan pun mengerikan; berupa gua di tengah gurun pasir. Letaknya tak jauh dari medan tempur. Maka perjalanan menuju perbatasan Irak-Yordania merupakan perjalanan yang sungguh-sungguh tak mudah. Risikonya amat besar. 
 
Meutya menuliskan pengalaman mereka disandera dengan lumayan deskriptif dan detil. Jadi, ketegangan yang mereka rasakan selama tinggal di gua bersama sang penyandera bisa tertransfer ke pembaca. Pendek kata, membaca buku ini serasa membaca sebuah novel petualangan yang menegangkan. 
 
Menurut saya, terlepas dari beberapa kekurangannya, buku ini wajib dibaca oleh kaum muda yang bercita-cita menjadi jurnalis. Isinya bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk meraih cita-cita tersebut.  
 
Selain pengantar dari Presiden SBY, buku ini memuat banyak testimoni dari sejumlah tokoh maayarakat. Salah satunya dari Babang NicSap. Hmm. Silakan cari di mana testimoninya pada foto-foto berikut. 
 






 
Demikian ulasan saya terhadap buku 168 Jam dalam Sandera. Tak jadi soal andai kata baru sekarang kalian tahu buku ini. Toh faedah dan spiritnya tak tereduksi meskipun terentang jarak panjang antara tahun terbitnya dan tahun kalian membacanya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali 'kan? 
 
Peristiwa penyanderaan ini pun menyadarkan Meutya dan Budi, betapa  nyawa sungguh berharga jika dibandingkan dengan berita paling eksklusif sekalipun. 
 
O, ya. Ada satu perkataan Budi yang sangat menyentuh hati saya. Berikut kutipannya. 
 
"Kalau di peluru itu tidak tertera nama kita,  ya kita tidak akan kena, Mut. " (hlm 209) 
 
Iya. Benar kata Budi. Segalanya memang telah tertera di laufulmahfuz.
 
 
SPESIFIKASI BUKU 
 
Judul Buku: 
168 JAM DALAM SANDERA Memoar Jurnalis Indonesia yang Disandera di Irak
 
Penulis:
Meutya Hafid

Penerbit:
Penerbit Hikmah
 
Tahun Terbit: 
2007
 
Ukuran Buku:
13x19 cm
 
Tebal Buku:
219 hlm
 
ISBN:
9789791141215
 

Rabu, 25 November 2020

[Book Review] Mereka Bilang Aku Gila




 
SUATU ketika sebelum pandemi covid-19 terjadi, seperti biasa aku membuang jenuh ke Grhatama Pustaka Yogyakarta. Yoiii. Perpustakaan yang besar, keren, dan menghibur itu. Pokoknya lumayan cocok untuk berwisata murah meriah penuh makna, deh. 
 
Berhubung niatku ke situ memang membuang jenuh, aku tak punya target untuk berburu buku tertentu. Alhasil, saat memasuki ruangan peminjaman buku, aku berkeliling-keliling santuy. Dari satu rak ke rak berikut. Menelusuri judul buku-buku dari satu genre ke genre lain. 
 
Hingga akhirnya, pandangan mataku terbentur pada sebuah buku berjudul Mereka Bilang Aku Gila. 
 
Aku terpaku mengamati buku itu. Apalagi di pojok kanan atas sampul depannya tertulis "Kisah Nyata". Sungguh bikin kepo 'kan? Segera kuputuskan untuk mengambilnya dari rak, kemudian mencari posisi enak buat menuntaskannya. 
 
Kebetulan tempat duduk kosong yang kujumpai berupa sofa panjang di pojokan tersembunyi. Wah, cocok. Posisi enak betulan sebab bisa membaca sembari selonjoran kaki. Hehehehe .... 
 
Lalu, apa isi Mereka Bilang Aku Gila? Wah, wah, wah. Ternyata isinya sungguh mengaduk-aduk perasaan. Berulang kali aku merasa perlu untuk menengadahkan wajah. Menahan air mata agar tak keluar. Malu 'kan ya kalau dilihat oleh pengunjung lain. Ngapain baca buku tiba-tiba ... kumenangiiis? 
 
Mereka Bilang Aku Gila adalah memoar yang ditulis langsung oleh seorang penderita Bipolar Disorder. Lalu, penyakit apakah Bipolar Disorder itu? Bipolar Disorder adalah gangguan kondisi kejiwaan yang membuat penderitanya mengalami perubahan emosi secara drastis. Misalnya dari riang gembira bisa seketika dalam hitungan detik menjadi kalut dan frustrasi berat.
 
Karena penulisnya seorang penderita Bipolar Disorder, otomatis semua yang dikisahkan di dalam Mereka Bilang Aku Gila adalah "temuan dari fakta di lapangan". Tepatnya fakta dari sudut pandang si penderita. 
 
Bukan dari sudut pandang orang-orang di sekelilingnya. Bukan pula dari sudut pandang para ahli yang mendampingi dan mengobatinya. Bukan sekadar berdasarkan ciri-ciri empiris yang telah diteorikan.
 
Jadi, Mereka Bilang Aku Gila mengajak pembaca langsung menyelami isi otak dan hati para penderita Bipolar Disorder. Secara riil dari kacamata praktisi (subjek penderita). Dengan demikian diharapkan, pembaca bisa lebih berempati kepada mereka. Kutekankan sekali lagi, berempati. Bukan mengasihani. 
 
Para penderita Bipolar Disorder sesungguhnya memang tak butuh dikasihani. Yang mereka butuhkan adalah empati dan pemahaman akan kondisi kejiwaan mereka. Tentu agar mampu menjalani hari-hari dengan baik. 
 
Dalam arti, situasi emosional mereka bisa lebih terkendali. Tidak meliar sampai berkesempatan untuk mengambil keputusan buruk. Misalnya mengonsumsi narkoba, melakukan seks bebas, atau (yang terburuk) bunuh diri.
 
Empati dan pemahaman itulah yang sebenarnya dicari-cari oleh Ry Kusumaningtyas, si penulis Mereka Bilang Aku Gila. Namun, apa boleh buat? Yang diperolehnya malah selalu stigma. Cap negatif atas apa pun yang dilakukannya. Nyaris tak ada orang yang berusaha memahami dan mencari tahu, apa penyebab dari semua hal yang dilakukannya, yang dipandang negatif oleh khalayak. 
 
Bayangkan! Betapa berat beban jiwa yang ditanggung Ry. Ia mesti berjuang melawan sakitnya sekaligus bertahan untuk mengatasi serangan stigma dari lingkungannya. Bahkan, keluarga dan kerabatnya pun bersikap begitu. Tak ada yang mengerti. Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga. Berkali-kali. Sepanjang usia.
 
Untunglah Ry merupakan sosok tangguh. Ia sanggup bertahan meskipun tak selalu mulus prosesnya. Buktinya, ia bisa berjuang sampai berhasil menjadi PNS. Bukankah itu berarti ia mampu "menormalkan" diri? Berarti punya daya juang tinggi sehingga berani dan (akhirnya) terbukti mampu bersaing secara prestasi dengan peserta lain yang sehat jiwa raga?  
 
Singkat kata, buku ini sangat menginspirasi dan memotivasi. Membuat pembaca tergerak untuk mensyukuri detik demi detik kehidupan yang dikaruniakan-Nya. Tersadarkan untuk lebih menghargai hidup, apa pun bentuknya. 
 
Hmm. Aku sendiri merasa malu sebab setelah kupikir ulang, ternyata aku masih kerap mengeluh. Maafkan aku, Ya Allah.
 
Alhasil tatkala itu, aku pulang dari Grhatama Pustaka Yogyakarta dengan kesadaran baru. Akan tetapi, aku tetap tak lupa untuk mampir makan di kantinnya. Alhamdulillah. Hehehehe ....

 
 
SPESIFIKASI BUKU 
 
Judul Buku:
MEREKA BILANG AKU GILA Perjuangan Hidup Pengidap Bipolar Disorder
 
Penulis: 
Ry Kusumaningtyas
 
Penerbit: 
Galang Pustaka
 
Tahun Terbit:
2013 (Cetakan Pertama)
 
Ukuran Buku:
14 x 21 cm
 
Tebal:
335 hlm
 
ISBN: 
978-602-817-4985
 
 

Kamis, 08 Oktober 2020

[Book Review] DIPLOMASI CINTA Reborn




Memahami Hidup dari Diplomasi Cinta 
Buku ini berpotensi membuat siapa pun 
jatuh cinta kepadanya, 
pada pandangan pertama.
 Betapa tidak?
 Judulnya saja romantis. 
Gambar sampul depannya pun provokatif.
 Apalagi ada embel-embel 
 Reborn dan Limited Edition segala. 
Ditambah pula dengan adanya subjudul
 “Memoar Cinta yang Tersembunyi”. 
Sungguh sebuah perpaduan 
yang menimbulkan rasa penasaran. 
 
Lalu, 
bagaimana halnya dengan 
13 memoar cinta yang dikisahkan? 
Terlepas dari beberapa kekurangan teknisnya, 
secara umum bisa dikatakan bahwa 
 DIPLOMASI CINTA Reborn 
punya beberapa keistimewaan. 
Dan sesungguhnya, 
keistimewaan-keistimewaan itulah 
yang menjadi daya pikatnya.
 

Apa saja keistimewaan yang dimaksud? 

 Pertama, 

tidak hanya berkisah tentang jalinan cinta asmara, 

tetapi berkisah juga mengenai cinta 

dalam pemaknaan yang lebih luas. 

Contohnya mengenai cinta kepada sesama 

(dalam memoar “Runtah”); 

cinta antara ibu dan anak 

(dalam memoar “Sakum dan Nasilah”). 

 

Kedua, 

keberaniannya berkisah tentang cinta yang tak lazim, 

yaitu kisah percintaan di kalangan sesama jenis

 (dalam memoar panjang yang berjudul “Sahabat”). 

O, ya. Bila Anda sudah membaca cetakan pertama dari buku ini, 

tentu belum pernah membacanya. 

Memoar yang berjudul “Sahabat” dan “Mistery of Love” 

baru ditambahkan pada cetakan kedua.     

 

Ketiga, mengajak pembaca merenungi kehidupan

 meskipun yang diceritakan adalah cinta 

dengan segala variannya. 

Misalnya memoar “Sahabat” 

yang menyentil kesombongan keluarga

 seorang reserse polisi kepada Dion. 

Padahal secara ekonomi, 

keluarga tersebut tergolong keluarga nyaris miskin. 

Tak patut sama sekali untuk bersikap sombong. 

Orang miskin kok sombong.

Sementara aturannya, 

orang kaya raya sekalipun tak boleh sombong. 

Padahal pula, 

adik sang reserse polisi merupakan pencuri laptop 

milik Dion. 

Bahkan sebelumnya,

 telah kepergok berkali-kali mencuri HP di tempat lain.    

Kiranya itulah keunikan cara bercerita sang penulis. 

Dalam sebuah memoar yang beraroma bucin pun, 

ia sempatkan untuk menepuk bahu para pembaca. 

Mengingatkan mereka tentang 

nilai-nilai hidup di luar tema cinta. 

Yang pastinya bisa kita pelajari atau ambil hikmahnya. 

*bucin = budak cinta.* 

 

Keempat, memberikan inspirasi dan motivasi 

kepada pelajar/mahasiswa

yang uang jajannya pas-pasan,

 untuk mau sekolah/kuliah sembari 

bekerja atau berbisnis apa saja. 

Misalnya dengan membantu berjualan gorengan

 (dalam memoar “Obsesi”) 

atau menjualkan aneka produk fesyen dengan cara konsinyasi

 (dalam memoar “Penitipan Barang”). 

 

Banyak dialog dan narasi ceplas-ceplos 

yang menggelitik dalam buku ini. 

Yang paling epik terdapat dalam memoar “Diplomasi Cinta”, 

yaitu saat Morizon menolak cinta Dion. 

Tentu saja Dion patah hati. 

Namun, ia tidak sakit hati 

sebab Morizon tidak menolaknya dengan marah-marah. 

Atau, sampai merendahkan harga dirinya.

 .... / “Aku, aku suka kamu.”/ 

“Kamu simpan saja perasaanmu itu. Kita berteman biasa saja.”?

/ .... / 

“Jangan menangis, Dion. Ada orang yang melihat kita. 

Kita lebih baik berteman. 

Sangat diplomatis ‘kan jawabanku?

 Karena kita sama-sama satu komunitas sastra. 

Tidak perlu suka-sukaan begitu, ya? 

Biasa saja seperti kamu berteman dengan yang lain.”

(halaman 180)

 

Demikianlah adanya DIPLOMASI CINTA Reborn. 

Isinya cukup menghibur sekaligus menyadarkan kita, 

betapa dalam hidup ini ada banyak makna dan bentuk cinta. 

Ada cinta yang lazim, ada pula yang tak lazim. 

Yang masing-masing tentu punya 

konsekuensi tersendiri dalam hidup. 

Sungguh menarik. 

 

 

SPESIFIKASI BUKU

Judul: DIPLOMASI CINTA Reborn 

Penulis: Ngadiyo 

Penerbit: Penerbit Diomedia 

Tahun Terbit: Mei 2020 (Cetakan Kedua) 

Tebal: xii + 243 hlm 

Ukuran: 13 x 19 cm

ISBN: 978-623-7880-05-9