Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2022

[Book Review] NEWCOMER A Mystery

HAI, hai, hai. Saya hadir lagi, nih. Maafkan sekali ya, atas keraiban saya sekian bulan ini. Namun perlu dicatat, saya raib dari Rak Buku Tinbe bukan sebab malas menulis. Justru sebaliknya, karena ada banyak kerjaan nulis. 

Kabar baiknya, di sela-sela kegiatan menulis ini dan itu saya sanggup meluangkan waktu untuk membaca buku. Akan tetapi, hasrat untuk segera berbagi hasil pembacaan tersebut di sini, rupanya terkendala rasa lelah. Hehehe ....

Ternyata ketaksanggupan saya menepiskan rasa lelah itu berakibat fatal. Blog ini jadi merana tak kunjung punya tayangan baru. Syukurlah semalam saya memutuskan, "Harus mulai mengulas buku lagi sesegera mungkin!"

Taraaaaaa. Inilah hasilnya. Saya putuskan bangkit lagi dengan mengulas novel keren karya Keigo Higashino. Judulnya Pembunuhan di Nihonbashi (Newcomer). Kalau dalam bahasa Jepangnya Shinzanmono.
 

Dokpri


Sebagaimana tersirat pada judulnya, novel ini bercerita tentang peristiwa terbunuhnya seorang perempuan di Nihonbashi. Perlu diketahui, Nihonbashi merupakan sebuah distrik di Tokyo.

Lalu, siapa yang dimaksud dengan si pendatang baru? The newcomer? Newcomer yang dimaksud adalah Detektif Kaga Kyoichiro.

Detektif Kaga sebetulnya sudah sangat berpengalaman dalam menangani kasus kriminal semacam pembunuhan. Adapun sebutan Newcomer tersemat kepadanya karena ia baru saja ditugaskan di Nihonbashi. Hanya sedikit waktu sebelum pembunuhan terjadi. 

Suatu perjalanan nasib yang menarik 'kan? Istilahnya sedang taraf perkenalan dengan situasi dan kondisi medan tugas, malah langsung berhadapan dengan kasus pembunuhan yang unik dan rapi.

Mengapa saya sebut unik dan rapi? Karena Mineko, perempuan korban pembunuhan itu, menemui ajal dengan pengantar seutas tali gasing. Ya, Mineko dicekik dengan tali pemutar mainan zadoel itu.

Terlepas dari nilai kejahatannya, mesti diakui bahwa ide tersebut out of the box. Buktinya polisi dan detektif butuh waktu lumayan lama juga untuk mengetahui jenis tali apa yang dipakai untuk mencekik Mineko.

Saya pikir Keigo Higashino amat piawai merangkai cerita mengenai proses penyelidikan yang dilakukan Detektif Kaga. Narasinya mengasyikkan. Pembaca seolah-olah diajak berkeliling distrik Nihonbashi sekaligus berkenalan dengan para penghuninya. Deskripsinya cukup detil.

O, ya. Ada dua poin dalam novel ini yang menarik perhatian saya. Yang saya pikir memang sengaja disisipkan secara manis ke dalam cerita. Yang saya duga agar menjadi bahan renungan pembaca. Atau, minimal sebagai informasi mengenai dinamika sosial.

Poin yang saya maksudkan adalah narasi tentang fenomena terkini anak-anak muda di Jepang, yang cenderung mulai bebas pergaulannya. Ada yang kawin lari. Ada pula yang tinggal serumah tanpa menikah.

Adapun poin yang satunya, yaitu kritik terhadap sikap orang tua yang terlalu memanjakan anak. Disampaikan bahwa memanjakan anak sama sekali bukan hal baik. Dampak buruknya besar. Terlampau besar.

Si pembunuh Mineko, misalnya. Ia sampai pada keputusan untuk membunuh gara-gara dipicu oleh hasrat memanjakan (menyelamatkan) anaknya yang nyaris ketahuan kalau nilep uang kantor.
 
Anak dan menantu si pembunuh memang bergaya hidup mewah. Selalu butuh duit melimpah ruah. Sementara kalau bisa lebih hemat, tak perlu sampai berkekurangan.

Alhasil, si pembunuh yang berposisi sebagai akuntan pajak yang dipercayai Mineko dan mantan suaminya itu berpikir pendek. Uang mereka malah diselewengkan. Semata-mata demi memenuhi hasrat hidup mewah anak dan menantunya.
 
Itulah sebabnya ketika Mineko butuh uang dan bermaksud mengambil bagiannya, si akuntan pajak panik. Karena takut ketahuan perilaku korupnya, menghilangkan nyawa Mineko pun dijadikannya solusi gegabah.  

Jadi selain menyuguhkan kisah detektif yang cara kerjanya rumit, penulis juga menyampaikan fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya. Kerennya, fenomena sosial itu tidak sekadar sebagai tempelan, tetapi bisa menyatu ke dalam cerita.

Demikian ulasan saya terhadap Pembunuhan di Nihonbashi. Ngomong-ngomong, novel ini adalah karya Keigo Higashino pertama yang saya baca. Yang ternyata langsung bikin saya ngefans berat kepadanya.

Ahaiii. Tuan Keigo Higashino yang terhormat, saya akan membacai karya-karya Anda lainnya.

SPESIFIKASI BUKU 
 
Judul Buku:
Pembunuhan di Nihonbashi (Newcomer)
Penulis:
Keigo Higashino
Alih Bahasa:
Faira Ammadea
Editor:
Indah S. Pratidina
Sampul:
Martin Dima
Penerbit:
Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit:
2020
Cetakan:
Kesembilan (Agustus 2022)
Tebal Buku:
304 hlm
Ukuran Buku:
14 x 20 cm
ISBN:
978-602-06-2190-6
ISBN Digital:
978-602-06-2191-3

 





Minggu, 10 Juli 2022

[Book Review] REPLY 1997

Dokpri


HALO, pembaca Rak Buku Tinbe? Apakah Anda sekalian merasa familiar dengan judul Reply 1997? Merasa pernah nonton drama Korea dengan judul tersebut? Yoiii. Wajarlah kalau ada perasaan begitu. 

Mengapa saya sebut wajar? Karena kenyataannya, Reply 1997 merupakan penovelan (novelisasi) drama Korea. Di sampul depan tercantum keterangan demikian. 

Tercantum pula nama Lee Woo Jung sebagai penulis skenario. Di bawahnya tertulis nama Park Ji Yung sebagai novelis. 



Sinopsis 

Novel ini berkisah tentang enam orang yang bersahabat sejak masa SMA hingga masa dewasa. Mereka terdiri atas empat cowok dan dua cewek. Para cowok bernama Yoon Yoon Je, Kang Jung Hee, Bang Seong Bae, dan Do Hak Chan. Sementara yang cewek bernama Mo Yu Jeong dan Seong Shi Won.

Tentu masing-masing memiliki karakter tersendiri. Prestasi, hobi, dan selera musik mereka pun berlainan. Tak jarang pertengkaran dan romansa cinta monyet juga mewarnai persahabatan tersebut.

Yoon Je jatuh cinta berat kepada Shi Won. Ia kesal sebab gadis itu sering ke mana-mana berdua dengan Jun Hee. Dikiranya mereka pacaran, padahal Shi Won justru berpacaran dengan Tae Woong (kakak kandung Yoon Je). Sementara Jun Hee curhat jujur kepada Shi Won bahwa ia memendam "cinta terlarang" kepada Yoon Je.

Di sisi lain Yu Jeong nekad menyatakan cinta kepada Yoon Je, tetapi ditolak secara halus. Yu Jeong yang mudah move on sekaligus mudah jatuh cinta itu tak terlalu ambil pusing. Terbukti ia kemudian malah berkencan dengan Hak Chan.

Kurang lebih 15 tahun kemudian, setelah sempat terpisah beberapa tahun sebab Hak Chan kuliah di luar negeri, pada sebuah reuni mereka benar-benar menyebarkan undangan pernikahan. Tatkala itu Shiwon telah menjadi istri Yoon Je dan sedang mengandung anak kedua.

Tae Woong memang telah merelakan Shi Won untuk sang adik. Sementara ia sendiri menikahi dokter yang pernah mengoperasinya. Yang ternyata idem ditto dengan Shi Won, yaitu sama-sama merupakan fangirl.

Bagaimana dengan Jun Hee dan Seong Jae? Kedua cowok tersebut rupanya kurang hoki dalam urusan percintaan. Keduanya masih melajang dengan alasan masing-masing. 

Tentu saja Reply 1997 juga mengisahkan tentang pencapaian karier sekelompok sahabat itu. Yang ternyata pencapaian mereka berbanding lurus dengan prestasi akademik dan minat masing-masing semasa SMA di Busan. 

Yoon Je dan Jun Hee yang dahulu paling pintar di sekolah, di masa dewasa pun memiliki karier cemerlang sebagai jaksa dan dokter bedah. 

Yang lain bagaimana? Empat lainnya tak kalah keren, dong. Semua punya pekerjaan sesuai dengan minat dan karakter masing-masing. 

Yang berarti bisa menghasilkan duit untuk membiayai hidup. Bisa mandiri. Tak menjadi parasit keluarga dan masyarakat. Bukankah itu keren? 

Kelebihan Sekaligus (Mungkin) Kelemahan

Reply 1997 menggunakan alur sorot balik (flashback) zigzag. Dalam arti, cara penceritaannya berselang-seling. Sebentar bercerita tentang masa kini, sebentar bercerita tentang masa lalu. Bolak-balik.

Hal tersebut tampak dalam penyusunan daftar isi sebagai berikut.

REUNI #1/Semua Berkumpul Kembali
Bab 1 Semangat Fangirl
Bab 2 Pemberontakan Besar-besaran
REUNI #2/Ah, Terkenang Masa Lalu
Bab 3 Yang Ada di Dalam Kamar Kosong
Bab 4 Ujian Masuk Universitas Kedua
REUNI #3/Apa Kabar?
Bab 5 Cara Menghadapi Kebohongan
REUNI #4/Maret Tahun Depan?
Bab 6 Maaf
REUNI #5/Saatnya Bersikap Jujur
Bab 7 Rantai Makanan
REUNI #6/Sampai Bertemu di Pesta Pernikahan

Sebagai catatan, REUNI #1-REUNI #3 perlu dibaca dengan cermat agar tak bingung. Mengapa? Karena yang digunakan selalu sudut pandang orang pertama (aku), sementara orang pertamanya berganti- ganti. Kadangkala Shi Won, kadangkala Jun Hee, kadangkala yang lainnya.

Bagi saya, hal tersebut menjadi kelebihan novel ini. Membuat gaya penceritaan dinamis, tidak membosankan, dan bisa memelihara rasa penasaran pembaca.

Perlu dicatat, rasa penasaran yang terjaga ini memang wajib hadir dalam sebuah novel supaya pembaca terikat. Bukankah kalau sudah terikat, pembaca bakalan bersemangat untuk membaca hingga tuntas?

Namun di sisi lain, bagi pembaca yang malas berpikir keras, bisa menjadi alasan untuk ngedumel, "Kok begini, sih? Habis cerita ini, kenapa nyambungnya ke sini? Blablabla ...."

Pelajaran yang Dapat Diambil

Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari Reply 1997. Di antaranya yang terkait dengan fangirl, yang umumnya dianggap buruk oleh khalayak dan mengganggu konsentrasi bersekolah. 

Faktanya, Shi Won justru sukses diterima di universitas impiannya gara-gara menjadi fangirl. Universitas itu merupakan tempat berkuliah Oppa Tony, idola beratnya.

Bermula dari sekadar menjadi penggemar fanatik, Shi Won kemudian berproses menjadi penulis fanfic, fan fiction favorit. Yup! Shi Won cukup berbakat bikin fiksi yang para tokohnya adalah anggota boyband idolanya.

Kemahiran itulah yang mengantarkannya jadi pemenang lomba menulis yang diselenggarakan fakultas sastra universitas impiannya. Karena juara satu, ia mendapatkan poin plus ketika mengikuti ujian masuk ke universitas tersebut.

Hal demikian mengingatkan bahwa semangat fangirl ataupun semangat mengidolakan apa saja/siapa saja jika dikelola dengan benar, hasilnya juga bisa positif. 

O, ya. Fangirl adalah kumpulan penggemar boyband. Hmm. Apakah engkau juga seorang fangirl? Hehehe ...

Penutup 

Demikian hasil pembacaan saya terhadap Reply 1997. Semoga berfaedah. Semoga dapat juga memantik rasa ingin membacamu. 

SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku: 
Reply 1997
 
Penulis Skenario: 
Lee Woo Jung
 
Novelis: 
Park Yi Jung
 
Alih Bahasa: 
Lingliana 
 
Desain Sampul: 
Marcel A.W.
 
Penerbit: 
Gramedia Pustaka Utama
 
Tahun Terbit: 
2018 (Cetakan Kedua, Februari)
 
Tebal Buku:
369 hlm
 
Ukuran Buku: 
14 x 20cm
 
ISBN:
978-602-03-3831-6
 
 
 

Kamis, 31 Maret 2022

[Book Review] Lukisan Langit

Dokpri

BILA Anda mencari bacaan ringan sekadar pembunuh waktu, tanpa ekspektasi apa pun, boleh-boleh saja membaca buku ini. Hanya saja, saya tidak merekomendasikannya. Kalau merekomendasikannya, saya khawatir Anda bakalan protes begitu kelar membacanya.

Apa boleh buat? Saya tak bisa memaksakan diri untuk mengatakan bahwa novel ini menarik. Andai kata ada di antara Anda sekalian yang pernah membacanya dan berpendapat lain, tak jadi soal. Ini cuma perbedaan selera. Oke?

Mungkin semua bermula dari informasi yang terdapat pada Profil Penulis. Di situ disebutkan bahwa Agnes Davonar (sang novelis) adalah sebuah fenomena di dunia sastra Indonesia. Alhasil, seketika saya membayangkan bakalan menikmati sebuah novel yang spektakuler.

Faktanya? Ternyata saya ketinggian ekspektasi. 

Akhir cerita Lukisan Langit memang sedikit tak terduga. Dimaksudkan sebagai kejutan agar menarik. Akan tetapi, saya merasa logika ceritanya agak dipaksakan demi mencapai kepentingan "akhir cerita yang tak terduga" itu. 

***

Dikisahkan bahwa Rama beserta empat koleganya ditugaskan ke Palu sebagai dokter internship. Di kota tersebut Rama jatuh cinta berat pada sebuah lukisan berjudul "Lukisan Langit" dan sang pelukisnya sekaligus (Angel). Sampai-sampai Rama abai dengan telepon-telepon dari Agnes. 

Saat penugasan usai,  Rama pulang ke Jakarta. Yang ternyata hanya untuk memutuskan pertunangan dengan Agnes. Plus menanggalkan profesi dokter. Karena sesungguhnya, ia menjadi dokter demi mematuhi perintah sang ayah. 

Kemudian Rama kembali ke Palu untuk dua tujuan, yaitu mengejar cinta Angel dan menjalani hidup sebagai seniman. Sesuai dengan panggilan hatinya. 

Berhasilkah Rama?  Jawabannya,  setengah berhasil setengah gagal. 

Rama berhasil menjadi pelukis dengan restu sang ayah dan sukses menggelar pameran tunggal di Rumah Lukisan. Tempat ia dahulu berkenalan dengan Angel. 

Namun di sisi lain,  ia gagal bersatu dengan Angel. Jangankan bersatu. Menjumpainya lagi pun tidak. Justru di ujung cerita,  Rama kembali merajut cinta dengan Agnes. 

Usut punya usut,  Angel hanyalah sosok yang hadir dalam alam kehaluan Rama. Tidak nyata! Yang  selama ini membalas surat-surat Rama untuk Angel ya Rama sendiri.

***

Kalau Angel bukan sosok nyata,  lalu siapa yang liburan dengan Rama? Sementara saat liburan itu mereka menginap di satu tempat (tapi beda kamar) dan berkomunikasi dengan karyawan penginapan. 

Bisa jadi Rama memang menghalu saja ketika di penginapan itu. Ia sebenarnya sendirian tanpa Angel. Hanya saja,  reaksi karyawan penginapan tidak diekspose sebagai kunci petunjuk bahwa Rama cuma halu. Jadi pada akhir cerita,  rasanya malah membingungkan pembaca. 

Ah, sudahlah. Saya akhiri saja ulasan ini. Semoga Anda tidak bingung dengan penjelasan-penjelasan di dalamnya. Jangan lupa pula, Anda sekalian bebas untuk sependapat atau tidak sependapat dengan saya terkait novel Lukisan Langit ini. Feel free. 


SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku:  Lukisan Langit

Penulis        : Agnes Davonar

Editor          : Khabib Mustakhfirul, Cicilia Heni

Desainer     : Kartika Dewi 

Penerbit      : P.T. Kanisius Yogyakarta

Tahun Terbit: 2021

Tebal Buku   : 160 hlm

Ukuran Buku: 12,5 x 19 cm

ISBN  978-979-21-6690-3




Kamis, 16 September 2021

[Book Review] Novel TERBANG

APA kabar? Semoga kalian senantiasa sehat, ya. Semoga pula selalu dalam lindungan dan keberkahan-Nya plus hepi eperitaim. Baiklah. Agar makin hepi, sekarang kupersembahkan ulasan sebuah novel inspiratif berjudul Terbang. 

Adakah di antara kalian yang pernah membacanya? Atau jangan-jangan, baru pernah menonton filmnya? Yoiii. Novel Terbang yang based on true story ini memang telah difilmkan dengan judul sama. Aku pun sesungguhnya telah lebih dulu menonton film Terbang daripada membaca novelnya.

Bahkan terusterang saja aku baru tahu kalau film tersebut ada novelnya, setelah menerima hadiah lomba menulis dari KOMiK Community (Komunitas Film Kompasiana). 

Silakan baca di sini untuk tahu lebih banyak tentang KOMiK Community.

Andai kata hadiah yang kuterima novel lain (bukan Terbang), kemungkinan besar sampai sekarang aku tak tahu  kalau di dunia ini ada novel tersebut. Hahaha!

Filmnya kutonton pada tahun 2018. Novelnya kubaca pada tahun 2021. Ada selisih tiga tahun, sebelum akhirnya kutahu bahwa Terbang dapat dinikmati dalam bentuk film dan novel.

Sebuah kebetulan yang indah. Sebuah perjodohan yang tak disangka-sangka. Seperti halnya perjodohan Onggy (tokoh utama novel Terbang) dan Candra.

Keduanya bertemu pertama kali ketika Onggy (yang juga dipanggil A Chun) mentraktir Ailing, keponakannya, untuk potong rambut di salon. Yup! Candra adalah karyawan salon yang mereka datangi.

Tanpa banyak drama dan kelokan seperti halnya kisah percintaan kalian (... hahahaha ...  kisah percintaanku juga siiih ...), menikahlah Onggy dan Candra. So sweet mereka. Saling mencintai sepenuh hati. Candra selalu mendukung apa pun yang dilakukan Onggy.

Akan tetapi, ada terlalu banyak ujian atas ketulusan Candra itu. Terkhusus ujian yang berupa jatuh bangunnya perekonomian rumah tangga mereka. Berbeda dengan kisah percintaannya yang mulus, kisah perjuangan Onggy untuk lepas dari jeratan kemiskinan amatlah dramatis. Penuh kelokan, tanjakan, dan turunan tajam.

Onggy yang lahir dan tumbuh remaja di Tarakan pada masa awal Orde Baru, di sebuah keluarga Tionghoa miskin, memang telah akrab dengan kesulitan ekonomi sejak kecil. Jadi, semua kepahitan akibat jatuh bangun usaha yang dirintis tak membuatnya menyerah. Mental perjuangannya telah tertempa dengan valid.

Jauh-jauh ia merantau ke Surabaya untuk kuliah sambil kerja apa saja. Dilanjut merantau ke Jakarta dan sempat pula berada dalam situasi huru-hara kerusuhan '98, yang mencekam bagi orang-orang keturunan Tionghoa. 

Apakah kemudian ia sukses menjadi orang kaya? Di film dan novelnya tidak digambarkan secara eksplisit. Akan tetapi, dalam dunia nyata Onggy memang sukses meraih kebebasan finansialnya. Silakan berselancar di internet dengan kata kunci "Onggy Hianata" untuk tahu lebih banyak.

Begitulah adanya. Kisah Onggy membuktikan bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Usaha yang serius pastilah akan membuahkan hasil yang serius.

 

Dokpri

 

Novel Terbang memang ditulis dengan tujuan untuk menginspirasi dan memotivasi. Pembacanya diharapkan meneladani semangat Onggy untuk sukses. Selain itu, pembaca disadarkan mengenai pentingnya pendidikan untuk meraih masa depan yang baik. 

Andai kata Onggy kecil tak bersekolah, tentulah ia tak bakalan terbuka wawasan dan pikirannya.  Tak bakalan berani bercita-cita tinggi menembus batas cakrawala Tarakan, apalagi berusaha mewujudkannya. 

Novel Terbang juga menyadarkan kita bahwa orang-orang dari etnis Tionghoa sama halnya dengan orang-orang dari etnis lain. Tak selalu kaya raya dari bisnis yang mereka jalankan. Ada pula yang hidupnya sederhana cenderung berkekurangan seperti keluarga Onggy.

Dikisahkan, ayah Onggy hanyalah karyawan sebuah toko kelontong. Ia jujur dan tipe karyawan yang berdedikasi. Akan tetapi, nasibnya kurang mujur sebab pemilik toko tak pernah menaikkan gajinya. 

Alhasil dari sekian banyak anak, hanya A Lie (kakak Onggy) yang disekolahkan. Pertimbangannya, A Lie yang berotak paling encer. Adapun Onggy bisa bersekolah gratis sebab jaminannya kecemerlangan prestasi sang kakak. Oleh sekolah, A Lie diberi beasiswa berupa nol biaya sekolah bagi adiknya. 

O, ya. A Lie dan A Chun bersekolah di sekolah negeri. Jadi, pergaulan di situ lintas suku dan agama, baik dari kalangan siswa maupun guru. Demikian pula halnya dengan pergaulan keseharian keluarga mereka. 

Sesungguhnyalah Terbang menyadarkan kita akan kemajemukan Indonesia, yang mesti disikapi dengan sikap saling bertoleransi. Bukan malah disikapi dengan antipati dan caci maki.

Menurutku, novel ini pun menegaskan bahwa seseorang bakalan sukses atau tidak, patut dihargai atau tidak, berdasarkan upaya-upaya yang dilakukan dan sikapnya. Sama sekali bukan berdasarkan SARA yang melekat padanya. 

Yup! Novel ini idealnya wajib dibaca oleh anak-anak muda agar berani "terbang" demi meraih cita-cita tertinggi mereka. Namun, orang-orang menuju tua dan yang sudah beneran tua pun tak haram untuk membacanya. Toh mencari inspirasi dan motivasi tak melulu milik anak-anak muda. 

Terlepas dari segala pujian dan sisi baik yang dimiliki, novel Terbang sukses menambah wawasan keindonesiaan pembaca. Salah satunya, melalui kisah Onggy beserta keluarga dan teman-temannya, pembaca menjadi tahu kondisi Tarakan semasa periode awal Orde Baru. Yang pastilah amat jauh perbedaannya dengan kondisi Tarakan sekarang. 

Secara umum novel ini kunilai bagus dalam hal ide dan cara berceritanya. Tujuan menginspirasi dan memotivasinya pun disampaikan dengan cerdik melalui adegan/dialog yang membuat pembaca tersenyum.-senyum simpul. Mengisyaratkan bahwa kepahitan hidup tak melulu harus diratapi, tetapi adakalanya butuh ditertawakan juga. 

Toh kenyataannya, ada sisi-sisi konyol yang berpotensi mengundang tawa dalam hidup ini. Iya. Bukankah hidup memang penuh warna?

 

SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku: TERBANG Menembus Langit

Penulis: Silvarani

Penerbit: Noura 

Tahun Terbit: 2018

Tebal Buku: xii + 276 hlm

Ukuran Buku: 14 x 22 cm

ISBN: 978-602-385-456-1




Kamis, 29 Juli 2021

[Book Review] Jangan Kautulis Obituari Cinta!

Gara-gara novel karya Ashadi Siregar yang berjudul Cintaku di Kampus Biru, yang kemudian difilmkan, UGM pun tenar dengan sebutan kampus biru. Berdasarkan sebutan itu, lalu banyak yang mengira gedung-gedung di UGM dominan dicat biru.

Duileee. Mengapa banyak yang berpikiran terlalu polos, ya? Biru yang dimaksudkan Ashadi Siregar tuh bukan merujuk pada warna cat gedung, melainkan pada birunya cinta.

Lalu, apa hubungannya dengan Jangan Kautulis Obituari Cinta! karya Rh. Widada ini?

Begini. Jangan Kautulis Obituari Cinta!, yang terbit puluhan tahun kemudian, seakan-akan menjadi antitesis dari Cintaku di Kampus Biru. Novel Jangan Kautulis Obituari Cinta! justru berkisah tentang "tak ada cinta di kampus biru". Tepatnya ketiadaan cinta di kampus biru bagi Kang Sujat (Gathot Sujati) dan Mei (Tyas Sumunar).

Siapakah mereka? Kang Sujat adalah mahasiswa abadi di jurusan Sastra Indonesia UGM. Ia tidak lulus-lulus sebab terlampau sibuk dengan kariernya sebagai wartawan/penulis dan aktivis mahasiswa pengkritik pamerintah.

Sementara Mei adalah yuniornya. Perkenalannya dengan Kang Sujat terjadi saat opspek. Kang Sujat menjadi panitia,  Mei sebagai mahasiswa baru. Keduanya saling tertarik. Namun, semesta ternyata tak memberikan takdir bersatu selamanya kepada mereka.

Sesuai dengan keputusan keluarga besar, baru beberapa semester kuliah Mei sudah dinikahkan dengan seorang tentara bernama Herjoko. Herjoko adalah tetangga yang sekaligus saudara sepupunya.

Walaupun keputusan tersebut diambil berdasarkan kebejatan Herjoko terhadap Mei di masa silam, ketika Mei masih berusia ABG, sesungguhnya Mei tidak mau menikah dengan Herjoko. Pelecehan seksual yang dilakukan Herjoko masih membuatnya trauma meskipun telah berlalu bertahun-tahun.

Akan tetapi, apa boleh buat? Mei hanya bisa menurut. Ia terpaksa mengorbankan cintanya kepada Kang Sujat. Ketidakbahagiaan pun menjadi konsekuensinya. Terlebih di kemudian hari terbukti bahwa Herjoko bukanlah suami yang baik. Ia punya WIL.

Pada akhirnya Kang Sujat dianiaya Herjoko hingga terluka parah di bagian kepala. Sehari di rumah sakit, ia pun meninggal dunia.

Herjoko bukan mata gelap akibat terbakar cemburu gara-gara sang istri berselingkuh dengan Kang Sujat. Herjoko sebenarnya hanya menjalankan tugas dari sang atasan. Adapun sang atasan mendapatkan mandat untuk "menyelesaikan" wartawan vokal itu dari sang penguasa kabupaten.

Apes nian nasib Herjoko. Ketika tugas berat itu sukses, ia justru terhantui rasa bersalah sekian lama. Selalu mimpi buruk dikejar-kejar Mei yang menggendong mayat Kang Sujat.

Sudah begitu, orang-orang yang menjadi otak pembunuhan pun ramai-ramai cuci tangan. Herjoko ditumbalkan! Seorang diri ia menerima hukuman. Ia pun diskenariokan membunuh sebab terbakar api cemburu.

Jangan berpikiran bahwa novel ini semata-mata tentang kisah cinta tragis belaka. Justru kisah cinta tersebut sekadar alat untuk menyampaikan "amanat" yang lebih berat. Iya, sesungguhnya novel ini hendak mengingatkan pembaca mengenai masa-masa kelam sebelum terjadinya gerakan reformasi.

Kang Sujat adalah representasi kaum aktivis pengkritik pemerintahan orde baru. Ia sekaligus mewakili dua kelompok, yaitu kelompok mahasiswa dan jurnalis. Yang keduanya sama-sama berpotensi memperoleh ancaman untuk "diselesaikan".

Sejarah mencatat, banyak aktivis mahasiswa Yogyakarta yang ditangkap. Ada pula Udin, wartawan Bernas, yang dihabisi sebab tulisan-tulisan vokalnya yang menyenggol sang penguasa sebuah kabupaten. Tepatnya kabupaten tempat domisili Kang Sujat.

O, ya. Saya yakin sang novelis merujuk pada Udin untuk penokohan Kang Sujat. Demikian pula, seorang kakak tingkat jauh di Sastra Indonesia UGM bikin saya menyimpulkan bahwa sang novelis merujuk pula kepadanya untuk penggambaran fisik Kang Sujat.

Alhasil, baca Jangan Kautulis Obituari Cinta! membuat saya bernostalgia dengan kampus biru di Bulaksumur sana. Yeah, bernostalgia sembari cekikikan sebab nyaris susah membedakan Kang Sujat dengan kakak tingkat yang menjadi rujukannya. Hehehe ....

Seperti biasa, tulisan Rh. Widada memang seru dan keren. Meskipun secara global ceritanya serius, nuansa humornya tetap terasa. Jadi, kamu dan kamu wajib membaca novel ini.

O, ya. Satu hal yang tak kalah penting. Novel Jangan Kautulis Obituari Cinta! pun mengkritisi solusi salah kaprah yang kerap dilakukan terhadap persoalan pelecehan seksual.

Selama ini khalayak pada umumnya beropini bahwa urusan kelar jika korban pelecehan seksual dinikahkan dengan orang yang melecehkannya. Sementara faktanya, penyintas pelecehan sosial akan makin depresi kalau dinikahkan dengan pelaku pelecehan. Inilah yang terjadi pada Mei. Sungguh kasihan. Ibarat sudah jatuh malah tertimpa tangga.

 

Penampakan Sampul Depan

 

Judul Buku: Jangan Kautulis Obituari Cinta! 

Penulis: Rh. Widada 

Penerbit: Penerbit Gading 

Tahun Terbit: Maret 2021 

Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm 

Tebal Buku: ix + 232 hlm 

ISBN: 978-623-7177-71-5

 

 

Kamis, 04 Maret 2021

[Book Review] Titik Kalimat Cinta

 


DARI ilustrasi sampul depan dan judulnya, sudah dapat ditebak kalau buku ini berkisah perihal cinta. Yup! Memang demikianlah adanya.  Buku ini merupakan novel remaja genre romantis-romantisan. Terlebih kemudian, ada pula ilustrasi-ilustrasi bernuansa merah jambu di beberapa halamannya.

Sejujurnya, andai kata tidak memperolehnya sebagai hadiah, kemungkinan besar saya tidak tahu bahwa di dunia ini pernah terbit sebuah novel remaja berjudul Titik Kalimat Cinta.  Iya. Ketika PO novel Selamat Tinggal karya Tere Liye, saya dibonusi buku ini oleh penjualnya. 

Jadi sampai di sini jelas, ya. Saya membacanya bukan sebab sok-sokan merasa ABG a.k.a remaja, melainkan berdasarkan pertimbangan "ada buku kok enggak dibaca". Eman-eman. Hahaha! Enggak mau rugi pokoknya.  

 

Salah satu ilustrasi bernuansa merah jambu

Coba tebak. Mengapa saya lingkari merah?

 

Lalu, bagaimana ceritanya?  Bagus atau tidak? Menurut saya, segalanya serba lumayan. Bagus tidak, buruk pun tidak. Standar. Datar. Penokohannya kurang kuat. Plotnya lurus belaka. Cenderung mudah ditebak jalan ceritanya. 

Salah ketik tak mewarnai buku ini. Namun, salah menyebut nama tokoh justru terjadi. Contohnya begini. Mestinya yang melakukan suatu adegan adalah B. Akan tetapi, yang ditulis justru A. 

Kemudian, masih terdapat uraian/penjelasan yang kurang masuk akal. Sebagaimana yang tampak pada foto ketiga, bagian yang saya lingkari merah. Mengapa Vania menitipkan kunci rumah kepada pembantunya?

Sesungguhnya kondisi demikian mengherankan. Apa penulis tidak membaca ulang naskahnya sebelum diserahkan ke penerbit?  Apa penerbit (baca: editor) tidak cek ricek lagi sebelum naik cetak? 

Yang paling bikin sedih, di halaman 19 ada sebuah kalimat yang beraroma body shamming. Inilah poin yang paling menjatuhkan apresiasi saya terhadap Titik Kalimat Cinta. Menyebabkan saya enggan merekomendasikannya kepada para remaja. Saya amat menyayangkan hal ini. Mari cermati kalimatnya.

....

Namun, Arga malah bertemu dengan seekor badak jawa. Bukan, bukan, tapi seorang wanita gemuk yang tengah berdiri di sampingnya, dengan tatapan sedikit menggoda. 

....

See! 

Bagaimana menurut kalian? Apakah saya berlebihan bila mengkritisi kalimat tersebut? 

Yeah! Walaupun dalam dunia nyata boleh jadi banyak orang yang gemar body shamming dalam pikiran, bahkan diverbalkan, saya pikir tidaklah elok bila dituliskan dalam sebuah buku. Sekalipun fiksi, tetap saja novel merupakan salah satu media edukasi literasi. Tetap dapat berpengaruh kepada para pembacanya. Iya 'kan?

Ngomong-ngomong, siapa tokoh utama dalam novel ini? Namanya Arga. Adapun cerita bergulir dari kisah cintanya dengan Nadia, namun terpaksa kandas sebab Nadia memilih pergi. Lalu, Arga yang tetap mencintai Nadia berjumpa dengan Vania. Seiring waktu, keduanya pun menjalin hubungan istimewa. Selanjutnya, Nadia ingin kembali menjadi pacar Arga. 

Bagaimana kesudahannya? Arga memilih balikan dengan Nadia atau lanjut dengan Vania? Rahasia, dong. Silakan cari sendiri novelnya, ya. Saya tak mau menjadi spoiler. Muehehehe ....

Baik. Sekian ulasan ini. Terlepas dari segala kekurangannya, saya tetap salut kepada sang penulis. Ketika buku ini terbit, usianya baru 19 tahun. Lumayan keren 'kan prestasi menulisnya? Namun tentunya, sang penulis masih perlu banyak belajar. Harapan saya, sekarang karyanya telah kian ciamik.

SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku:

TITIK KALIMAT CINTA Ketika Hati Telah Memilih

Penulis:

Muggy Nugraha

Penerbit:

Sinar Kejora (Yogyakarta)

Tahun Terbit:

2013

Ukuran:

14 x 20 cm

Tebal:

180 hlm

ISBN:

978-602-7902-27-5

 

 


Kamis, 11 Februari 2021

[Book Review] SELAMAT TINGGAL

HALO .... Apa kabar kalian? Semoga tetap sehat selalu meskipun pandemi covid-19 belum berlalu. Bahkan saya dengar dari kabar terkini, pandemi ini di Indonesia belum akan reda kalau belum sepuluh tahun. Wow!

Ya sudahlah. Ketimbang didera perasaan negatif akibat terintimidasi kabar tersebut dan kabar-kabar lain yang senada, lebih baik kalian baca-baca tulisan di blog ini. Insyaallah bisa meningkatkan imunitas tubuh sebab penuh inspirasi dan motivasi. Muehehehe .... 

Adapun kali ini, saya akan memperbincangkan tentang novel baru Bang Tere Liye. Silakan langsung dinikmati.




 

Novel Selamat Tinggal menunjukkan, betapa ironi dalam hidup itu nyata adanya. Yang salah bisa terlihat sebagai pahlawan. Yang benar malah tampak sebagai pecundang. Acap kali ironi tersebut ada di dekat kita. Bahkan mungkin tanpa sadar, kita termasuk salah satu pelakunya.

Ada orang yang biasa-biasa saja meskipun tahu dirinya pecundang. Terlebih kalau yang tampak di luaran, ia bukanlah pecundang. Namun, ada orang yang dihantui rasa bersalah sekalipun kesalahan yang dilakukannya telah menjadi “kelumrahan”; tidak lagi dianggap kesalahan oleh khalayak. 

Alhasil, butuh tekad dan nyali kuat untuk menjadi seorang idealis, yang selalu sama antara perkataan dan perbuatan. Tanpa kedua hal itu, tentu mustahil. Mengapa? Karena menjadi idealis tidak mudah. Ada banyak tantangan dan cemoohan, bahkan dari orang-orang terdekat. Hanya orang yang mau menanggung segala konsekuensinya yang mampu bertahan untuk menjadi seorang idealis.

Itulah sebabnya Sintong, tokoh utama novel ini, butuh waktu beberapa tahun untuk mundur dari tugasnya menjaga toko buku bajakan milik sang paman. Padahal sesungguhnya, ia sudah ingin mundur sejak minggu pertama. Namun, apa daya? Biaya kuliahnya ditanggung penuh oleh sang paman.

Sebagai mahasiswa sastra yang bercita-cita menjadi penulis handal, Sintong merasa berkhianat pada dunia literasi. Sampai-sampai ia sempat kehilangan kemampuan menulisnya mulai tahun ketiga kuliah, tersebab deraan rasa itu. Terlebih ia kemudian kenal Ratu, bocah 12 tahun, cucu seorang penulis tenar yang menjadi penjual makanan asongan di Gunung Gede.

Dalam suatu kesempatan ke Gunung Gede bersama anak-anak kampus, Sintong sengaja memperkenalkan dan berkisah tentang Ratu kepada Bunga. Targetnya supaya Bunga, yang diketahuinya merupakan putri bos percetakan buku bajakan, terbuka mata hati.

Bunga syok mengetahui fakta kontradiktif tersebut. Ia yang sebenarnya pernah berusaha membakar tempat percetakan sang papa (namun gagal), jadi makin membenci bisnis keluarganya. Sintong memaklumi reaksi Bunga. Dahulu, ketika pertama kali tahu tentang Ratu, ia pun bereaksi sama. Itulah sebabnya ia membesarkan hati Bunga.

Katanya, “Kejam sekali memang industri bajakan. Dan itulah salah satu realitasnya. Keluarga penulisnya hidup miskin, sementara pembajak, penikmat buku bajakan, pembaca e-book ilegal, mereka bahkan memiliki HP, baju, sepatu, yang harganya hanya mimpi bagi anak-anak penulis buku tersebut. Tidak terbeli. Ratu tahu ia cucu seorang penulis besar, tapi apa gunanya fakta tersebut? Hidupnya sangat keras di puncak Gunung Gede ….” (hlm 315)

Iya. Novel ini mengkritik tajam para pelaku bisnis pembajakan buku yang menggurita. Yang pada dasarnya mencuri, tetapi tak sadar (atau tak mau sadar) bahwa bisnis mereka merupakan kejahatan yang terbungkus slogan keren: membantu penyediaan buku murah berkualitas. Sungguh palsu!    

Kalau kalian penggemar karya Bang Tere Liye, bisa pula baca ulasan untuk Sunset & Rosie yang ada di blog ini.  

 

SPESIFIKASI BUKU

 

Judul Buku:

Selamat Tinggal

Penulis:

Tere Liye

Penerbit:

Gramedia Pustaka Utama

Terbit:

November 2020

Tebal:

360 hlm

Ukuran Buku:

14 x 20 cm

ISBN:

978-602-064-7821