Tampilkan postingan dengan label roman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label roman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2022

[Book Review] REPLY 1997

Dokpri


HALO, pembaca Rak Buku Tinbe? Apakah Anda sekalian merasa familiar dengan judul Reply 1997? Merasa pernah nonton drama Korea dengan judul tersebut? Yoiii. Wajarlah kalau ada perasaan begitu. 

Mengapa saya sebut wajar? Karena kenyataannya, Reply 1997 merupakan penovelan (novelisasi) drama Korea. Di sampul depan tercantum keterangan demikian. 

Tercantum pula nama Lee Woo Jung sebagai penulis skenario. Di bawahnya tertulis nama Park Ji Yung sebagai novelis. 



Sinopsis 

Novel ini berkisah tentang enam orang yang bersahabat sejak masa SMA hingga masa dewasa. Mereka terdiri atas empat cowok dan dua cewek. Para cowok bernama Yoon Yoon Je, Kang Jung Hee, Bang Seong Bae, dan Do Hak Chan. Sementara yang cewek bernama Mo Yu Jeong dan Seong Shi Won.

Tentu masing-masing memiliki karakter tersendiri. Prestasi, hobi, dan selera musik mereka pun berlainan. Tak jarang pertengkaran dan romansa cinta monyet juga mewarnai persahabatan tersebut.

Yoon Je jatuh cinta berat kepada Shi Won. Ia kesal sebab gadis itu sering ke mana-mana berdua dengan Jun Hee. Dikiranya mereka pacaran, padahal Shi Won justru berpacaran dengan Tae Woong (kakak kandung Yoon Je). Sementara Jun Hee curhat jujur kepada Shi Won bahwa ia memendam "cinta terlarang" kepada Yoon Je.

Di sisi lain Yu Jeong nekad menyatakan cinta kepada Yoon Je, tetapi ditolak secara halus. Yu Jeong yang mudah move on sekaligus mudah jatuh cinta itu tak terlalu ambil pusing. Terbukti ia kemudian malah berkencan dengan Hak Chan.

Kurang lebih 15 tahun kemudian, setelah sempat terpisah beberapa tahun sebab Hak Chan kuliah di luar negeri, pada sebuah reuni mereka benar-benar menyebarkan undangan pernikahan. Tatkala itu Shiwon telah menjadi istri Yoon Je dan sedang mengandung anak kedua.

Tae Woong memang telah merelakan Shi Won untuk sang adik. Sementara ia sendiri menikahi dokter yang pernah mengoperasinya. Yang ternyata idem ditto dengan Shi Won, yaitu sama-sama merupakan fangirl.

Bagaimana dengan Jun Hee dan Seong Jae? Kedua cowok tersebut rupanya kurang hoki dalam urusan percintaan. Keduanya masih melajang dengan alasan masing-masing. 

Tentu saja Reply 1997 juga mengisahkan tentang pencapaian karier sekelompok sahabat itu. Yang ternyata pencapaian mereka berbanding lurus dengan prestasi akademik dan minat masing-masing semasa SMA di Busan. 

Yoon Je dan Jun Hee yang dahulu paling pintar di sekolah, di masa dewasa pun memiliki karier cemerlang sebagai jaksa dan dokter bedah. 

Yang lain bagaimana? Empat lainnya tak kalah keren, dong. Semua punya pekerjaan sesuai dengan minat dan karakter masing-masing. 

Yang berarti bisa menghasilkan duit untuk membiayai hidup. Bisa mandiri. Tak menjadi parasit keluarga dan masyarakat. Bukankah itu keren? 

Kelebihan Sekaligus (Mungkin) Kelemahan

Reply 1997 menggunakan alur sorot balik (flashback) zigzag. Dalam arti, cara penceritaannya berselang-seling. Sebentar bercerita tentang masa kini, sebentar bercerita tentang masa lalu. Bolak-balik.

Hal tersebut tampak dalam penyusunan daftar isi sebagai berikut.

REUNI #1/Semua Berkumpul Kembali
Bab 1 Semangat Fangirl
Bab 2 Pemberontakan Besar-besaran
REUNI #2/Ah, Terkenang Masa Lalu
Bab 3 Yang Ada di Dalam Kamar Kosong
Bab 4 Ujian Masuk Universitas Kedua
REUNI #3/Apa Kabar?
Bab 5 Cara Menghadapi Kebohongan
REUNI #4/Maret Tahun Depan?
Bab 6 Maaf
REUNI #5/Saatnya Bersikap Jujur
Bab 7 Rantai Makanan
REUNI #6/Sampai Bertemu di Pesta Pernikahan

Sebagai catatan, REUNI #1-REUNI #3 perlu dibaca dengan cermat agar tak bingung. Mengapa? Karena yang digunakan selalu sudut pandang orang pertama (aku), sementara orang pertamanya berganti- ganti. Kadangkala Shi Won, kadangkala Jun Hee, kadangkala yang lainnya.

Bagi saya, hal tersebut menjadi kelebihan novel ini. Membuat gaya penceritaan dinamis, tidak membosankan, dan bisa memelihara rasa penasaran pembaca.

Perlu dicatat, rasa penasaran yang terjaga ini memang wajib hadir dalam sebuah novel supaya pembaca terikat. Bukankah kalau sudah terikat, pembaca bakalan bersemangat untuk membaca hingga tuntas?

Namun di sisi lain, bagi pembaca yang malas berpikir keras, bisa menjadi alasan untuk ngedumel, "Kok begini, sih? Habis cerita ini, kenapa nyambungnya ke sini? Blablabla ...."

Pelajaran yang Dapat Diambil

Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari Reply 1997. Di antaranya yang terkait dengan fangirl, yang umumnya dianggap buruk oleh khalayak dan mengganggu konsentrasi bersekolah. 

Faktanya, Shi Won justru sukses diterima di universitas impiannya gara-gara menjadi fangirl. Universitas itu merupakan tempat berkuliah Oppa Tony, idola beratnya.

Bermula dari sekadar menjadi penggemar fanatik, Shi Won kemudian berproses menjadi penulis fanfic, fan fiction favorit. Yup! Shi Won cukup berbakat bikin fiksi yang para tokohnya adalah anggota boyband idolanya.

Kemahiran itulah yang mengantarkannya jadi pemenang lomba menulis yang diselenggarakan fakultas sastra universitas impiannya. Karena juara satu, ia mendapatkan poin plus ketika mengikuti ujian masuk ke universitas tersebut.

Hal demikian mengingatkan bahwa semangat fangirl ataupun semangat mengidolakan apa saja/siapa saja jika dikelola dengan benar, hasilnya juga bisa positif. 

O, ya. Fangirl adalah kumpulan penggemar boyband. Hmm. Apakah engkau juga seorang fangirl? Hehehe ...

Penutup 

Demikian hasil pembacaan saya terhadap Reply 1997. Semoga berfaedah. Semoga dapat juga memantik rasa ingin membacamu. 

SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku: 
Reply 1997
 
Penulis Skenario: 
Lee Woo Jung
 
Novelis: 
Park Yi Jung
 
Alih Bahasa: 
Lingliana 
 
Desain Sampul: 
Marcel A.W.
 
Penerbit: 
Gramedia Pustaka Utama
 
Tahun Terbit: 
2018 (Cetakan Kedua, Februari)
 
Tebal Buku:
369 hlm
 
Ukuran Buku: 
14 x 20cm
 
ISBN:
978-602-03-3831-6
 
 
 

Kamis, 31 Maret 2022

[Book Review] Lukisan Langit

Dokpri

BILA Anda mencari bacaan ringan sekadar pembunuh waktu, tanpa ekspektasi apa pun, boleh-boleh saja membaca buku ini. Hanya saja, saya tidak merekomendasikannya. Kalau merekomendasikannya, saya khawatir Anda bakalan protes begitu kelar membacanya.

Apa boleh buat? Saya tak bisa memaksakan diri untuk mengatakan bahwa novel ini menarik. Andai kata ada di antara Anda sekalian yang pernah membacanya dan berpendapat lain, tak jadi soal. Ini cuma perbedaan selera. Oke?

Mungkin semua bermula dari informasi yang terdapat pada Profil Penulis. Di situ disebutkan bahwa Agnes Davonar (sang novelis) adalah sebuah fenomena di dunia sastra Indonesia. Alhasil, seketika saya membayangkan bakalan menikmati sebuah novel yang spektakuler.

Faktanya? Ternyata saya ketinggian ekspektasi. 

Akhir cerita Lukisan Langit memang sedikit tak terduga. Dimaksudkan sebagai kejutan agar menarik. Akan tetapi, saya merasa logika ceritanya agak dipaksakan demi mencapai kepentingan "akhir cerita yang tak terduga" itu. 

***

Dikisahkan bahwa Rama beserta empat koleganya ditugaskan ke Palu sebagai dokter internship. Di kota tersebut Rama jatuh cinta berat pada sebuah lukisan berjudul "Lukisan Langit" dan sang pelukisnya sekaligus (Angel). Sampai-sampai Rama abai dengan telepon-telepon dari Agnes. 

Saat penugasan usai,  Rama pulang ke Jakarta. Yang ternyata hanya untuk memutuskan pertunangan dengan Agnes. Plus menanggalkan profesi dokter. Karena sesungguhnya, ia menjadi dokter demi mematuhi perintah sang ayah. 

Kemudian Rama kembali ke Palu untuk dua tujuan, yaitu mengejar cinta Angel dan menjalani hidup sebagai seniman. Sesuai dengan panggilan hatinya. 

Berhasilkah Rama?  Jawabannya,  setengah berhasil setengah gagal. 

Rama berhasil menjadi pelukis dengan restu sang ayah dan sukses menggelar pameran tunggal di Rumah Lukisan. Tempat ia dahulu berkenalan dengan Angel. 

Namun di sisi lain,  ia gagal bersatu dengan Angel. Jangankan bersatu. Menjumpainya lagi pun tidak. Justru di ujung cerita,  Rama kembali merajut cinta dengan Agnes. 

Usut punya usut,  Angel hanyalah sosok yang hadir dalam alam kehaluan Rama. Tidak nyata! Yang  selama ini membalas surat-surat Rama untuk Angel ya Rama sendiri.

***

Kalau Angel bukan sosok nyata,  lalu siapa yang liburan dengan Rama? Sementara saat liburan itu mereka menginap di satu tempat (tapi beda kamar) dan berkomunikasi dengan karyawan penginapan. 

Bisa jadi Rama memang menghalu saja ketika di penginapan itu. Ia sebenarnya sendirian tanpa Angel. Hanya saja,  reaksi karyawan penginapan tidak diekspose sebagai kunci petunjuk bahwa Rama cuma halu. Jadi pada akhir cerita,  rasanya malah membingungkan pembaca. 

Ah, sudahlah. Saya akhiri saja ulasan ini. Semoga Anda tidak bingung dengan penjelasan-penjelasan di dalamnya. Jangan lupa pula, Anda sekalian bebas untuk sependapat atau tidak sependapat dengan saya terkait novel Lukisan Langit ini. Feel free. 


SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku:  Lukisan Langit

Penulis        : Agnes Davonar

Editor          : Khabib Mustakhfirul, Cicilia Heni

Desainer     : Kartika Dewi 

Penerbit      : P.T. Kanisius Yogyakarta

Tahun Terbit: 2021

Tebal Buku   : 160 hlm

Ukuran Buku: 12,5 x 19 cm

ISBN  978-979-21-6690-3




Kamis, 14 Oktober 2021

[Book Review] Ketika Sekuntum Sumanasa ...

 

Penampakan bukunya

Ketebalan buku ini sedang-sedang saja. Tak begitu tipis, juga tak begitu tebal. Kalau ukurannya sih, sedikit lebih besar daripada buku pada umumnya.

Warna sampulnya kuning mencolok dengan desain yang bernuansa serius. Kesan serius kian kuat tatkala kita membaca judulnya. Terlebih ada label "saduran" segala.

Aha! Otak pun bersiap aktif mereka-reka, gerangan apa isi buku ini? Fiksikah? Nonfiksikah? Mengapa judulnya terasa tak kekinian?

Setelah membaca halaman "Sambutan" dan "Kata Pengantar", barulah saya paham sepenuhnya. Rupanya buku ini merupakan saduran dari sebuah kakawin yang berjudul Sumanasantaka (terjemahannya: Mati Karena Bunga Sumanasa) karya Mpu Monaguna.

Siapa Mpu Monaguna? Ia adalah seorang pujangga yang hidup pada masa Kerajaan Kediri (abad XIII). 

O, ya. Kakawin adalah puisi-tembang berbahasa Jawa kuno. Jadi, bahasa asli yang dipergunakan Sumanasantaka pastilah bahasa Jawa kuno. Namun, sumber untuk keperluan penyaduran ini adalah terjemahan dan kajian atas Sumanasantaka yang dilakukan oleh P. Worsley, S. Supomo, dan M. Fletcher yang bekerja sama dengan T. H. Hunter.

Tentu saya tak akan membahas detil siapa nama-nama tersebut. Kali ini kita sebut sepintas lalu saja. Sekadar untuk menjelaskan asal muasal buku yang sedang kita ulas.

***

Jadi, dada siapa yang kejatuhan sekuntum sumanasa? Sesuai dengan judul bukunya, sudah pasti dada Dyah Harini.  Melalui peristiwa itulah, ia kemudian terbebas dari kutukan sebagai manusia.

Iya. Sesungguhnya Dyah Harini memang bukan manusia biasa. Ia merupakan jelmaan bidadari. Bagaimana kronologinya hingga ia bisa dikutuk jadi manusia?

Begini ...

Suatu ketika Dewa Indra merasa cemas sebab perbawa batin Begawan Trna Windu yang sedang melakukan tapabrata mengganggu stabilitas kahyangan. Sang Raja Dewa itu over thinking. Ketakutan kalau Sang Begawan bermaksud merebut kekuasaannya.

Dewa Indra pun memutar otak untuk bisa menghentikan tapabrata Sang Begawan. Alhasil, diutuslah bidadari terjelita (Dyah Harini) untuk menggoda. Tentu tujuannya mengganggu agar tapabrata Begawan Trna Windu terhenti.

Akan tetapi, rencana licik Dewa Indra gagal total. Identitas asli dan "misi" Dyah Harini ketahuan. Sang Begawan murka dan mengutuk Dyah Harini agar tak bisa kembali ke kahyangan. Bidadari jelita itu pun memohon-mohon ampun.

Sang Begawan pada akhirnya bersedia mengampuni. Ia memberi jaminan bahwa Dyah Harini bakalan terbebas dari kutukan sebagai manusia kalau tertimpa bunga sumanasa. Dalam arti, ia bakalan meninggal dunia kalau kejatuhan bunga tersebut. Adapun meninggal dunia baginya = terbebas dari kutukan menjadi manusia.

Singkat cerita, kutukan berjalan sebagaimana adanya. Dyah Harini terlahir ke bumi sebagai putri Raja Widarbha. Namanya Putri Indumati. Ia menjadi kesayangan semua orang, terutama kesayangan kedua orang tua dan kakak lelakinya. Kecantikan yang berpadu dengan kepintaran plus minat besar pada puisi, valid menyebabkannya bisa memesona semua insan.

Ketika memilih jodohnya melalui sayembara pun, Putri Indumati memilih Pangeran Aja yang selain mahir berperang, ternyata mahir pula menggubah syair-syair indah bermakna.

Perlu diketahui, Pangeran Aja sebenarnya pasangan Dyah Harini (Putri Indumati) saat di kahyangan. Kelak pada akhir cerita dikisahkan bahwa sepeninggal sang istri yang wafat sebab tertimpa bunga sumanasa, Pangeran Aja baru mendapatkan informasi ini dari seorang maharesi utusan Begawan Wasistha.

Informasi tersebut lumayan meredam kedukaan Pangeran Aja. Mengapa? Sebab ia menjadi tahu kalau nanti bakalan bersatu lagi dengan sang istri di kahyangan. Ia hanya perlu menunggu. Tentu dalam rindu yang membelenggu.

Pada bab terakhir buku ini dikisahkan bahwa Pangeran Aja memutuskan menyusul sang istri 8 tahun kemudian. Iya. Memutuskan "menyusul" dengan cara menenggelamkan diri di sungai besar.

Bunuh diri? Begitulah dalam bahasa vulgarnya. Cara serupa juga ditempuh oleh ibunya dan ibu mertuanya, ketika suami masing-masing meninggal dunia.

Hmm. Tolong tak usah menghakimi para tokoh cerita ini sebagai manusia kurang beriman dan berkomentar bahwa mereka otomatis masuk neraka, ya. Ingatlah bahwa ini sebuah cerita yang dikisahkan dalam kakawin. Bukan berita terkini dari sebuah media massa.

Lagi pula, tak bijak rasanya kalau kita berkomentar nyinyir bin julid terhadap sebuah berita terkini untuk kasus serupa. Buat apa melakukan lambe turah begitu? Toh kita sama-sama manusia yang tak luput dari dosa.

Yup! Demikianlah adanya buku saduran ini. Memang dipenuhi adu syair di antara para tokoh ceritanya. Seolah-olah mengingatkan pembaca bahwa di era 4.0 jelang 5.0 ini puisi/syair masih punya eksistensi dan fungsi. Terkhusus yang berisi gagasan tentang kebijaksanaan dan pengetahuan. Terkhusus lagi jika kebijaksanaan dan pengetahuan itu masih relevan untuk zaman sekarang.

Sesungguhnya isi cerita buku ini relatif biasa saja. Tidak penuh kejutan. Demikian pula cara pengisahannya. Konvensional. Penuh semangat didaktis. Aroma kezadoelannya amat terasa. Terlebih happy ending dan happy ending-nya sudah dapat diduga pembaca.

Akan tetapi, buku saduran dari kakawin ini memiliki keistimewaan tersendiri. Tak lain dan tak bukan, keistimewaan yang dimaksudkan terletak pada "pemujaan"-nya terhadap puisi dan penyair.

Dalam "Kata Pengantar", Rh. Widada pun mengakui bahwa baginya buku ini istimewa. Apa alasannya? Karena menempatkan kepenyairan atau perpuisian sebagai sesuatu yang berharga. Sungguh menarik!

Namun selain menarik, saya dibuat heran bin gemas gara-gara banyak sekali salah ketik dalam buku ini. Sampai-sampai saya curiga bahwa sebelum naik cetak, draf naskah tidak disunting sama sekali.

Editornya ke mana? Tim pracetaknya ke mana? Apakah sebelum naik cetak tidak ada konfirmasi untuk cek ricek naskah dengan penyadurnya (penulisnya)?

Eman-eman alias sayang sekali. Naskah saduran yang berharga begini kok terkesan sekadar diterbitkan demi memenuhi syarat administrasi. Sementara penulisnya (penyadurnya) telah bekerja serius sekian lama. Mana berlindung di balik jargon keren "demi kemajuan literasi bangsa" pula. Hehehe ....

Yang parah, nama penulis tidak tercantum di halaman identitas buku. Yang tercantum di situ adalah nama "Nurhata". Siapakah dia? Entahlah.

O, ya. Buku ini tidak untuk diperjualbelikan. Jadi kalau ingin membacanya, kita bisa meminjamnya di perpustakaan. Tak usah khawatir, meminjamnya pun bisa pilih secara daring.

SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku:
KETIKA SEKUNTUM SUMANASA JATUH DI DADANYA Kisah Pembebasan Dyah Harini (Saduran)

Penulis:
Rh. Widada

Penerbit:
Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas Press) Bekerja Sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Tahun Terbit:
2019

Tebal Buku:
viii + 106 hlm

Ukuran Buku:
16 x 23 cm

ISBN:
978-623-200-147-3

Kamis, 29 Juli 2021

[Book Review] Jangan Kautulis Obituari Cinta!

Gara-gara novel karya Ashadi Siregar yang berjudul Cintaku di Kampus Biru, yang kemudian difilmkan, UGM pun tenar dengan sebutan kampus biru. Berdasarkan sebutan itu, lalu banyak yang mengira gedung-gedung di UGM dominan dicat biru.

Duileee. Mengapa banyak yang berpikiran terlalu polos, ya? Biru yang dimaksudkan Ashadi Siregar tuh bukan merujuk pada warna cat gedung, melainkan pada birunya cinta.

Lalu, apa hubungannya dengan Jangan Kautulis Obituari Cinta! karya Rh. Widada ini?

Begini. Jangan Kautulis Obituari Cinta!, yang terbit puluhan tahun kemudian, seakan-akan menjadi antitesis dari Cintaku di Kampus Biru. Novel Jangan Kautulis Obituari Cinta! justru berkisah tentang "tak ada cinta di kampus biru". Tepatnya ketiadaan cinta di kampus biru bagi Kang Sujat (Gathot Sujati) dan Mei (Tyas Sumunar).

Siapakah mereka? Kang Sujat adalah mahasiswa abadi di jurusan Sastra Indonesia UGM. Ia tidak lulus-lulus sebab terlampau sibuk dengan kariernya sebagai wartawan/penulis dan aktivis mahasiswa pengkritik pamerintah.

Sementara Mei adalah yuniornya. Perkenalannya dengan Kang Sujat terjadi saat opspek. Kang Sujat menjadi panitia,  Mei sebagai mahasiswa baru. Keduanya saling tertarik. Namun, semesta ternyata tak memberikan takdir bersatu selamanya kepada mereka.

Sesuai dengan keputusan keluarga besar, baru beberapa semester kuliah Mei sudah dinikahkan dengan seorang tentara bernama Herjoko. Herjoko adalah tetangga yang sekaligus saudara sepupunya.

Walaupun keputusan tersebut diambil berdasarkan kebejatan Herjoko terhadap Mei di masa silam, ketika Mei masih berusia ABG, sesungguhnya Mei tidak mau menikah dengan Herjoko. Pelecehan seksual yang dilakukan Herjoko masih membuatnya trauma meskipun telah berlalu bertahun-tahun.

Akan tetapi, apa boleh buat? Mei hanya bisa menurut. Ia terpaksa mengorbankan cintanya kepada Kang Sujat. Ketidakbahagiaan pun menjadi konsekuensinya. Terlebih di kemudian hari terbukti bahwa Herjoko bukanlah suami yang baik. Ia punya WIL.

Pada akhirnya Kang Sujat dianiaya Herjoko hingga terluka parah di bagian kepala. Sehari di rumah sakit, ia pun meninggal dunia.

Herjoko bukan mata gelap akibat terbakar cemburu gara-gara sang istri berselingkuh dengan Kang Sujat. Herjoko sebenarnya hanya menjalankan tugas dari sang atasan. Adapun sang atasan mendapatkan mandat untuk "menyelesaikan" wartawan vokal itu dari sang penguasa kabupaten.

Apes nian nasib Herjoko. Ketika tugas berat itu sukses, ia justru terhantui rasa bersalah sekian lama. Selalu mimpi buruk dikejar-kejar Mei yang menggendong mayat Kang Sujat.

Sudah begitu, orang-orang yang menjadi otak pembunuhan pun ramai-ramai cuci tangan. Herjoko ditumbalkan! Seorang diri ia menerima hukuman. Ia pun diskenariokan membunuh sebab terbakar api cemburu.

Jangan berpikiran bahwa novel ini semata-mata tentang kisah cinta tragis belaka. Justru kisah cinta tersebut sekadar alat untuk menyampaikan "amanat" yang lebih berat. Iya, sesungguhnya novel ini hendak mengingatkan pembaca mengenai masa-masa kelam sebelum terjadinya gerakan reformasi.

Kang Sujat adalah representasi kaum aktivis pengkritik pemerintahan orde baru. Ia sekaligus mewakili dua kelompok, yaitu kelompok mahasiswa dan jurnalis. Yang keduanya sama-sama berpotensi memperoleh ancaman untuk "diselesaikan".

Sejarah mencatat, banyak aktivis mahasiswa Yogyakarta yang ditangkap. Ada pula Udin, wartawan Bernas, yang dihabisi sebab tulisan-tulisan vokalnya yang menyenggol sang penguasa sebuah kabupaten. Tepatnya kabupaten tempat domisili Kang Sujat.

O, ya. Saya yakin sang novelis merujuk pada Udin untuk penokohan Kang Sujat. Demikian pula, seorang kakak tingkat jauh di Sastra Indonesia UGM bikin saya menyimpulkan bahwa sang novelis merujuk pula kepadanya untuk penggambaran fisik Kang Sujat.

Alhasil, baca Jangan Kautulis Obituari Cinta! membuat saya bernostalgia dengan kampus biru di Bulaksumur sana. Yeah, bernostalgia sembari cekikikan sebab nyaris susah membedakan Kang Sujat dengan kakak tingkat yang menjadi rujukannya. Hehehe ....

Seperti biasa, tulisan Rh. Widada memang seru dan keren. Meskipun secara global ceritanya serius, nuansa humornya tetap terasa. Jadi, kamu dan kamu wajib membaca novel ini.

O, ya. Satu hal yang tak kalah penting. Novel Jangan Kautulis Obituari Cinta! pun mengkritisi solusi salah kaprah yang kerap dilakukan terhadap persoalan pelecehan seksual.

Selama ini khalayak pada umumnya beropini bahwa urusan kelar jika korban pelecehan seksual dinikahkan dengan orang yang melecehkannya. Sementara faktanya, penyintas pelecehan sosial akan makin depresi kalau dinikahkan dengan pelaku pelecehan. Inilah yang terjadi pada Mei. Sungguh kasihan. Ibarat sudah jatuh malah tertimpa tangga.

 

Penampakan Sampul Depan

 

Judul Buku: Jangan Kautulis Obituari Cinta! 

Penulis: Rh. Widada 

Penerbit: Penerbit Gading 

Tahun Terbit: Maret 2021 

Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm 

Tebal Buku: ix + 232 hlm 

ISBN: 978-623-7177-71-5

 

 

Kamis, 04 Maret 2021

[Book Review] Titik Kalimat Cinta

 


DARI ilustrasi sampul depan dan judulnya, sudah dapat ditebak kalau buku ini berkisah perihal cinta. Yup! Memang demikianlah adanya.  Buku ini merupakan novel remaja genre romantis-romantisan. Terlebih kemudian, ada pula ilustrasi-ilustrasi bernuansa merah jambu di beberapa halamannya.

Sejujurnya, andai kata tidak memperolehnya sebagai hadiah, kemungkinan besar saya tidak tahu bahwa di dunia ini pernah terbit sebuah novel remaja berjudul Titik Kalimat Cinta.  Iya. Ketika PO novel Selamat Tinggal karya Tere Liye, saya dibonusi buku ini oleh penjualnya. 

Jadi sampai di sini jelas, ya. Saya membacanya bukan sebab sok-sokan merasa ABG a.k.a remaja, melainkan berdasarkan pertimbangan "ada buku kok enggak dibaca". Eman-eman. Hahaha! Enggak mau rugi pokoknya.  

 

Salah satu ilustrasi bernuansa merah jambu

Coba tebak. Mengapa saya lingkari merah?

 

Lalu, bagaimana ceritanya?  Bagus atau tidak? Menurut saya, segalanya serba lumayan. Bagus tidak, buruk pun tidak. Standar. Datar. Penokohannya kurang kuat. Plotnya lurus belaka. Cenderung mudah ditebak jalan ceritanya. 

Salah ketik tak mewarnai buku ini. Namun, salah menyebut nama tokoh justru terjadi. Contohnya begini. Mestinya yang melakukan suatu adegan adalah B. Akan tetapi, yang ditulis justru A. 

Kemudian, masih terdapat uraian/penjelasan yang kurang masuk akal. Sebagaimana yang tampak pada foto ketiga, bagian yang saya lingkari merah. Mengapa Vania menitipkan kunci rumah kepada pembantunya?

Sesungguhnya kondisi demikian mengherankan. Apa penulis tidak membaca ulang naskahnya sebelum diserahkan ke penerbit?  Apa penerbit (baca: editor) tidak cek ricek lagi sebelum naik cetak? 

Yang paling bikin sedih, di halaman 19 ada sebuah kalimat yang beraroma body shamming. Inilah poin yang paling menjatuhkan apresiasi saya terhadap Titik Kalimat Cinta. Menyebabkan saya enggan merekomendasikannya kepada para remaja. Saya amat menyayangkan hal ini. Mari cermati kalimatnya.

....

Namun, Arga malah bertemu dengan seekor badak jawa. Bukan, bukan, tapi seorang wanita gemuk yang tengah berdiri di sampingnya, dengan tatapan sedikit menggoda. 

....

See! 

Bagaimana menurut kalian? Apakah saya berlebihan bila mengkritisi kalimat tersebut? 

Yeah! Walaupun dalam dunia nyata boleh jadi banyak orang yang gemar body shamming dalam pikiran, bahkan diverbalkan, saya pikir tidaklah elok bila dituliskan dalam sebuah buku. Sekalipun fiksi, tetap saja novel merupakan salah satu media edukasi literasi. Tetap dapat berpengaruh kepada para pembacanya. Iya 'kan?

Ngomong-ngomong, siapa tokoh utama dalam novel ini? Namanya Arga. Adapun cerita bergulir dari kisah cintanya dengan Nadia, namun terpaksa kandas sebab Nadia memilih pergi. Lalu, Arga yang tetap mencintai Nadia berjumpa dengan Vania. Seiring waktu, keduanya pun menjalin hubungan istimewa. Selanjutnya, Nadia ingin kembali menjadi pacar Arga. 

Bagaimana kesudahannya? Arga memilih balikan dengan Nadia atau lanjut dengan Vania? Rahasia, dong. Silakan cari sendiri novelnya, ya. Saya tak mau menjadi spoiler. Muehehehe ....

Baik. Sekian ulasan ini. Terlepas dari segala kekurangannya, saya tetap salut kepada sang penulis. Ketika buku ini terbit, usianya baru 19 tahun. Lumayan keren 'kan prestasi menulisnya? Namun tentunya, sang penulis masih perlu banyak belajar. Harapan saya, sekarang karyanya telah kian ciamik.

SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku:

TITIK KALIMAT CINTA Ketika Hati Telah Memilih

Penulis:

Muggy Nugraha

Penerbit:

Sinar Kejora (Yogyakarta)

Tahun Terbit:

2013

Ukuran:

14 x 20 cm

Tebal:

180 hlm

ISBN:

978-602-7902-27-5

 

 


Kamis, 03 September 2020

[Book Review] AYAH Sebuah Novel



APA kabar? Sudah kangen dengan ulasan baruku? Semoga. Semoga pula kekangenan itu tidak berujung dengan kekecewaan. Maksudku, kalian jadi kecewa sebab buku yang kuulas ternyata telah kalian baca. Etaaapiiii. Sesungguhnya kalaupun kalian telah membacanya, tak jadi soal benar. Bukankah malah bisa dijadikan pembanding? Hasil kalian membaca apa? Hasilku membaca apa? Alhasil, bisa memperkaya wawasan kita. Muehehehe .... 

Baiklah. Mari segera kumulai mengulasnya. *Hmm. Jadi degdegan akutuuu. Takut ulasanku terlampau buruk.* 

..... 

Sesuai dengan judulnya, inti dari novel ini adalah kisah tentang ayah. Tepatnya tentang kasih sayang seorang ayah kepada anaknya dan sebaliknya. Tentang betapa cara mengasuh dan mendidik seorang ayah sangat berpengaruh terhadap karakter anak yang diasuh dan dididiknya. Tentang betapa kasih sayang seorang ayah bisa sedemikian besar terhadap anaknya. Meskipun anak tersebut, bukanlah anak kandungnya. 

Bahkan karena saking besarnya, seorang ayah bisa beranjak gila tatkala si anak dipisahkan darinya. Iya. Gila dalam arti yang harafiah. Yang sampai tak kuasa mengurusi dirinya sendiri. Seperti halnya yang terjadi pada Sabari. 

Siapa Sabari? Tak lain dan tak bukan, dialah sang tokoh utama novel ini. Yang hidupnya penuh penderitaan akibat cinta yang bertepuk sebelah tangan. 

Alkisah, Sabari jatuh cinta secara gila-gilaan kepada Marlena. Sejak perjumpaan pertama mereka, tatkala sama-sama mengikuti ujian seleksi masuk SMA negeri. Meskipun sejak awal Marlena terang-terangan menolaknya, Sabari tak surut sedikit pun. Bahkan, Sabari bela-belain bekerja jadi tukang cetak batako di pabrik ayah Marlena. 

Upaya Sabari sekeras apa pun, rupanya tak bikin Marlena menengok sedikit pun. Akan tetapi, suatu peristiwa diturunkan-Nya sehingga menjadi penyebab berlangsungnya pernikahan Sabari dengan Marlena. Sebuah akhiran yang tampak manis 'kan? 

Sayang sekali pernikahan itu bukan penanda dimulainya babak kebahagiaan Sabari. Justru sebaliknya, itulah babak baru dari kegilaannya. Ketulusan cinta dan kesabaran Sabari tak berarti sama sekali bagi Marlena. 

Apa boleh buat? Hidup ini memang dipenuhi orang-orang yang kita inginkan, tetapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya. .... (hlm.162)

Pasca melahirkan bayi lelaki tampannya, Marlena tetap tak menganggap Sabari. Tatkala Sabari telaten sekali merawat dan mengasihi si bayi tampan, Marlena tetap tak peduli. Makin kerap pergi tanpa pamit selama berhari-hari. Malah akhirnya benar-benar tak pernah kembali. Yang menyambangi Sabari justru surat gugatan cerai darinya. 

Sabari masih lumayan stabil. Marlena memang meninggalkannya, tetapi si bayi tampan yang dipanggil Zorro itu telah menggantikan eksistensi sang ibunda. 

Lalu si bayi lelaki tampan direnggut dari kehidupan Sabari, saat beranjak batita. Mulai di titik kehidupan yang inilah Sabari limbung. Makin lama makin limbung. Rumah, warung kelontong, dan kambing-kambing peliharaannya tak terurus. Hingga akhirnya ia bangkrut, kehilangan semua harta benda, bahkan harapan. 

Kawan-kawannya prihatin. Semua orang yang mengenalnya pun prihatin. Kehidupan Sabari yang piawai berpuisi itu memburuk. Hanya rasa cintanya kepada Marlena dan Zorro yang lestari bagusnya. 

Iya. Sabari mulanya seorang pria malang yang ditolak cinta. Kemudian bebannya bertambah menjadi ayah yang malang. Malang sebab rasa kasih sayangnya yang besar kepada sang anak dihempaskan keras-keras oleh sang waktu, seiring dengan perampasan Zorro darinya oleh Marlena. 

Bagaimanakah ujung dari kisah tragis Sabari? Tenanglah, wahai para pembaca. Sabari pada akhirnya kembali mampu menemukan kewarasannya, kok. Apakah Marlena kemudian mencintainya dan mau kembali menjadi istrinya? Oh, tentu tidak sesinetron itu jalan ceritanya. 

Jangan lupa. Andrea Hirata, si penulis novel ini, selalu piawai merangkai jalinan cerita. Maka pembaca mesti piawai pula memahami cerita yang disajikannya. Diajak berpikir, menduga-duga, dan menarik kesimpulan sendiri demi mendapatkan cerita utuhnya. 

Dengan kata lain, untuk memahami novel ini tanpa bingung, kita sebagai pembaca mesti membacanya dengan cerdas. Mesti mampu menghubungkan peristiwa-peristiwa yang tampaknya tak saling berkaitan. Hmm. Penjelasanku ini bikin puyengkah? 

Aih, aih. Ketimbang malah bingung sebab membaca penjelasanku, lebih baik silakan langsung mencari novelnya saja deeeh. Namun, jangan lupa. Kalau sudah menemukannya ya dibaca. Mana bisa paham kalau tidak dibaca? Mana bisa tertawa-tawa dan mendapatkan inspirasi darinya kalau tidak dibaca? 

O, ya. Yang paling kusuka dari novel ini (dan dari karya Andrea Hirata lainnya) adalah caranya menuturkan penderitaan dan kesialan. Bagaimana caranya? Yakni dengan cara kocak. Bukan secara mendayu-dayu. Sungguh menarik 'kan?  Alhasil, diriku pun bisa ngakak so hard  menertawakan penderitaan dan kesialanku sendiri. Hahaha! 

SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku: 
AYAH Sebuah Novel

Penulis:
Andrea Hirata

Penerbit:
Bentang 

Tahun Terbit: 
Maret 2018 (cetakan ke-21)

Ukuran Buku:
14 x 20,5 cm

Tebal Buku:
xx + 412 hlm

ISBN:
978-602-291-102-9






Kamis, 02 Juli 2020

[Book Review] RED BROMELIA

Pada Selasa, 30 Juni 2020 lalu, resensiku atas novel Red Bromelia dimuat SKH Kedaulatan Rakyat. Alhamdulillah. Kali ini aku bagikan di sini supaya kalian yang bukan pembaca KR, bisa ikut membacanya. Baiklaaah. Selamat membaca.


Red Bromelia

Resensi Red Bromelia di KR 

 
Menikmati Cinta dan Luka dalam Red Bromelia
 Agustina Purwantini*

Red Bromelia adalah tanaman jenis nanas-nanasan. Tidak berbuah. Berbunga saja. Terus-menerus. Sebelum yang tua mati, pasti ada tunasnya. Regeneratif. Seperti tanaman abadi. Itulah sebabnya Red (Rahardian Eka Dharmayuwana) yang ahli tanaman, memanggil istri tercintanya dengan sebutan “Lia” (penggalan dari Bromelia). Mereka saling berjanji untuk selamanya sehati, sehidup semati.

Perjalanan waktu pun membuktikan, janji tersebut mereka tepati. Namun, tertepatinya dalam kondisi buruk. Mereka mengalami kecelakaan maut sehingga Lia keguguran, bahkan rahimnya harus diangkat. Namun dalam seminggu saja, ia ternyata sanggup recovery.

Sementara Red koma sekian lama. Dokter pun sempat memvonisnya 99% bakalan meninggal. Lia menolak kuat-kuat. Di telinga Red yang koma, ia berbisik menagih janji, “Red ... Bromelia ... sehati ... sehidup semati, Bromelia hidup. Red juga harus hidup. Bangun, Red!” (hlm 360)

Atas kuasa-Nya, Red akhirnya sadar dari koma. Namun, ia mengalami amnesia total. Lia pun telaten mendampinginya di rumah sakit untuk pemulihan. Ingatannya yang kosong, pelan-pelan diisi ulang oleh Lia. Dua tahun kemudian, lahirlah Red yang baru. Yang siap menjalani kehidupan secara normal. Bahkan tidak lama sekeluarnya dari rumah sakit, Red siap pula mempersunting Rossie, seorang model iklan sampo yang sedang naik daun.

Apa yang terjadi? Bagaimana halnya dengan Lia? Mengapa Red justru melukai hatinya, tepat setelah Lia membuktikan cinta dan kesetiaannya sebagai istri? Nah! Ini yang wajib Anda cari tahu dalam novel RED BROMELIA Janji Cinta Sejati.

Demikianlah adanya. Novel ini menyadarkan kita bahwa cinta dan luka adalah pasangan sejati. Di mana ada cinta, di situ ternyata mesti ada luka. Entah seberapa pun kadarnya. Apa boleh buat? “ ... Idealnya cinta yang besar untuk jiwa yang besar. Tapi nyatanya, jiwa yang besar selalu terluka. Lebih hebat dan parah dari yang sebelumnya.” (hlm 215)   

Teknik bercerita novel ini patut diacungi jempol. Judul babnya yang 90% selang-seling “Red”, “Berni”, “Red”, “Berni”, demikian seterusnya sampai nyaris akhir cerita, sungguh bikin kepo. Membuat pembaca terikat. Enggan berhenti membaca sebelum tuntas. Sebelum tahu siapa keduanya dan apa keterkaitan di antara mereka. Apa pula hubungannya dengan Lia (si Bromelia) dan Rossie. Good job!

SPESIFIKASI BUKU

Judul: 
RED BROMELIA Janji Cinta Sejati

Penulis: 
Rianti Marena 

Penerbit: 
Sheila Publisher

Tahun Terbit: 
Mei 2020 

Tebal: 
viii + 376 hlm

Ukuran: 
14 x 21 cm

ISBN: 
978-623-7122-71-5