Minggu, 10 Juli 2022
[Book Review] REPLY 1997
Kamis, 31 Maret 2022
[Book Review] Lukisan Langit
![]() |
| Dokpri |
BILA Anda mencari bacaan ringan sekadar pembunuh waktu, tanpa ekspektasi apa pun, boleh-boleh saja membaca buku ini. Hanya saja, saya tidak merekomendasikannya. Kalau merekomendasikannya, saya khawatir Anda bakalan protes begitu kelar membacanya.
Apa boleh buat? Saya tak bisa memaksakan diri untuk mengatakan bahwa novel ini menarik. Andai kata ada di antara Anda sekalian yang pernah membacanya dan berpendapat lain, tak jadi soal. Ini cuma perbedaan selera. Oke?
Mungkin semua bermula dari informasi yang terdapat pada Profil Penulis. Di situ disebutkan bahwa Agnes Davonar (sang novelis) adalah sebuah fenomena di dunia sastra Indonesia. Alhasil, seketika saya membayangkan bakalan menikmati sebuah novel yang spektakuler.
Faktanya? Ternyata saya ketinggian ekspektasi.
Akhir cerita Lukisan Langit memang sedikit tak terduga. Dimaksudkan sebagai kejutan agar menarik. Akan tetapi, saya merasa logika ceritanya agak dipaksakan demi mencapai kepentingan "akhir cerita yang tak terduga" itu.
***
Dikisahkan bahwa Rama beserta empat koleganya ditugaskan ke Palu sebagai dokter internship. Di kota tersebut Rama jatuh cinta berat pada sebuah lukisan berjudul "Lukisan Langit" dan sang pelukisnya sekaligus (Angel). Sampai-sampai Rama abai dengan telepon-telepon dari Agnes.
Saat penugasan usai, Rama pulang ke Jakarta. Yang ternyata hanya untuk memutuskan pertunangan dengan Agnes. Plus menanggalkan profesi dokter. Karena sesungguhnya, ia menjadi dokter demi mematuhi perintah sang ayah.
Kemudian Rama kembali ke Palu untuk dua tujuan, yaitu mengejar cinta Angel dan menjalani hidup sebagai seniman. Sesuai dengan panggilan hatinya.
Berhasilkah Rama? Jawabannya, setengah berhasil setengah gagal.
Rama berhasil menjadi pelukis dengan restu sang ayah dan sukses menggelar pameran tunggal di Rumah Lukisan. Tempat ia dahulu berkenalan dengan Angel.
Namun di sisi lain, ia gagal bersatu dengan Angel. Jangankan bersatu. Menjumpainya lagi pun tidak. Justru di ujung cerita, Rama kembali merajut cinta dengan Agnes.
Usut punya usut, Angel hanyalah sosok yang hadir dalam alam kehaluan Rama. Tidak nyata! Yang selama ini membalas surat-surat Rama untuk Angel ya Rama sendiri.
***
Kalau Angel bukan sosok nyata, lalu siapa yang liburan dengan Rama? Sementara saat liburan itu mereka menginap di satu tempat (tapi beda kamar) dan berkomunikasi dengan karyawan penginapan.
Bisa jadi Rama memang menghalu saja ketika di penginapan itu. Ia sebenarnya sendirian tanpa Angel. Hanya saja, reaksi karyawan penginapan tidak diekspose sebagai kunci petunjuk bahwa Rama cuma halu. Jadi pada akhir cerita, rasanya malah membingungkan pembaca.
Ah, sudahlah. Saya akhiri saja ulasan ini. Semoga Anda tidak bingung dengan penjelasan-penjelasan di dalamnya. Jangan lupa pula, Anda sekalian bebas untuk sependapat atau tidak sependapat dengan saya terkait novel Lukisan Langit ini. Feel free.
SPESIFIKASI BUKU
Judul Buku: Lukisan Langit
Penulis : Agnes Davonar
Editor : Khabib Mustakhfirul, Cicilia Heni
Desainer : Kartika Dewi
Penerbit : P.T. Kanisius Yogyakarta
Tahun Terbit: 2021
Tebal Buku : 160 hlm
Ukuran Buku: 12,5 x 19 cm
ISBN 978-979-21-6690-3
Kamis, 14 Oktober 2021
[Book Review] Ketika Sekuntum Sumanasa ...
![]() |
| Penampakan bukunya |
Ketebalan buku ini sedang-sedang saja. Tak begitu tipis, juga tak begitu tebal. Kalau ukurannya sih, sedikit lebih besar daripada buku pada umumnya.
Warna sampulnya kuning mencolok dengan desain yang bernuansa serius. Kesan serius kian kuat tatkala kita membaca judulnya. Terlebih ada label "saduran" segala.
Aha! Otak pun bersiap aktif mereka-reka, gerangan apa isi buku ini? Fiksikah? Nonfiksikah? Mengapa judulnya terasa tak kekinian?
Setelah membaca halaman "Sambutan" dan "Kata Pengantar", barulah saya paham sepenuhnya. Rupanya buku ini merupakan saduran dari sebuah kakawin yang berjudul Sumanasantaka (terjemahannya: Mati Karena Bunga Sumanasa) karya Mpu Monaguna.
Siapa Mpu Monaguna? Ia adalah seorang pujangga yang hidup pada masa Kerajaan Kediri (abad XIII).
O, ya. Kakawin adalah puisi-tembang berbahasa Jawa kuno. Jadi, bahasa asli yang dipergunakan Sumanasantaka pastilah bahasa Jawa kuno. Namun, sumber untuk keperluan penyaduran ini adalah terjemahan dan kajian atas Sumanasantaka yang dilakukan oleh P. Worsley, S. Supomo, dan M. Fletcher yang bekerja sama dengan T. H. Hunter.
Tentu saya tak akan membahas detil siapa nama-nama tersebut. Kali ini kita sebut sepintas lalu saja. Sekadar untuk menjelaskan asal muasal buku yang sedang kita ulas.
***
Jadi, dada siapa yang kejatuhan sekuntum sumanasa? Sesuai dengan judul bukunya, sudah pasti dada Dyah Harini. Melalui peristiwa itulah, ia kemudian terbebas dari kutukan sebagai manusia.
Iya. Sesungguhnya Dyah Harini memang bukan manusia biasa. Ia merupakan jelmaan bidadari. Bagaimana kronologinya hingga ia bisa dikutuk jadi manusia?
Begini ...
Suatu ketika Dewa Indra merasa cemas sebab perbawa batin Begawan Trna Windu yang sedang melakukan tapabrata mengganggu stabilitas kahyangan. Sang Raja Dewa itu over thinking. Ketakutan kalau Sang Begawan bermaksud merebut kekuasaannya.
Dewa Indra pun memutar otak untuk bisa menghentikan tapabrata Sang Begawan. Alhasil, diutuslah bidadari terjelita (Dyah Harini) untuk menggoda. Tentu tujuannya mengganggu agar tapabrata Begawan Trna Windu terhenti.
Akan tetapi, rencana licik Dewa Indra gagal total. Identitas asli dan "misi" Dyah Harini ketahuan. Sang Begawan murka dan mengutuk Dyah Harini agar tak bisa kembali ke kahyangan. Bidadari jelita itu pun memohon-mohon ampun.
Sang Begawan pada akhirnya bersedia mengampuni. Ia memberi jaminan bahwa Dyah Harini bakalan terbebas dari kutukan sebagai manusia kalau tertimpa bunga sumanasa. Dalam arti, ia bakalan meninggal dunia kalau kejatuhan bunga tersebut. Adapun meninggal dunia baginya = terbebas dari kutukan menjadi manusia.
Singkat cerita, kutukan berjalan sebagaimana adanya. Dyah Harini terlahir ke bumi sebagai putri Raja Widarbha. Namanya Putri Indumati. Ia menjadi kesayangan semua orang, terutama kesayangan kedua orang tua dan kakak lelakinya. Kecantikan yang berpadu dengan kepintaran plus minat besar pada puisi, valid menyebabkannya bisa memesona semua insan.
Ketika memilih jodohnya melalui sayembara pun, Putri Indumati memilih Pangeran Aja yang selain mahir berperang, ternyata mahir pula menggubah syair-syair indah bermakna.
Perlu diketahui, Pangeran Aja sebenarnya pasangan Dyah Harini (Putri Indumati) saat di kahyangan. Kelak pada akhir cerita dikisahkan bahwa sepeninggal sang istri yang wafat sebab tertimpa bunga sumanasa, Pangeran Aja baru mendapatkan informasi ini dari seorang maharesi utusan Begawan Wasistha.
Informasi tersebut lumayan meredam kedukaan Pangeran Aja. Mengapa? Sebab ia menjadi tahu kalau nanti bakalan bersatu lagi dengan sang istri di kahyangan. Ia hanya perlu menunggu. Tentu dalam rindu yang membelenggu.
Pada bab terakhir buku ini dikisahkan bahwa Pangeran Aja memutuskan menyusul sang istri 8 tahun kemudian. Iya. Memutuskan "menyusul" dengan cara menenggelamkan diri di sungai besar.
Bunuh diri? Begitulah dalam bahasa vulgarnya. Cara serupa juga ditempuh oleh ibunya dan ibu mertuanya, ketika suami masing-masing meninggal dunia.
Hmm. Tolong tak usah menghakimi para tokoh cerita ini sebagai manusia kurang beriman dan berkomentar bahwa mereka otomatis masuk neraka, ya. Ingatlah bahwa ini sebuah cerita yang dikisahkan dalam kakawin. Bukan berita terkini dari sebuah media massa.
Lagi pula, tak bijak rasanya kalau kita berkomentar nyinyir bin julid terhadap sebuah berita terkini untuk kasus serupa. Buat apa melakukan lambe turah begitu? Toh kita sama-sama manusia yang tak luput dari dosa.
Yup! Demikianlah adanya buku saduran ini. Memang dipenuhi adu syair di antara para tokoh ceritanya. Seolah-olah mengingatkan pembaca bahwa di era 4.0 jelang 5.0 ini puisi/syair masih punya eksistensi dan fungsi. Terkhusus yang berisi gagasan tentang kebijaksanaan dan pengetahuan. Terkhusus lagi jika kebijaksanaan dan pengetahuan itu masih relevan untuk zaman sekarang.
Sesungguhnya isi cerita buku ini relatif biasa saja. Tidak penuh kejutan. Demikian pula cara pengisahannya. Konvensional. Penuh semangat didaktis. Aroma kezadoelannya amat terasa. Terlebih happy ending dan happy ending-nya sudah dapat diduga pembaca.
Akan tetapi, buku saduran dari kakawin ini memiliki keistimewaan tersendiri. Tak lain dan tak bukan, keistimewaan yang dimaksudkan terletak pada "pemujaan"-nya terhadap puisi dan penyair.
Dalam "Kata Pengantar", Rh. Widada pun mengakui bahwa baginya buku ini istimewa. Apa alasannya? Karena menempatkan kepenyairan atau perpuisian sebagai sesuatu yang berharga. Sungguh menarik!
Namun selain menarik, saya dibuat heran bin gemas gara-gara banyak sekali salah ketik dalam buku ini. Sampai-sampai saya curiga bahwa sebelum naik cetak, draf naskah tidak disunting sama sekali.
Editornya ke mana? Tim pracetaknya ke mana? Apakah sebelum naik cetak tidak ada konfirmasi untuk cek ricek naskah dengan penyadurnya (penulisnya)?
Eman-eman alias sayang sekali. Naskah saduran yang berharga begini kok terkesan sekadar diterbitkan demi memenuhi syarat administrasi. Sementara penulisnya (penyadurnya) telah bekerja serius sekian lama. Mana berlindung di balik jargon keren "demi kemajuan literasi bangsa" pula. Hehehe ....
Yang parah, nama penulis tidak tercantum di halaman identitas buku. Yang tercantum di situ adalah nama "Nurhata". Siapakah dia? Entahlah.
O, ya. Buku ini tidak untuk diperjualbelikan. Jadi kalau ingin membacanya, kita bisa meminjamnya di perpustakaan. Tak usah khawatir, meminjamnya pun bisa pilih secara daring.
SPESIFIKASI BUKU
Judul Buku:
KETIKA SEKUNTUM SUMANASA JATUH DI DADANYA Kisah Pembebasan Dyah Harini (Saduran)
Penulis:
Rh. Widada
Penerbit:
Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas Press) Bekerja Sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Tahun Terbit:
2019
Tebal Buku:
viii + 106 hlm
Ukuran Buku:
16 x 23 cm
ISBN:
978-623-200-147-3
Kamis, 29 Juli 2021
[Book Review] Jangan Kautulis Obituari Cinta!
Gara-gara novel karya Ashadi Siregar yang berjudul Cintaku di Kampus Biru, yang kemudian difilmkan, UGM pun tenar dengan sebutan kampus biru. Berdasarkan sebutan itu, lalu banyak yang mengira gedung-gedung di UGM dominan dicat biru.
Duileee. Mengapa banyak yang berpikiran terlalu polos, ya? Biru yang dimaksudkan Ashadi Siregar tuh bukan merujuk pada warna cat gedung, melainkan pada birunya cinta.
Lalu, apa hubungannya dengan Jangan Kautulis Obituari Cinta! karya Rh. Widada ini?
Begini. Jangan Kautulis Obituari Cinta!, yang terbit puluhan tahun kemudian, seakan-akan menjadi antitesis dari Cintaku di Kampus Biru. Novel Jangan Kautulis Obituari Cinta! justru berkisah tentang "tak ada cinta di kampus biru". Tepatnya ketiadaan cinta di kampus biru bagi Kang Sujat (Gathot Sujati) dan Mei (Tyas Sumunar).
Siapakah mereka? Kang Sujat adalah mahasiswa abadi di jurusan Sastra Indonesia UGM. Ia tidak lulus-lulus sebab terlampau sibuk dengan kariernya sebagai wartawan/penulis dan aktivis mahasiswa pengkritik pamerintah.
Sementara Mei adalah yuniornya. Perkenalannya dengan Kang Sujat terjadi saat opspek. Kang Sujat menjadi panitia, Mei sebagai mahasiswa baru. Keduanya saling tertarik. Namun, semesta ternyata tak memberikan takdir bersatu selamanya kepada mereka.
Sesuai dengan keputusan keluarga besar, baru beberapa semester kuliah Mei sudah dinikahkan dengan seorang tentara bernama Herjoko. Herjoko adalah tetangga yang sekaligus saudara sepupunya.
Walaupun keputusan tersebut diambil berdasarkan kebejatan Herjoko terhadap Mei di masa silam, ketika Mei masih berusia ABG, sesungguhnya Mei tidak mau menikah dengan Herjoko. Pelecehan seksual yang dilakukan Herjoko masih membuatnya trauma meskipun telah berlalu bertahun-tahun.
Akan tetapi, apa boleh buat? Mei hanya bisa menurut. Ia terpaksa mengorbankan cintanya kepada Kang Sujat. Ketidakbahagiaan pun menjadi konsekuensinya. Terlebih di kemudian hari terbukti bahwa Herjoko bukanlah suami yang baik. Ia punya WIL.
Pada akhirnya Kang Sujat dianiaya Herjoko hingga terluka parah di bagian kepala. Sehari di rumah sakit, ia pun meninggal dunia.
Herjoko bukan mata gelap akibat terbakar cemburu gara-gara sang istri berselingkuh dengan Kang Sujat. Herjoko sebenarnya hanya menjalankan tugas dari sang atasan. Adapun sang atasan mendapatkan mandat untuk "menyelesaikan" wartawan vokal itu dari sang penguasa kabupaten.
Apes nian nasib Herjoko. Ketika tugas berat itu sukses, ia justru terhantui rasa bersalah sekian lama. Selalu mimpi buruk dikejar-kejar Mei yang menggendong mayat Kang Sujat.
Sudah begitu, orang-orang yang menjadi otak pembunuhan pun ramai-ramai cuci tangan. Herjoko ditumbalkan! Seorang diri ia menerima hukuman. Ia pun diskenariokan membunuh sebab terbakar api cemburu.
Jangan berpikiran bahwa novel ini semata-mata tentang kisah cinta tragis belaka. Justru kisah cinta tersebut sekadar alat untuk menyampaikan "amanat" yang lebih berat. Iya, sesungguhnya novel ini hendak mengingatkan pembaca mengenai masa-masa kelam sebelum terjadinya gerakan reformasi.
Kang Sujat adalah representasi kaum aktivis pengkritik pemerintahan orde baru. Ia sekaligus mewakili dua kelompok, yaitu kelompok mahasiswa dan jurnalis. Yang keduanya sama-sama berpotensi memperoleh ancaman untuk "diselesaikan".
Sejarah mencatat, banyak aktivis mahasiswa Yogyakarta yang ditangkap. Ada pula Udin, wartawan Bernas, yang dihabisi sebab tulisan-tulisan vokalnya yang menyenggol sang penguasa sebuah kabupaten. Tepatnya kabupaten tempat domisili Kang Sujat.
O, ya. Saya yakin sang novelis merujuk pada Udin untuk penokohan Kang Sujat. Demikian pula, seorang kakak tingkat jauh di Sastra Indonesia UGM bikin saya menyimpulkan bahwa sang novelis merujuk pula kepadanya untuk penggambaran fisik Kang Sujat.
Alhasil, baca Jangan Kautulis Obituari Cinta! membuat saya bernostalgia dengan kampus biru di Bulaksumur sana. Yeah, bernostalgia sembari cekikikan sebab nyaris susah membedakan Kang Sujat dengan kakak tingkat yang menjadi rujukannya. Hehehe ....
Seperti biasa, tulisan Rh. Widada memang seru dan keren. Meskipun secara global ceritanya serius, nuansa humornya tetap terasa. Jadi, kamu dan kamu wajib membaca novel ini.
O, ya. Satu hal yang tak kalah penting. Novel Jangan Kautulis Obituari Cinta! pun mengkritisi solusi salah kaprah yang kerap dilakukan terhadap persoalan pelecehan seksual.
Selama ini khalayak pada umumnya beropini bahwa urusan kelar jika korban pelecehan seksual dinikahkan dengan orang yang melecehkannya. Sementara faktanya, penyintas pelecehan sosial akan makin depresi kalau dinikahkan dengan pelaku pelecehan. Inilah yang terjadi pada Mei. Sungguh kasihan. Ibarat sudah jatuh malah tertimpa tangga.
| Penampakan Sampul Depan |
Judul Buku: Jangan Kautulis Obituari Cinta!
Penulis: Rh. Widada
Penerbit: Penerbit Gading
Tahun Terbit: Maret 2021
Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm
Tebal Buku: ix + 232 hlm
ISBN: 978-623-7177-71-5
Kamis, 04 Maret 2021
[Book Review] Titik Kalimat Cinta
DARI ilustrasi sampul depan dan judulnya, sudah dapat ditebak kalau buku ini berkisah perihal cinta. Yup! Memang demikianlah adanya. Buku ini merupakan novel remaja genre romantis-romantisan. Terlebih kemudian, ada pula ilustrasi-ilustrasi bernuansa merah jambu di beberapa halamannya.
Sejujurnya, andai kata tidak memperolehnya sebagai hadiah, kemungkinan besar saya tidak tahu bahwa di dunia ini pernah terbit sebuah novel remaja berjudul Titik Kalimat Cinta. Iya. Ketika PO novel Selamat Tinggal karya Tere Liye, saya dibonusi buku ini oleh penjualnya.
Jadi sampai di sini jelas, ya. Saya membacanya bukan sebab sok-sokan merasa ABG a.k.a remaja, melainkan berdasarkan pertimbangan "ada buku kok enggak dibaca". Eman-eman. Hahaha! Enggak mau rugi pokoknya.
| Salah satu ilustrasi bernuansa merah jambu |
| Coba tebak. Mengapa saya lingkari merah? |
Lalu, bagaimana ceritanya? Bagus atau tidak? Menurut saya, segalanya serba lumayan. Bagus tidak, buruk pun tidak. Standar. Datar. Penokohannya kurang kuat. Plotnya lurus belaka. Cenderung mudah ditebak jalan ceritanya.
Salah ketik tak mewarnai buku ini. Namun, salah menyebut nama tokoh justru terjadi. Contohnya begini. Mestinya yang melakukan suatu adegan adalah B. Akan tetapi, yang ditulis justru A.
Kemudian, masih terdapat uraian/penjelasan yang kurang masuk akal. Sebagaimana yang tampak pada foto ketiga, bagian yang saya lingkari merah. Mengapa Vania menitipkan kunci rumah kepada pembantunya?
Sesungguhnya kondisi demikian mengherankan. Apa penulis tidak membaca ulang naskahnya sebelum diserahkan ke penerbit? Apa penerbit (baca: editor) tidak cek ricek lagi sebelum naik cetak?
Yang paling bikin sedih, di halaman 19 ada sebuah kalimat yang beraroma body shamming. Inilah poin yang paling menjatuhkan apresiasi saya terhadap Titik Kalimat Cinta. Menyebabkan saya enggan merekomendasikannya kepada para remaja. Saya amat menyayangkan hal ini. Mari cermati kalimatnya.
....
Namun, Arga malah bertemu dengan seekor badak jawa. Bukan, bukan, tapi seorang wanita gemuk yang tengah berdiri di sampingnya, dengan tatapan sedikit menggoda.
....
See!
Bagaimana menurut kalian? Apakah saya berlebihan bila mengkritisi kalimat tersebut?
Yeah! Walaupun dalam dunia nyata boleh jadi banyak orang yang gemar body shamming dalam pikiran, bahkan diverbalkan, saya pikir tidaklah elok bila dituliskan dalam sebuah buku. Sekalipun fiksi, tetap saja novel merupakan salah satu media edukasi literasi. Tetap dapat berpengaruh kepada para pembacanya. Iya 'kan?
Ngomong-ngomong, siapa tokoh utama dalam novel ini? Namanya Arga. Adapun cerita bergulir dari kisah cintanya dengan Nadia, namun terpaksa kandas sebab Nadia memilih pergi. Lalu, Arga yang tetap mencintai Nadia berjumpa dengan Vania. Seiring waktu, keduanya pun menjalin hubungan istimewa. Selanjutnya, Nadia ingin kembali menjadi pacar Arga.
Bagaimana kesudahannya? Arga memilih balikan dengan Nadia atau lanjut dengan Vania? Rahasia, dong. Silakan cari sendiri novelnya, ya. Saya tak mau menjadi spoiler. Muehehehe ....
Baik. Sekian ulasan ini. Terlepas dari segala kekurangannya, saya tetap salut kepada sang penulis. Ketika buku ini terbit, usianya baru 19 tahun. Lumayan keren 'kan prestasi menulisnya? Namun tentunya, sang penulis masih perlu banyak belajar. Harapan saya, sekarang karyanya telah kian ciamik.
SPESIFIKASI BUKU
Judul Buku:
TITIK KALIMAT CINTA Ketika Hati Telah Memilih
Penulis:
Muggy Nugraha
Penerbit:
Sinar Kejora (Yogyakarta)
Tahun Terbit:
2013
Ukuran:
14 x 20 cm
Tebal:
180 hlm
ISBN:
978-602-7902-27-5
Kamis, 03 September 2020
[Book Review] AYAH Sebuah Novel
Kamis, 02 Juli 2020
[Book Review] RED BROMELIA
![]() |
| Red Bromelia |
![]() |
| Resensi Red Bromelia di KR |





