Kamis, 30 Desember 2021

[Book Review] ORA OBAH, ORA MAMAH

 

Dokpri

Selama ini dampak sosial ekonomi pandemi Covid-19 hanya dilihat dalam perspekstif umum. Amat jarang, bahkan mungkin nyaris tidak ada, yang melihatnya dalam perspektif gender. Sementara faktanya bila diperhatikan secara detil, kaum perempuan dan laki-laki menanggung dampak yang tak sama intensitasnya.

Apa boleh buat? Lagi-lagi kaum perempuanlah yang menanggung beban lebih berat daripada laki-laki. Secara sistemik diposisikan sebagai pihak yang lebih banyak mengalami kesulitan selama penanganan pandemi berlangsung.

Sudah pasti semua tak terlepas dari kondisi sebelumnya. Iya. Mau tak mau mesti diakui bahwa kehidupan perempuan pada umumnya pelik. Tanpa ada pandemi pun ketidakadilan dan diskriminasi terkait gender kerap terjadi. Alhasil ketika pandemi datang dan ternyata berkepanjangan, kepelikan itu kian bertambah.

Pendek kata terlepas dari segala macam teori dan penjabaran yang rumit-rumit, melalui buku ini saya menjadi tahu betapa perempuan terancam kesehatan reproduksinya, bahkan kesehatan mentalnya, selama pandemi berjalan.

Yup! Dari Ora Obah, Ora Mamah saya menjadi tahu bahwa di balik kebijakan lockdown yang mengharuskan orang-orang stay at home, bermunculan sederet persoalan baru. Terkhusus yang mesti dihadapi kaum perempuan.

Misalnya mereka yang punya anak usia sekolah, mendadak wajib menjadi guru bagi si buah hati yang bersekolah daring. Sepintas lalu memang terlihat simpel. Faktanya? Bisa sangat menguras emosi dan energi, dong.

Contoh lainnya menimpa perempuan yang berprofesi sebagai perawat. Demi menghemat APD, bila haid mesti bersiasat menggunakan pembalut baru sesaat sebelum on duty (sebelum mengenakan APD). Selanjutnya selama 8 jam, bahkan mungkin lebih, terpaksa tak berganti pembalut sederas apa pun darah haid yang keluar. Tentu saja kondisi demikian mengancam kesehatan reproduksi.

Mengetahui fakta tersebut saya bersyukur dan lega karena termasuk ke dalam golongan orang-orang yang taat prokes. Yang berarti telah ikut berusaha mencegah pertambahan pasien yang harus dirawat inap di rumah sakit. Nah. Minimal saya telah berupaya untuk memperingan beban kerja mereka toh? 

Terlepas dari segala kekurangannya (yang antara lain mengandung banyak salah ketik alis typo), buku ini menyadarkan kita bahwa krisis apa pun, termasuk krisis yang terjadi akibat pagebluk Covid-19, sesungguhnya selalu menimbulkan dampak yang berlainan bagi individu-individu yang mengalaminya.

Adapun besar kecilnya dampak yang dirasakan tergantung pada akses dan kendali sumber daya yang dimiliki tiap individu. Plus jenis kelamin alias gender.

Saya bersyukur berkesempatan membacanya. Sebab terbukti, buku ini sangat menambah wawasan kesadaran tentang perlunya kebijakan-kebijakan khusus terkait gender, demi mengatasi problema-problema yang hadir selama pandemi ini.

Lebih dari itu, saya pun sigap menghentikan perasaan menjadi orang tersengsara sedunia akibat pandemi Covid-19. 

Iya. Buku Ora Obah, Ora Mamah membuat saya tahu betapa banyak perempuan lain yang kondisinya beneran sengsara gara-gara Covid-19. Bukan sekadar merasa sengsara. Atau, lumayan sengsara seperti saya. 

 

Dokpri

 

SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku:
ORA OBAH, ORA MAMAH Studi Kasus Gender pada Sektor Informal di Masa Pandemi Covid-19

Penulis:
Dati Fatimah
Desintha Dwi Asriani
Aminatun Zubaedah
Mida Mardhiyyah

Foto Sampul:
Mida Mardhiyyah

Tata Letak dan Grafis:
Azis A Rifai

Penerbit:
Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Bekerja Sama dengan Kemenko PMK RI dan Srie Institute Yogyakarta

Tahun Terbit:
November 2020 (Cetakan ke-1)

Tebal Buku:
xviii + 102 hlm

Ukuran Buku:
17 x 25 cm

ISBN:
978-602-8866-28-6

16 komentar:

  1. Ulasan buku ini sederhana tapi kena, karena pesan tentang kerja keras dan gerak hidup disampaikan dengan bahasa yang membumi dan mudah dicerna

    BalasHapus
  2. Tak bisa dipungkiri, perempuan selalu berada dalam posisi sulit. Ketika sukses, keibuan dalam rumah tangganya dipertanyakan, di rumah saja? Tetap mendapatkan persalahan. Sebuah ulasan yg sederhana tapi mengena sekali.

    BalasHapus
  3. Ulasannya membuat saya sadar bahwa dampak pandemi tidak hanya soal angka atau kebijakan, tetapi juga terasa nyata dalam kehidupan perempuan — dari beban rumah tangga sampai risiko kesehatan yang jarang dibahas. Ini bikin buku tersebut terasa penting karena soal pengalaman manusiawi yang sering terlewatkan.

    BalasHapus
  4. Menarik ulasannya. Apalagi seputar covid 19 yang sangat meresahkan seluruh dunia. Hingga sekarang ini masih ada di beberapa negara saja.

    BalasHapus
  5. Buku yang bagus, mengulik bagaimana perempuan di sektor informal, harus terus berjuang dan beradaptasi di tengah kesulitan ekonomi untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan dasar.

    BalasHapus
  6. "Orang obah yen ORA mangan" sebuah ungkapan bahasa Jawa yang mendorong kita untuk selalu berusaha dan bekerja dengan tekun dan pantang menyerah.

    BalasHapus
  7. ulasan yang sangat menyentuh sisi kemanusiaan kita, Kak! Membaca poin tentang perawat yang harus menahan ganti pembalut demi hemat APD benar-benar membuat hati nyesek. Buku Ora Obah, Ora Mamah ini sepertinya sukses membuka mata bahwa "beban" pandemi memang tidak pernah terbagi rata, terutama bagi perempuan.
    Terima kasih sudah berbagi perspektif gender yang sering terlupakan ini. Tulisan Kakak mengingatkan saya untuk lebih banyak bersyukur dan berhenti mengeluh, karena di luar sana banyak perjuangan yang jauh lebih berat.

    BalasHapus
  8. Dibawa ke masa serba khawatir nih. Adanya ulasan buku Ora Obah Ora Mamah ni bikin kepikiran dan bersyukur kita bisa melewati masa pandemi yang menghebohkan dunia itu. Sehat sehat semuanya sehat sehat dunia

    BalasHapus
  9. Kok aku langsung klik tulisan judulnya Ora Obah Ora Mamah tuh maksud mamah itu ibu bukan ya. Entah dalam bayanganku kata mamah adalah hal itu. 🤭

    Dan bener sih, pas Covid tuh masa kelam bagi semua. Nggak kebayang banyak yg 'dirumahkan', industri sempat collaps dan lainnya. Bersyukur sudah melewati itu dan harapannya kita belajar dari apa yang sudah dilewati. ❤️❤️❤️

    BalasHapus
  10. Ini penulis bukunya orang-orang yg terdampak covid kah? Mmg banyak sekali cerita di saat pandemi itu terjadi.. Sy pribadi kehilangan teman dan kerabat di masa itu. Alhamdulillah yaa itu sudah berlalu. Semoga sehat² semuaa

    BalasHapus
  11. Beneerrr, tanpa pandemi juga udah dari sononya ketidakadilan dan diskriminasi gender merajalela. Ternyata melalui Ora Obah, Ora Mamah bikin kita makin miris sama kindisi perempuan gegara Covid. Nambah wawasan banget pastinya, jadi makin perlu ya kebijakan terkait gender.

    BalasHapus
  12. Pandemi tidak hanya tentang kesehatan fisik ya. Mental pun sangat terpengaruh. Menarik sekali membaca buku ini. Karena sepertinya tidak sekadar mengembalikan memori tentang masa pandemi. Tapi, supaya lebih peduli dengan kesehatan mental

    BalasHapus
  13. Kalo ingat pandemi rasanya duh....terkekang banget, ingat waktu itu suami juga harus isolasi, semoga hal seperti itu tak pernah terulang lagi. Takut dengan satu penyakit tapi rentan memunculkan penyakit lainnya...sedih sih baca sampai gak bisa ganti pembalut..

    BalasHapus
  14. Kayaknya buku ini masih relate dibaca di masa sekarang, di mana kondisi ekonomi negara ini sedang oleng. Banyak banget aku dapati ibuk2 yang nyambi jualan, menjajakan jualannya melalui sosmed.
    Usaha2 kecil jualan apapun bermunculan, tetapi cukup kuat menyanggah perekonomian walaupun ya sambil ngos2an.
    Bukunya menarik nih kyknya ya mbak karena berdasarkan pada kajian/ penelitian bukan sekadar ngarang.

    BalasHapus
  15. Judul bukunya cukup panjang sekali ya. Isinya beneran membuka paradigma dan bener adanya terdampak banget perempuan efek covid-19 dan kebayang gimana sulitnya jadi nakes perempuan kala itu, pun dengan para ibu mendadak jadi guru di rumah. Belum lagi di sektor ekonomi ya.

    Buku ORA OBAH, ORA MAMAH Studi Kasus Gender pada Sektor Informal di Masa Pandemi Covid-19, ternyata di tulis oleh empat orang. Menarik meski agak di sayangkan kenapa banyak typo huhuhu.

    BalasHapus
  16. Review ini sederhana tapi nendang, bikin aku sadar bahwa pandemi itu nggak cuma soal kesehatan, tapi juga soal beban hidup nyata.

    BalasHapus

Terima kasih telah sudi meninggalkan jejak komentar di sini.