Kamis, 08 Agustus 2019

[Book Review] Cinta Tanpa Syarat (2)

HALO ....

Waduh!  Rasanya sudah terlalu lama kuabaikan blog ini. Bukan sebab malas menulis, lho. Justru sebaliknya, terlalu banyak tugas menulis yang mesti kuselesaikan. Jadiii, diriku yang kalem (baca: lelet) merasa ngos-ngosan untuk sekalian mengurusi blog kece ini. Eh? Memang kece 'kan? Haha!

Alhamdulillah kali ini aku termotivasi untuk kembali. Tentu kembali untuk menggoreskan kata-kata di sini. Benar-benar kembali dan menulis di sini. Tak seperti hari-hari lalu yang sekadar wacana. Haha! 

Baik. Sebagai pemanasan, kali ini aku hendak kembali memperbincangkan buku inspiratif ini: Cinta Tanpa Syarat.





Sebelumnya aku telah mengulas buku tersebut di [Book Review] Cinta Tanpa Syarat. Di blog pribadiku ini. Istilahnya lokalan begitu, deh. Adapun sekarang aku ingin pamer ulasanku versi lain. Yakni versi yang dimuat Kedaulatan Rakyat. Yang terbit pada Minggu, 4 Agustus 2019.

Pamerku ini jangan disiriki melulu, ya. Selain berniat sombong (Hahaha!), aku sebenarnya ingin kalian mencermati perbedaan gaya ulasanku. Lihatlah. Meskipun objek yang diulas sama, kalau media tayangnya berbeda plus tujuan ulasannya sedikit berbeda, gaya menulisnya pun wajib berbeda. 

Sudahlah. Daripada prologku kian berbelit-belit, silakan langsung baca saja. Siapa tahu setelahnya nanti kalian termotivasi untuk menulis resensi juga.










Bahagia Bersama Anak Special Need

Oleh Agustina Purwantini

PERAN seorang ibu sangatlah dibutuhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan buah hatinya. Apalagi jika si buah hati tergolong sebagai special need, berkebutuhan khusus. Makin rumit kebutuhan khususnya, makin besar pula kadar kebutuhannya akan peran ibu. Namun, menjadi ibu dari anak berkebutuhan khusus tentu tak mudah. Butuh kekuatan mental dan keikhlasan yang jauh lebih besar, jika dibandingkan dengan menjadi ibu dari anak normal (well child). Sementara kekuatan mental dan keikhlasan tersebut tak serta-merta bisa dimiliki.

Begitulah kenyataannya. Keempat penulis buku ini pun butuh perjuangan berat untuk sampai di tahap menerima sepenuh hati. Tanpa menyalahkan Tuhan sedikit pun, atas takdir istimewa yang mereka jalani.

Dan rupanya, hati yang menerima adalah kunci. Seorang anak berkebutuhan khusus, sekalipun masih bayi merah, sudah punya kepekaan tinggi. Ia paham jika ada yang tak berkenan dengan kondisinya. Maka ketika orang yang tak berkenan itu mendekati atau menggendongnya, ia bakalan rewel sebab merasa tak nyaman. Hal ini seperti yang dialami oleh Bunda Rita Octavia.

..... Mungkin karena saya belum ikhlas menerimanya, anak saya tidak mau saya gendong. Semalaman rewel terus. Minum ASI juga tidak mau. Semalaman Shelyta digendong terus oleh papanya. Dia lebih nyaman sama papanya ketimbang dengan saya. (hlm 44)

Barulah ketika Bunda Rita memutuskan untuk legawa menerimanya, Shelyta mau digendong. Bahkan, sang bunda tak sekadar berusaha untuk ikhlas. Beliau juga meminta maaf pada bayi istimewanya itu.

Buku ini sungguh syahdu. Menimbulkan rasa haru sekaligus kembali menyadarkan bahwa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya absolut. Betul-betul tanpa syarat. Bagaimanapun kondisi sang anak. Baik special need maupun well child.

Sekali lagi, memang tak mudah untuk menjadi ibu dari anak berkebutuhan khusus. Menuju titik ikhlas saja butuh proses tak sebentar. Apalagi kalau pakai acara direcoki oleh komentar-komentar sadis dari mereka yang berlisan ringan. Yang sebenarnya tak paham mengenai anak berkebutuhan khusus. Dan sesungguhnya, bagian tersulit dari proses ikhlas justru dalam hal menghadapi “apa kata orang”.  

Kisah yang terangkum dalam buku ini sungguh menginspirasi dan memotivasi. Terlebih bagi para orang tua yang juga punya anak berkebutuhan khusus. Betapa tidak? Dengan cara masing-masing, para penulis menunjukkan pada dunia bahwa anak berkebutuhan khusus pun dapat mendatangkan kebahagiaan dan rasa syukur yang membuncah.

.... Bahagia mengetahui ada aku di balik senyum dan tawamu/Kau menghebatkanku, kau yang menguatkanku/Terima kasih telah hadir dalam hidupku .... (hlm 130)

Sementara bagi orang tua dari well child, buku ini dapat menjadi pengingat. Yakni pengingat untuk mendidik sang anak agar tak memandang rendah kawannya yang berkebutuhan khusus. Atau, menganggap orang tua anak berkebutuhan khusus sebagai sosok yang selalu diliputi kesedihan. ***



SPESIFIKASI BUKU

Judul Buku: 
CINTA TANPA SYARAT Kado untuk Ibu dengan Anak Istimewa

Penulis: 
Diazwara Anjani
Rita Octavia 
Elsie Nitria 
Kartika Nugmalia

Penerbit: 
Shira Media, Yogyakarta

Tahun Terbit: 
2019 (Cetakan Pertama)

Tebal Buku: 
xii + 180 hlm

Ukuran Buku: 1
3 x 19 cm

ISBN: 
978-602-5921-17-9



 

2 komentar:

  1. iya juga yah mba, kadang kita suka salah menempatkan iba kita. padahal keluarga dgn anak berkebutuhan khusus punya cerita suka dan gembira juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betttul, Bang. Dan... Mereka enggak butuh rasa iba kita sebetulnya.

      Hapus

Terima kasih telah sudi meninggalkan jejak komentar di sini.