Kamis, 25 Februari 2021

[Book Review] RIJSTTAFEL



 
APA itu rijsttafel? Secara harfiah, rijsttafel--yang merupakan istilah dalam bahasa Belanda--berarti 'meja nasi'. Rijst berarti 'beras atau nasi' dan tafel berarti 'meja'.
 
Tentunya berdasarkan pemaknaan harfiah tersebut, kita dapat seketika mengimajinasikan bahwa rijsttafel berkaitan erat dengan meja dan nasi. Tepatnya nasi yang dihidangkan di meja.
 
Memang demikianlah adanya. Rijsttafel merupakan hidangan nasi beserta aneka lauk dan berbagai sayur yang disajikan dalam satu meja. 
 
Sesuai dengan namanya, hidangan utama dalam rijsttafel adalah nasi. Adapun aneka lauk dan sayur merupakan hidangan tambahannya. Sementara buah, kue, dan es dari lemak susu menjadi pencuci mulut alias hidangan penutup. Silakan cermati tabel dalam gambar berikut.  
 
 

 
Mengapa hidangan berbasis nasi disajikan ala Eropa? Sedemikian detil pula pengaturannya. Sementara nasi bukanlah makanan pokok bangsa Eropa.
 
Begini. Rijsttafel sesungguhnya merupakan budaya Indis, yaitu perpaduan antara budaya Eropa dan Jawa. Sebuah akulturasi dalam bidang makanan. Yang kemudian oleh para pengusung budaya Indis, rijsttafel dipoles sedemikian rupa hingga tak lagi menjadi urusan biologis semata. 
 
Demikianlah adanya. Rijsttafel berkembang menjadi suatu gaya hidup bergengsi dalam lingkup masyarakat kolonial. Dijadikan sebagai aktivitas yang mencerminkan status sosial dan kekayaan seseorang (yakni orang yang menyelenggarakannya).
 
Faktanya, rijsttafel memang lebih bernuansa perjamuan pesta ketimbang acara makan biasa sehari-hari. Jumlah dan jenis makanan dalam rijsttafel banyak. Peralatan makan yang dipergunakan banyak. Jumlah pelayannya pun banyak. Cenderung berlebihan dan kurang cocok dengan budaya makan pribumi.
 
Kiranya pelayan yang banyak itu, selain terkait dengan prestise bahwa si penyelenggara rijsttafel kaya raya, bersifat fungsional juga. Makin banyak varian menu, tentunya makin membutuhkan banyak pelayan. 
 
Perlu diketahui bahwa rijsttafel bukanlah prasmanan. Kalau prasmanan kita mengambil sendiri makanan yang kita inginkan. Sementara dalam rijsttafel, kita tinggal duduk manis. Pelayanlah yang menghampiri kita. Membawakan makanan sesuai dengan urutan. Andai kata ada satu menu yang kita doyanin banget, tinggal memanggil pelayan untuk menambahkannya ke piring kita.
 
Maka terkait penggunaan jumlah pelayan dan pelayanan yang terlalu mewah, rijsttafel sebenarnya sarat dengan diskriminasi. Tepatnya diskriminasi sosial budaya.
 
Uraian tentang rijsttafel dalam buku ini lumayan komprehensif. Membuat pembaca tahu awal kemunculan dan dinamika perkembangan rijsttafel. Bahkan hingga puncak keviralan dan keruntuhannya,  seiring dengan berakhirnya kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Hindia Belanda (Nusantara). 
 
Bagi saya, buku ini pun menimbulkan antusiasme tersendiri. Mengapa? Sebab di dalamnya saya temukan informasi tentang perkedel, yakni salah satu makanan favorit saya, yang ternyata bernama asli fricandeau, frikadel. 
 
Hmm. Berarti saya telah salah sangka selama puluhan tahun. Perkedel yang saya kira murni bertumpah darah Indonesia, ternyata bukan makanan lokal. 
 
Selain perkedel, tentu masih ada beberapa makanan lain yang disalahpahami asal-usulnya oleh khalayak. Apa sajakah itu? Baca langsung di bukunya, dong. Hehehehe ....  
 
Percayalah. Langsung membaca bukunya jauh lebih asyik ketimbang sekadar membaca ulasan ini. Dijamin tambah seru sebab di beberapa halamannya dimuat gambar-gambar. Dua di antaranya seperti yang tampak di bawah ini. 
 

 

 
Gambar atas memperlihatkan sebuah iklan bir yang dimuat di majalah Officiel Huisvrouwen Soerabaia (23 Juni 1931). Merk birnya Heineken's. Isi promosinya menyatakan bahwa bir Heineken's sangat cocok sebagai pendamping makan nasi dan sate. 
 
Orang-orang Belanda memang terbiasa mengonsumsi bir dingin seusai menikmati rijsttafel. Istilahnya sebagai pelarut nasi. Alhasil, iklan bir serupa itu lazim adanya. 
 
Gambar bawah memperlihatkan sebuah iklan yang dikeluarkan oleh Restoran de Byenkorf (Rotterdam). Restoran tersebut mempromosikan menu Indische Rijsttafel yang dijualnya dan kursus memasak hidangan Indis yang diselenggarakannya. 
 
 
 



Pendek kata, saya merasa amat beruntung berkesempatan membaca buku ini. Pengetahuan saya mengenai makanan dalam bingkai sejarah menjadi kian komplet. Minimal saya jadi tahu bahwa santan instan ternyata sudah diproduksi semasa keviralan rijsttafel berlangsung. Canggih 'kan?   
 
Iya. Saya suka sekali buku ini. Tidak terlalu tebal, tetapi sungguh kerad. Memberikan banyak informasi penting terkait budaya kuliner di Hindia Belanda, terkhusus Jawa, semasa kolonial (1870-1942).  
 
Menariknya, ada lampiran-lampiran yang berisi nama bahan-bahan masakan dan menu-menu dalam rijsttafel. Semua ditulis dengan ejaan lama dan mayoritas dilengkapi dengan istilah dalam bahasa Belandanya. Misalnya kentjoor (kencur) dan laos yang ternyata sama-sama disebut wortelsoort dalam bahasa Belanda; tahoe (tahu) yang nama Belandanya koeken van katjang idjoe.

Dengan demikian secara tak langsung, pembaca bisa sekalian mengenal bahasa Belanda. Terkhusus kosakata terkait kuliner. Memang menarik 'kan? 
 
Jika ada hal yang perlu disesalkan, itulah resep-resep aneka sambalnya yang full ditulis dalam bahasa Belanda. Bagi yang paham pastilah tak jadi soal. Bisa menconteknya untuk dipraktikkan. Sementara pembaca seperti saya, yang tak paham bahasa Belanda, tentulah hanya bisa merasa terharu tatkala mencoba membacanya.  
 
 


 
Hmm. Selalu menyenangkan membaca buku tentang kuliner. Rasanya jadi terinspirasi untuk makan, deh. Maksudnya kian terinspirasi dan tersemangati. Lhawong tanpa membaca buku tentang kuliner pun saya sudah tersemangati untuk makan, kok. Idem dengan Anda sekalian 'kan? Hehehe ....
 
SPESIFIKASI BUKU 
 
Judul: 
RIJSTTAFEL Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942
 
Penulis: 
Fadly Rahman
 
Penerbit: 
GPU
 
Tahun Terbit: 
2016
 
Ukuran Buku: 
15 x 23 cm
 
Tebal Buku: 
xii + 152 hlm
 
ISBN: 
978-602-03-3603-9
 
 
 
 



4 komentar:

  1. malah jadi kepikirian wastafel:
    was(h) =cuci
    tafel = meja

    eh itu cocokologi ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheheh .... mungkin memang cocoklogi, namun bisa jadi benar adanya.

      Hapus
  2. aku sih tipe penikmat, buat kreator. hehe
    btw sampe skrg masih penasaran, kita dijajah ratusan tahun oleh Belanda. tapi kok mbah2ku gda yg bs bhs belanda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, idem banget klo soal mbah yang tak bisa berbahasa Belanda. Sebab penjajah Belanda ini perangainya beda dengan penjajah Inggris. Klo penjajah Belanda pelit transfer ilmu kan ya hihihi....

      Hapus

Terima kasih telah sudi meninggalkan jejak komentar di sini.