Kamis, 18 Juni 2020

[Book Review] MAKAN SIANG OKTA



AKU salah sangka. Semula kukira buku ini easy going sekali. Simpel. Sederhana. Lugas. Selugas judulnya: Makan Siang Okta

Ternyata. Oh, rupanya. Isinya tidaklah selugas yang kukira. Tidak mudah diraba jalan ceritanya. Susah diprediksi ending-nya. Hingga tuntas kubaca, barulah pemahaman atasnya tergenggam. 

Yup! Siapa pun yang membaca novel ini pastilah bakalan mengalami hal yang sama denganku. Begitu mulai membacanya, merasa enggan berhenti sebab penasaran. 

Bagaimana mungkin tidak penasaran? Cerita bergulir amat pelan dalam novel ini. Keingintahuan pembaca tentang Okta dan makan siangnya tak kunjung tertuntaskan. 

Sedikit pun tidak ada petunjuk yang bisa dipergunakan untuk menduga, ke arah mana cerita akan bergulir. Gelap. Jadi, sama sekali tak punya bayangan mengenai akhir ceritanya. 

O, ya. Kupikir justru di situlah letak tantangannya. Perguliran yang pelan tersebut cenderung membosankan. 

Maka kalian yang tidak sabaran, bisa jadi akan mundur alon-alon. Bosan. Merasa geram sebab terombang-ambing alur cerita. 

Yeah? Sudahlah terombang-ambing oleh cinta di dunia nyata. Masak ya harus terombang-ambing juga oleh cerita novel. Muehehehe .... 

Bayangkanlah saja. Sejak halaman 1- halaman 49, adegan intinya satu saja: aku menunggu Okta menghabiskan makan siangnya

Selama itu pula, kalimat-kalimat pembangun cerita berupa monolog dari tokoh aku. Tepatnya monolog tentang diri Okta dari sudut pandang aku. 

Berdasarkan narasi panjang yang acap kali terasa melelahkan dan bikin sesak napas, kuketahui bahwa tokoh aku adalah seorang anak lelaki. Ia bersekolah di SD yang sama dengan Okta. 

Mereka sekelas, tetapi tak pernah saling bertegur sapa. Selain faktor tempat duduk yang berjauhan, tampaknya dalam hal ini faktor rasa malu yang lebih berpengaruh. 

Biasa 'kan? Anak-anak SD cenderung masih saling malu dalam pergaulan cowok-cewek. Lalu, mengapa siang itu aku ke rumah Okta? 

Nah!  Itulah yang dengan cerdik dinarasikan panjang lebar oleh sang penulis. Tepatnya dinarasikan melalui sudut pandang anak laki-laki usia 10 tahunan. 

Keren 'kan? Sementara penulisnya berusia dewasa. Di mana letak kerennya? Hmm. Di mana lagi kalau bukan pada kekonsistenan si penulis, untuk bertahan dengan sudut pandang seorang bocah? 

Pokoknya rapi jali menulisnya. Tak pernah mendadak terpeleset dengan sudut pandang pribadi sebagai orang dewasa. Sulit lho, melakukan kekonsistenan serupa itu. 

Alhasil, pembaca di sepanjang halaman buku serasa berada di dalam pikiran si aku. Si bocah lelaki usia SD itu. Yang baru di halaman 133 kuketahui namanya, yaitu Tendy Wijaya. 

Yang akhirnya pula baru kuketahui di halaman 164, motifnya berkunjung ke rumah Okta adalah cinta.  Cinta monyet tentunya. Muehehe .... Ternyata, oh, rupanya. 

O, ya. Buku ini dilabeli U15+. Berarti target pembacanya adalah orang-orang berusia 15 tahun ke atas. 

SPESIFIKASI BUKU 

Judul Buku: 
Makan Siang Okta 

Penulis: 
Nurul Hanafi 

Penerbit: 
Shira Media 

Tahun Terbit: 
2019  (Cetakan ke-1) 

Ukuran Buku: 
13 x 19 cm 

Tebal: 
vi + 170 hlm 

ISBN: 
978-602-5868-51-1









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah sudi meninggalkan jejak komentar di sini.